Memercayai Belahan Jiwa Adalah Takdir Justru Bikin Hubungan Kandas

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:13:02 WIB
Ilustrasi pasangan.

JAKARTA - Kebiasaan mendengarkan lagu romantis, menyimak saran pakar asmara, hingga membaca novel fiksi sering kali menuntun seseorang pada pemahaman bahwa menjumpai belahan jiwa merupakan suratan takdir.

Bahkan tidak sedikit yang sengaja menantikan sinyal khusus, layaknya munculnya pertanda alam atau kembang api, guna memastikan bahwa orang tersebut merupakan pendamping yang tepat.

"Namun, bagi kamu yang masih mencari keberadaan sosok tersebut, pencarian ini bisa jadi hanyalah misi yang keliru," kata profesor madya di program studi Social Psychology / Relationship Science, Deakin University, Gery Karantzas, dalam tulisannya di The Conversation, dikutip pada Minggu (30/8/2026).

Eksplorasi ilmiah seputar dinamika percintaan selama dua dekade terakhir justru membeberkan fakta sebaliknya.

Memelihara keyakinan bahwa ada satu figur sempurna di dunia yang sudah ditakdirkan melengkapi hidup ternyata menyimpan potensi bahaya serius bagi keharmonisan.

Karantzas memaparkan bahwa cara pandang berorientasi takdir (destiny mindset) memegang peranan besar dalam membentuk penilaian seseorang terhadap pendampingnya, sekaligus menentukan sejauh mana relasi dapat bertahan lama.

Sisi gelap "destiny mindset" yang bikin hubungan rentan kandas

Jebakan ekspektasi sempurna

Bagi sebagian orang, memercayai takdir cinta kerap memicu terbentuknya ekspektasi yang terlampau spesifik mengenai kriteria fisik dan kepribadian pasangan di masa depan.

Sayangnya, pemikiran yang kaku seperti ini membawa dampak negatif yang signifikan.

Individu yang memegang teguh konsep takdir cenderung enggan membuka hati kepada calon pasangan yang sejatinya menyimpan beragam potensi luar biasa.

Peluang emas dalam urusan asmara sering kali diabaikan begitu saja hanya karena figur tersebut tidak sepenuhnya memenuhi gambaran ideal yang ada di benak mereka.

Di samping itu, mereka bakal lebih cepat berfokus pada kekurangan kecil sang pasangan. Ketimbang mengapresiasi kebaikan yang ada, perhatian mereka justru terdistraksi oleh bayangan sosok sempurna yang fiktif.

Bahkan, tidak sedikit yang dengan sengaja mengacuhkan ketertarikan nyata karena terus mendambakan kedatangan sosok lain yang lebih pas dengan gambaran takdirnya. Hal ini tanpa disadari membuang kesempatan untuk merajut kasih secara riil.

Malas berusaha dan cepat pasrah

Bagi mereka yang sudah memiliki pasangan, pola pikir ini mungkin terasa menenangkan tatkala performa sang kekasih berada pada kondisi puncaknya.

Akan tetapi, Karantzas menggarisbawahi bahwa saat jalinan asmara tersebut mulai diterpa realitas yang melenceng dari skenario idealnya, rasa kecewa bakal dengan cepat mendominasi.

Temuan riset mengindikasikan bahwa para penganut takdir cenderung malas mengalokasikan energi untuk membenahi keretakan hubungan. Respon ini muncul sebagai akibat dari pandangan kaku mereka terhadap dinamika berpasangan.

Alih-alih mengupayakan solusi atas masalah yang timbul, mereka lebih memilih angkat tangan. Ada anggapan kaku bahwa hubungan yang cocok bakal berjalan mulus dengan sendirinya, sementara relasi yang bermasalah memang sudah ditakdirkan untuk berakhir tanpa perlu diperjuangkan.

Membangun "growth mindset" dalam percintaan

Kunci hadapi konflik lebih konstruktif

Langkah alternatif yang jauh lebih menyehatkan adalah dengan mengadopsi pola pikir hubungan yang berkembang (growth mindset).

Prinsip ini berlandaskan pada pemahaman bahwa pasangan serta hubungan yang dijalani memiliki kapasitas untuk terus dibenahi dan bertumbuh dari waktu ke waktu. Keyakinan bahwa tiap rintangan dapat diselesaikan bersama pun bakal terbangun lebih kuat.

Karantzas membeberkan, deretan penelitian mengonfirmasi bahwa pola pikir berkembang berkolerasi erat dengan tingkat daya adaptasi yang lebih prima.

Seseorang bakal lebih adaptif dalam menghadapi ujian percintaan serta lebih terampil dalam mengaplikasikan metode penyelesaian konflik.

Para pemilik sudut pandang yang fleksibel ini juga memetik berbagai dampak positif, seperti tingginya derajat kepuasan relasi hingga keintiman emosional dan seksual yang lebih mendalam.

Lantaran mengedepankan pendekatan konstruktif tatkala berselisih paham, risiko berakhirnya hubungan pun dapat ditekan secara maksimal.

Menjaga kepuasan jangka panjang

Lantas, mungkinkah seseorang mengombinasikan kedua pola pikir tersebut sekaligus?

Karantzas mengutarakan, banyak pasangan mengaku merasa langsung menemukan sosok yang tepat sejak awal perkenalan. Meski begitu, sewaktu menceritakan rahasia di balik ketahanan hubungan mereka, nampak jelas besarnya komitmen serta usaha yang telah diinvestasikan secara konsisten.

Mereka tidak semata-mata bertumpu pada getaran cinta di awal kencan, melainkan terus aktif menyelesaikan tiap gesekan yang timbul. Individu dalam kelompok ini boleh jadi memulainya dengan keyakinan akan takdir.

Namun pada akhirnya, mereka lebih mendominasi interaksi lewat pola pikir berkembang demi menjaga relasi tetap harmonis. Pasangan tipe ini menyadari betul transformasi diri masing-masing serta mengapresiasi proses saling mendewasakan.

Dengan demikian, manakala kamu dan pasangan berikrar untuk bekerja keras menjaga keutuhan serta saling mendorong ke arah positif, pemahaman satu sama lain akan terbentuk amat mendalam.

Pada level itulah muncul sensasi seolah-olah kalian telah menyatu dalam satu jiwa. Dan bisa jadi, itulah makna sejati dari istilah belahan jiwa.

Terkini