ADMR Targetkan Kapasitas Smelter Aluminium 500 Ribu Ton pada 2026

Selasa, 01 September 2026 | 03:17:32 WIB
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk.

JAKARTA — PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) memperluas ekspansi bisnis aluminium melalui smelter yang dikelola oleh anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). KAI kini tengah mematangkan persiapan komersial dan skema penjualan seiring dengan peningkatan kapasitas produksi.

Langkah pengembangan lini aluminium ini menjadi strategi diversifikasi Grup Alamtri untuk merambah sektor di luar pertambangan batu bara.

Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti menjelaskan bahwa KAI terus mematangkan kesiapan komersial dan agenda penjualan bersamaan dengan penggenjot kapasitas produksi.

“Saat ini PT KAI terus mempersiapkan kesiapan komersial dan kegiatan penjualan bersamaan dengan peningkatan kapasitas produksi untuk mendukung kontribusi operasional terhadap kinerja Grup AlamTri,” terangnya.

Fasilitas smelter milik KAI di Kalimantan telah memulai tahap pengetesan sejak Desember 2025. Berdasarkan riset KB Valbury Sekuritas, fasilitas ini bahkan sudah mengeksekusi pengiriman komersial perdana ke pasar Amerika Serikat dan Korea Selatan pada Juni 2026.

KAI memasang target kapasitas produksi smelter hingga 500.000 ton per tahun pada akhir 2026. Skala kapasitas tersebut bakal menentukan seberapa besar kontribusi sektor aluminium terhadap portofolio ADMR.

Porsi pendapatan dari segmen aluminium terhadap total omzet konsolidasi ADMR diperkirakan melonjak dari 43,9 persen pada 2026 menjadi 50,7 persen pada 2030.

Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi memproyeksikan kontribusi smelter aluminium terhadap pendapatan ADMR sanggup menembus angka US$900 juta pada 2026. Dalam jangka panjang, lini aluminium digadang-gadang menjadi penopang utama pendapatan perseroan hingga 2030.

Proyeksi positif ini mengemuka di tengah ancaman defisit pasokan pada pasar aluminium global. Pasar dunia diprediksi mengalami kelangkaan hingga 2,2 juta ton pada 2026 imbas tersendatnya produksi di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut turut memicu pergerakan harga aluminium di pasar internasional. Harga rata-rata aluminium LME diperkirakan bertahan pada rentang US$3.577 hingga US$3.750 per ton, serta berpeluang melonjak ke US$4.150 per ton jika tensi geopolitik berlanjut.

Dinamika harga global dan peningkatan kapasitas produksi akan menjadi faktor penentu besaran perolehan pendapatan ADMR dari sektor baru ini.

Melalui ekspansi yang konsisten, porsi lini non-batu bara ini diproyeksikan semakin dominan menopang kinerja ADMR hingga 2030.

Atas dasar tersebut, KB Valbury Sekuritas menyematkan rekomendasi BUY untuk saham ADMR dengan target harga Rp2.100 per saham, serta memproyeksikan laba bersih perseroan tumbuh dengan CAGR sebesar 24 persen pada rentang 2025–2030.

Terkini