Waspadai Kentut Berbau Menyengat yang Mengindikasikan Masalah Organ

Selasa, 01 September 2026 | 03:37:32 WIB
Ilustrasi Orang Kentut.

JAKARTA — Kentut merupakan hal wajar yang dialami semua orang. Gas di saluran pencernaan terbentuk sebagai bagian alami dari proses pencernaan makanan. Meski demikian, tidak semua kentut memiliki aroma, suara, atau frekuensi yang seragam.

Dokter Rucha Shah menjelaskan kentut yang tidak berbau umumnya bagian normal dari proses pencernaan. Keberadaan gas sesekali juga menandakan sistem pencernaan berfungsi dengan baik.

Sebaliknya, kentut yang terjadi secara terus-menerus, berlebihan, atau memiliki aroma sangat menyengat—terutama jika dibarengi keluhan lain—dapat menjadi sinyal adanya kendala pada sistem pencernaan.

Berikut beberapa kondisi yang dapat memicu kentut menjadi lebih sering atau berbau tidak sedap, melansir Eating Well:

1. Gangguan Pencernaan

Gangguan pencernaan dapat terjadi saat proses tubuh dalam mencerna makanan tidak berjalan optimal. Kondisi ini berhubungan dengan produksi asam lambung, enzim pencernaan, atau empedu yang tidak mencukupi untuk memecah makanan dan menyerap nutrisi.

Saat makanan tidak tercerna atau terserap secara sempurna, sebagian komponen akan mencapai usus besar dalam keadaan utuh. Bakteri di usus kemudian memfermentasi sisa makanan tersebut dan menghasilkan gas.

Ahli gizi Sarah Glinski menjelaskan bahwa makanan yang tidak tercerna dapat difermentasi bakteri di usus besar sehingga memicu produksi gas berlebih. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan perut kembung dan rasa tidak nyaman.

Individu yang pernah menjalani pengangkatan kantong empedu atau mengalami masalah pada pankreas dan saluran pencernaan memiliki risiko lebih tinggi menghadapi gangguan pencernaan maupun penyerapan nutrisi.

2. Malabsorpsi Karbohidrat

Hambatan dalam menyerap jenis karbohidrat tertentu juga memicu produksi gas berlebih. Kondisi medis ini dikenal sebagai istilah malabsorpsi karbohidrat.

Dokter Supriya Rao menjelaskan bahwa beberapa jenis karbohidrat, seperti laktosa, fruktosa, FODMAP, dan gula tertentu, dapat lebih sulit diserap oleh sebagian orang. Karbohidrat yang tidak terserap kemudian masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri. Proses tersebut dapat menghasilkan gas yang memicu perut kembung dan kentut berbau.

Bahan makanan yang sulit dicerna, termasuk pemanis buatan dan gula alkohol, turut merangsang fermentasi usus. Mencatat jenis makanan serta gejala yang timbul dapat membantu mengenali pemicunya.

Pemeriksaan ke dokter atau ahli gizi sangat dianjurkan jika keluhan terjadi berulang. Malabsorpsi karbohidrat juga berikatan dengan kondisi small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), peradangan usus, irritable bowel syndrome (IBS), hingga celiac.

3. Ketidakseimbangan Bakteri Usus

Mikrobioma usus terdiri atas ragam mikroorganisme yang berperan dalam pencernaan, produksi nutrisi, serta menjaga kesehatan saluran cerna. Apabila keseimbangan tersebut terganggu, kondisi ini dinamakan disbiosis.

Disbiosis mengubah proses fermentasi di dalam usus sehingga volume dan jenis gas yang dihasilkan ikut bergeser. Dampaknya, seseorang dapat mengalami kentut lebih sering, berbau menyengat, kembung, hingga perubahan pola buang air besar.

Menurut Glinski, proses pemecahan protein yang tidak tercerna di usus besar juga dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida. Senyawa tersebut dapat berkontribusi terhadap bau kentut yang lebih menyengat.

Sejumlah faktor memicu ketidakseimbangan mikrobioma, seperti penggunaan antibiotik, diet rendah serat, stres berkepanjangan, infeksi pencernaan, kurang tidur, konsumsi obat tertentu, serta penyakit kronis.

4. SIBO

Small intestinal bacterial overgrowth atau SIBO merupakan kondisi saat populasi bakteri di usus halus meningkat secara tidak wajar. Gejalanya berupa penumpukan gas dan kembung yang bertahan lama, umumnya 30 menit hingga tiga jam pascamakan.

Pada kasus SIBO, bakteri yang seharusnya mendominasi usus besar justru berpindah ke usus halus dan memfermentasi karbohidrat sebelum diserap tubuh. Proses ini menghasilkan gas hidrogen, metana, dan jenis gas lainnya.

Karakteristik gas yang terbentuk turut memengaruhi aroma. Pada SIBO tipe hidrogen sulfida, kentut dapat berbau seperti telur busuk. Namun, karena gejalanya mirip masalah pencernaan lain, pemeriksaan medis tetap diperlukan guna penegakan diagnosis.

5. Intestinal Methanogen Overgrowth (IMO)

Selain SIBO, terdapat kondisi intestinal methanogen overgrowth (IMO). Kondisi ini timbul ketika mikroorganisme penghasil metana, terutama Methanobrevibacter smithii, berkembang secara berlebihan di saluran cerna.

Berbeda dari SIBO yang melibatkan bakteri di usus halus, IMO disebabkan oleh mikroorganisme jenis archaea yang dapat tersebar di berbagai area pencernaan. Mikroba ini mengolah hidrogen dari mikroba lain menjadi gas metana.

IMO kerap memicu sembelit kronis karena gas metana memperlambat pergerakan makanan di usus. Laju cerna yang lambat ini makin memperparah akumulasi mikroorganisme serta rasa kembung.

Oleh karena itu, kentut terus-menerus yang disertai sembelit kronis menjadi tanda penting yang perlu diwaspadai dan diperiksakan ke dokter.

Terkini