JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) menargetkan eksekusi sekuritisasi kredit pemilikan rumah (KPR) bersama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF dengan potensi nilai berkisar Rp300 miliar hingga Rp500 miliar.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu di sela-sela agenda Penyerahan 30 Sertifikat Hak Milik Rumah Cahaya kepada Pahlawan Terlupakan di Menara 2 BTN, Jakarta Selatan, Senin (31/8/2026).
“Size-nya engga gede, sekitar Rp300 miliar–500 miliar,” kata Nixon, dikutip pada Selasa (1/9/2026).
Di samping aksi sekuritisasi KPR, pihak perseroan juga sedang mematangkan agenda penerbitan obligasi subordinasi atau subdebt. Nixon menaruh harapan agar kedua langkah korporasi tersebut dapat dirampungkan pada penghujung tahun ini.
“Mungkin akhir tahun juga,” ujarnya.
Rencana sinergi tersebut sebelumnya sempat dipaparkan oleh Nixon dalam gelaran Konferensi Pers Paparan Kinerja Semester I/2026 pada Juli 2026.
Kala itu, pimpinan puncak BTN ini menyatakan sedang melakukan penjajakan kerja sama strategis dengan menggandeng SMF, mencakup skema sekuritisasi hingga opsi pembelian obligasi.
“Itu sedang kami bahas, tapi saya minta bonds-nya tier-2 capital itu kalau jadi akan kami lakukan di semester II/2026,” ujarnya.
Di lain pihak, BTN pada periode September 2026 berencana merilis instrumen surat utang berdenominasi rupiah dengan raihan target dana yang dibidik mencapai sekitar Rp2 triliun.
Meski demikian, manajemen masih akan mengalibrasi dinamika kondisi pasar dan siap mengumumkan jumlah pastinya dalam tenggat waktu dekat.
“Kisarannya kami masih lihat pasar, tapi dalam waktu dekat kami akan mengumumkan bond kami mau berapa. Targetnya sih Rp2 triliun aja,” ungkap Nixon.
Nixon tidak membeberkan secara mendetail mengenai jenis instrumen obligasi yang siap diterbitkan oleh BTN.
Walau begitu, ia menggarisbawahi bahwa obligasi ini bukan bagian dari skema kerja sama bersama SMF ataupun penerbitan global bond.
Ia menjelaskan bahwa BTN memutuskan untuk tidak melepas global bond lantaran pihak perseroan saat ini fokus memenuhi kebutuhan likuiditas berbasis mata uang rupiah.
“Global bonds memang kami enggak perlu karena kurs kan kayak begini, sementara kami butuhnya buat rupiah,” pungkasnya.