Efek Sparkling Water pada Gigi dan Risiko Erosi Menurut Peneliti

Selasa, 01 September 2026 | 05:20:01 WIB
Sparkling Water.

JAKARTA - Tahukah kamu bahwa lapisan pelindung gigi atau enamel berisiko mulai terkikis ketika kadar asam di mulut merosot di bawah angka 5,5? Hasil studi teranyar dari para ilmuwan mengindikasikan bahwa sparkling water memang sanggup menurunkan pH mulut untuk sementara. Namun, dampak penurunan keasaman ini tidak setajam kerusakan yang ditimbulkan oleh minuman bersoda.

"Banyak orang saat ini beralih dari soda ke sparkling water," ungkap Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Gizi di Purdue University, Wajiha Zulfiqar.

"Temuan kami menunjukkan bahwa sparkling water tanpa pemanis dapat menjadi alternatif dengan risiko lebih rendah dibandingkan soda, asalkan dikonsumsi dalam jumlah wajar dan dibarengi dengan praktik kebersihan mulut yang baik," imbuhnya.

Zulfiqar menyampaikan hasil riset ini pada agenda NUTRITION 2026, forum tahunan American Society for Nutrition di National Harbor, Maryland, AS, yang berlangsung 25 sampai 28 Juli.

Rangkaian studi terdahulu telah membuktikan bahwa soda tinggi gula memicu kerusakan gigi dengan menekan tingkat pH mulut hingga ke bawah 5,5. Di sisi lain, data mengenai efek sparkling water tanpa gula terhadap kadar asam di dalam mulut masih terbilang sangat minim.

Guna mendalaminya, tim peneliti menguji soda manis, sparkling water tawar, sparkling water berkalsium, serta air putih pada 20 sukarelawan dewasa. Tiap partisipan mengonsumsi seluruh jenis minuman secara beriliran guna meminimalkan ketimpangan respons alami tiap individu.

Peneliti sengaja mengukur pH pada air liur alih-alih berpatokan pada kadar asam minumannya saja. Langkah ini dipakai supaya kondisi nyata di dalam mulut sesaat setelah mengonsumsi minuman dapat terpantau secara presisi.

"Membandingkan berbagai minuman secara langsung menggunakan kerangka eksperimen yang sama memungkinkan kami mengevaluasi efek sparkling water terhadap soda sebagai minuman berisiko tinggi, serta air putih sebagai referensi netral," ujar Zulfiqar.

"Selain itu, dengan mengukur bagaimana mulut merespons secara waktu nyata, alih-alih hanya menguji keasaman minuman saja seperti penelitian lain, studi kami memberikan pemahaman yang lebih realistis tentang dampaknya pada kesehatan mulut," lanjutnya.

Dari seluruh sampel minuman, soda memicu lonjakan asam mulut paling tajam. pH air liur tercatat jauh lebih rendah usai partisipan meneguk soda ketimbang air putih, baik di menit kedua maupun menit ke-20.

Sementara itu, sparkling water tawar memicu penurunan pH air liur sesaat di menit kedua. Adapun varian sparkling water yang diperkaya kalsium baru menunjukkan efek penurunan asam pada menit kelima.

Pada kedua varian sparkling water tersebut, tingkat pH mulut berhasil berangsur normal mendekati posisi awal dalam rentang 20 menit. Air liur terbukti efektif menetralkan kembali kadar asam mulut setelah meminum soda maupun sparkling water.

Dalam jangka pendek, kadar pH mampu dipertahankan di atas ambang batas yang memicu pengeroposan enamel. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa riset ini baru memotret fluktuasi singkat pada pH air liur. Pada kenyataannya, potensi erosi gigi harian sangat bergantung pada seberapa sering kamu minum, durasi paparan pada gigi, serta ada tidaknya kandungan gula.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa mengganti minuman soda manis dengan sparkling water tanpa pemanis dapat membantu menurunkan risiko pengikisan enamel," kata Zulfiqar.

"Hasil ini juga menyoroti peluang bagi industri minuman untuk mengeksplorasi strategi perumusan ulang yang berpotensi mengurangi potensi kerusakan akibat minuman asam," tambah dia.

Sebagai agenda lanjutan, tim ilmuwan berencana meneliti efek jangka panjang dari kebiasaan minum sparkling water terhadap kebersihan mulut. Riset mendatang diharapkan dapat mengonfirmasi apakah minuman ini memengaruhi variabel lain di rongga mulut yang berdampak pada kesehatan gigi serta gusi.

Untuk diketahui, abstrak riset di ajang NUTRITION 2026 ini sebelumnya telah melewati peninjauan ketat oleh komite ahli. Sebagian besar abstrak tersebut belum melalui proses peer-review penuh untuk penerbitan jurnal ilmiah, sehingga temuan ini masih dikategorikan sebagai hasil awal hingga dirilis secara resmi.

Terkini