Premi Asuransi Kendaraan Capai Rp10,69 Triliun pada Semester I 2026

Selasa, 01 September 2026 | 02:49:31 WIB
Ilustrasi Asuransi Kendaraan.

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membukukan raihan premi lini usaha kendaraan bermotor yang menembus angka Rp10,69 triliun, atau tumbuh sebesar 5,14 persen (year on year/YoY) pada kurun semester I/2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono memaparkan bahwa nilai klaim yang dibayarkan berada di angka Rp3,91 triliun alias tumbuh 1,89 persen YoY.

Menurut penjelasannya, performa kinerja pada sektor tersebut secara umum masih berada di jalur yang positif.

“Ke depan, OJK mendorong perusahaan untuk memperkuat kerja sama dengan industri otomotif dan lembaga pembiayaan, mengoptimalkan kanal distribusi digital, serta mengembangkan produk yang sesuai kebutuhan masyarakat,” ucapnya dalam lembar jawaban RDK OJK Juli 2026, Selasa (1/9/2026).

Ogi menambahkan, guna terus mengerek perolehan premi asuransi kendaraan bermotor, dari aspek tarif, pihak perusahaan dinilai masih mengantongi ruang untuk mengeksekusi penyesuaian yang berpatokan pada profil risiko serta kondisi bisnis, selama tetap dalam koridor batas yang sudah ditetapkan.

Di lain sisi, lanjutnya, jajaran perusahaan wajib menggenjot kualitas underwriting, menekan efisiensi biaya akuisisi, serta mengoptimalkan efektivitas kanal distribusi maupun penanganan klaim, agar pertumbuhan roda bisnis tetap berjalan sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memprediksi bahwa lini asuransi kendaraan bermotor bakal konsisten menjadi salah satu pilar penyumbang utama premi di industri asuransi umum sepanjang 2026.

Walau begitu, Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai pergerakan pertumbuhannya berpeluang berada di level moderat dan sangat bergantung pada momentum pemulihan sektor otomotif serta daya beli masyarakat.

“Jika kondisi ekonomi lebih stabil dan penjualan kendaraan kembali meningkat, maka lini ini berpotensi kembali tumbuh positif,” ucapnya kepada Bisnis.

Kendati demikian, Budi memberi catatan agar tiap perusahaan terus memelihara keseimbangan antara langkah ekspansi dan mutu risiko demi menjaga kinerja underwriting tetap dalam kondisi sehat.

Terkini