PTBA Raih Laba Rp2,65 Triliun Didorong Pemulihan Operasional di 2026

Selasa, 01 September 2026 | 03:00:31 WIB
Pekerja meninjau tambang batu bara milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

JAKARTA - Emiten batu bara pelat merah, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,65 triliun pada semester I/2026.

Performa kinerja tersebut ditopang oleh pemulihan operasional pada kuartal II/2026 serta penguatan harga jual rata-rata batu bara.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menjelaskan bahwa kondisi operasional yang kian kondusif mendorong perseroan memulihkan volume produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.

“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” kata Bambang dalam pernyataan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Menurut penjelasannya, momentum penguatan harga batu bara global dimanfaatkan secara optimal lewat penerapan strategi penjualan yang adaptif.

Langkah tersebut dibarengi dengan program efisiensi yang dinilai sanggup menjaga disiplin biaya di tengah berbagai tantangan operasional.

PTBA turut membukukan pendapatan usaha senilai Rp22,03 triliun hingga Juni 2026, atau melonjak 8 persen secara tahunan.

Peningkatan pendapatan tersebut terealisasi kendati volume penjualan mengalami penurunan 2 persen YoY.

Perseroan terbantu oleh penguatan harga batu bara, yang tercermin dari kenaikan Newcastle Index sebesar 25 persen YoY dan ICI-3 yang meningkat 15 persen YoY.

Kondisi tersebut mendorong harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) PTBA terangkat naik 10 persen YoY.

Dari aspek pangsa pasar, penjualan domestik menyumbang sekitar 51 persen dari total penjualan, sedangkan porsi ekspor mencapai 49 persen.

Adapun lima negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar PTBA mencakup Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan berhasil ditekan turun 2 persen YoY menjadi Rp17,78 triliun.

Penurunan tersebut berjalan seiring dengan melandainya volume produksi beserta transportasi angkutan.

Produksi batu bara PTBA pada semester I/2026 tercatat terkoreksi 10 persen YoY, sementara volume angkutan mengalami penurunan 6 persen.

Nilai stripping ratio juga susut menjadi 5,26 kali dari yang sebelumnya 6,17 kali pada periode yang sama tahun lalu.

Tekanan pada komponen biaya masih terus membayangi kinerja PTBA.

Eskalasi konflik di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 mendorong lonjakan harga BBM hingga menyentuh Rp19.503 per liter per 30 Juni 2026, atau melonjak 34 persen YoY.

Kenaikan harga BBM tersebut berdampak langsung terhadap biaya jasa penambangan serta angkutan kereta api.

Kendati demikian, PTBA sanggup mengendalikan biaya operasional melalui program efisiensi dan disiplin operasional.

Beban operasional terekam naik Rp184,84 miliar atau 13 persen YoY, yang utamanya dipicu oleh kenaikan beban umum dan administrasi.

Di lain pihak, PTBA mengamankan pencapaian EBITDA sebesar Rp4,27 triliun, dengan EBITDA margin sebesar 19 persen.

Tingkat net profit margin perseroan saat ini berada di level 12 persen.

Kinerja bottom line turut mendapat dorongan dari porsi laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama yang melonjak menjadi Rp438,30 miliar, dibandingkan Rp209,86 miliar pada semester I/2025.

Penghasilan keuangan terangkat 6 persen YoY menjadi Rp108,58 miliar, sedangkan biaya keuangan berhasil dipangkas 25 persen YoY menjadi Rp98,99 miliar seiring penurunan beban bunga pinjaman bank.

Memasuki masa semester II/2026, PTBA masih mengantongi ruang lebar untuk mengakselerasi kinerja operasionalnya.

Perseroan konsisten mempertahankan panduan produksi batu bara 2026 di angka 49,55 juta ton dengan target penjualan sebesar 49,51 juta ton.

Volume angkutan diproyeksikan mencapai 41 juta ton, serta angka stripping ratio sebesar 5,63 kali.

Guna menopang ekspansi dan kegiatan operasional, PTBA mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp3,64 triliun sepanjang 2026.

Hingga kurun semester I/2026, realisasi capex baru terserap 30 persen atau sekitar Rp1,09 triliun.

Dengan demikian, dana capex sekitar Rp2,55 triliun bakal direalisasikan pada semester II/2026 demi memenuhi target tahunan.

Langkah pemulihan produksi pada kuartal II/2026 menjadi modal krusial bagi PTBA dalam mengejar target tersebut.

Capaian produksi pada kuartal II melonjak 94 persen secara kuartalan, sedangkan tingkat penjualan terangkat 8 persen.

Tren ASP turut menunjukkan sinyal positif dengan kenaikan 14 persen secara kuartalan dan 10 persen YoY.

Kombinasi antara pemulihan volume, penguatan harga jual, serta efisiensi biaya menjadi katalis penting bagi pergerakan PTBA pada paruh kedua 2026.

“Capaian tersebut mencerminkan kemampuan Perseroan dalam menangkap momentum pasar secara optimal, dengan tetap menjaga disiplin operasional dan efisiensi biaya sebagai fondasi pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan,” ujar Bambang.

Terkini