IHSG Ditutup Menguat 1,14 Persen Saham Big Caps Jadi Pendorong Utama

Rabu, 02 September 2026 | 02:42:02 WIB
Ilustrasi IHSG.

JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada sesi perdagangan Selasa (1/9/2026). Penguatan indeks saham domestik tersebut utamanya disokong oleh apresiasi harga saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBCA, BBRI, hingga BREN.

Data IDX Mobile mencatat IHSG melonjak 1,14 persen atau terangkat 74,46 poin menuju level 6.599,94. Sepanjang jam perdagangan, indeks bergerak konsisten di zona hijau pada rentang level 6.535 sampai 6.608. Secara keseluruhan, terdapat 420 saham menguat, 233 saham merosot, dan 310 saham stagnan.

Aktivitas pasar membukukan volume transaksi mencapai 50,06 miliar saham dengan nilai keseluruhan Rp20,07 triliun. Nilai kapitalisasi pasar pun terkerek naik menjadi Rp11.531 triliun.

Sejumlah saham big caps penopang utama indeks mencakup BBCA yang naik 1,93 persen ke Rp6.600, BBRI terangkat 4 persen ke Rp3.380, BREN naik 3,01 persen ke Rp3.420, BMRI menguat 2,13 persen ke Rp4.320, AMMN naik 0,69 persen ke Rp4.360, serta TLKM menguat 0,38 persen ke Rp2.610.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memaparkan bahwa peluang IHSG untuk mencetak kinerja positif pada September kali ini relatif lebih baik dibanding rata-rata catatan historisnya. Berdasarkan catatan historis, peluang IHSG menutup September di area hijau umumnya hanya berkisar 33 persen.

“Menurut perhitungan kami, batas bawahnya di sekitar 6.300 dan batas atasnya sekitar 6.650. Peluang IHSG ditutup hijau bulan ini sebesar 40%-45%,” kata Liza , Selasa (1/9/2026).

Liza menerangkan September secara historis kerap menjadi periode yang cenderung menekan laju IHSG. Dalam rentang 10 tahun terakhir, rata-rata imbal hasil (return) IHSG pada September berada di zona negatif 0,94 persen.

Kendati demikian, fase koreksi di bulan September kerap dimanfaatkan investor sebagai momentum akumulasi sebelum memasuki tren penguatan pada kuartal IV. Berdasar historis 10 tahun terakhir, tingkat probabilitas return positif IHSG mencapai 78 persen pada Oktober, 44 persen pada November, serta 78 persen pada Desember.

Liza menilai terdapat deretan faktor global maupun domestik yang patut dicermati investor selama September. Dari ranah global, perhatian tertuju pada arah kebijakan bank sentral AS, Eropa, dan Jepang yang berimbas pada likuiditas pasar.

Risiko utama bermuara pada pergeseran ekspektasi atas kebijakan The Federal Reserve (The Fed). Menurut kalkulasi Kiwoom, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September terangkat ke kisaran 34 persen, sementara peluang kenaikan pada Desember menyentuh 74 persen.

Kondisi tersebut bertolak belakang dari ekspektasi awal tahun saat pasar meyakini The Fed bakal memangkas suku bunga. Sinyal kebijakan yang cenderung hawkish berpotensi melambungkan imbal hasil (yield) obligasi dan menekan aset-aset berisiko, termasuk instrumen saham.

Di samping The Fed, pelaku pasar bakal mengamati keputusan suku bunga European Central Bank (ECB) pada 10 September, Bank of England (BoE) pada 17 September, Bank of Japan (BoJ) pada 17-18 September, serta Bank Indonesia (BI) pada 22-23 September 2026.

Mengenai BI, Liza menilai ruang pelonggaran suku bunga acuan masih terbuka selama kestabilan nilai tukar rupiah sanggup dipertahankan.

“Kalau rupiah sudah dirasa cukup stabil, mungkin suku bunga BI bisa dipotong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Dari dalam negeri, sentimen pendorong datang dari performa ekonomi nasional. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen (YoY), sehingga laju pertumbuhan ekonomi semester I 2026 mencapai sekitar 5,4 persen.

Walau begitu, tekanan masih membayangi sisi konsumsi dan aktivitas perdagangan. Penjualan eceran Juni tercatat terkoreksi sekitar 3 persen, sementara neraca perdagangan Indonesia membukukan defisit selama dua bulan berturut-turut.

Di luar indikator makro, investor perlu mengantisipasi perubahan struktural pasar modal. Salah satunya uji coba batas harga saham terendah menjadi Rp1 pada 7 September 2026 yang diiringi penyesuaian aturan auto rejection atas (ARA) dan auto rejection bawah (ARB).

Menurut Liza, perubahan aturan ini berpotensi memicu lonjakan volatilitas, terutama pada jajaran saham bernominal rendah.

Pasar juga akan menyikapi agenda rebalancing indeks FTSE Russell pada 21 September 2026. Penyesuaian portofolio ini berisiko mendorong aksi jual pada sejumlah saham Indonesia, khususnya dari dana indeks pasif yang menjadikan FTSE Russell sebagai acuan.

Pada perdagangan Rabu (2/9/2026) pukul 09.01 WIB, IHSG sempat dibuka menguat 0,19 persen atau 12,36 poin ke posisi 6.612,30 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp11.576,42 triliun.

Namun memasuki akhir Sesi I, IHSG berbalik melemah 18,49 poin atau 0,28 persen ke level 6.581,45. Nilai transaksi Sesi I menyentuh Rp9,901 triliun dengan 343 saham melemah dan 276 saham menguat.

Pergerakan pada awal Sesi II mencatatkan IHSG yang masih tertahan di area merah dengan koreksi 0,31 persen atau turun 20,01 poin ke level 6.581,72.

Terkini