Peluang Pertumbuhan KPR Terbuka Mulai September 2026 Efek Bunga Dana

Rabu, 02 September 2026 | 03:12:32 WIB
Penampakan rumah contoh FLPP BP Tapera dengan tipe 29/72 di Perumahan Puri Delta City Side Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).

JAKARTA - Perlambatan kredit pemilikan rumah (KPR) belum serta-merta menutup peluang pemulihan kredit perumahan pada paruh kedua tahun ini. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pertumbuhan KPR cenderung melambat sejak Februari 2025.

Tren tersebut memang sempat diselingi penguatan pada November 2025 dan April 2026, sebelum kembali melandai pada bulan-bulan berikutnya. Pada Juli 2026 pertumbuhan KPR tercatat sebesar 4,3 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Meski demikian, peluang pertumbuhan KPR untuk kembali menguat masih terbuka seiring dengan membaiknya kondisi suku bunga.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) Nixon LP Napitupulu optimistis pertumbuhan KPR akan kembali meningkat mulai September 2026, seiring dengan penurunan suku bunga dana perbankan.

Dia menjelaskan, perlambatan KPR pada Juli 2026 tidak terlepas dari masih tingginya suku bunga dana. Kondisi tersebut membuat biaya pendanaan bank menjadi mahal sehingga ruang perbankan untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang lebih murah turut terbatas.

Menurutnya, kondisi likuiditas perbankan masih cukup dinamis. Kendati begitu, perbankan tetap memiliki kemampuan untuk menyalurkan kredit.

Nixon memperkirakan, kondisi tersebut akan membaik setelah adanya pengaturan terkait tingkat suku bunga dalam penempatan dana Badan Layanan Umum (BLU) milik pemerintah.

Dia mengungkapkan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah mengambil keputusan untuk mengatur tingkat suku bunga dalam penempatan dana BLU agar proses bidding antarlembaga tidak menghasilkan tingkat bunga yang terlalu tinggi.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan biaya dana yang harus ditanggung perbankan.

“Yang kami cegah sekarang kan suku bunga dana mahal supaya tetap bisa kasih kredit murah. Nah itu kan berlaku per September ini, jadi kami tunggu aja,” kata Nixon saat ditemui di Menara 2 BTN, Jakarta Selatan, dikutip pada Selasa (1/9/2026).

Dengan turunnya biaya dana, Nixon meyakini bank akan memiliki ruang yang lebih besar untuk menyalurkan kredit secara normal, termasuk KPR. Dia pun memperkirakan penurunan suku bunga dana tersebut mulai memberikan dampak pada September 2026.

“Once itu ada, saya sih optimis suku bunga akan turun dan kami tetap bisa menyalurkan kredit normal,” ujarnya.

Karena itu, dia meyakini perlambatan KPR tidak akan berlangsung hingga akhir tahun. Menurutnya, penurunan suku bunga dana akan menjadi faktor utama yang mendorong pemulihan pertumbuhan KPR mulai September 2026.

Data BI mencatat perkembangan nilai KPR dari Januari 2025 sebesar Rp795,6 triliun (10,6 persen YoY) bergerak hingga mencapai Rp855,9 triliun (4,3 persen YoY) pada Juli 2026.

“September ini,” ungkap Nixon saat ditanya kapan pertumbuhan KPR diperkirakan kembali meningkat.

Namun demikian, seberapa besar penurunan biaya dana dapat mendorong permintaan KPR masih menjadi pertanyaan. Pasalnya, pemulihan kredit perumahan tidak hanya bergantung pada sisi pasokan, tetapi juga daya beli dan minat masyarakat.

Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, dari sisi supply, kondisi sebenarnya cukup mendukung. Likuiditas perbankan masih memadai, dengan AL/DPK sekitar 23,1 persen pada Juli 2026.

BI juga terus memberikan insentif likuiditas melalui KLM, termasuk untuk sektor konstruksi, real estate, dan perumahan.

Karena itu, menurutnya, apabila biaya dana turun dan diteruskan menjadi bunga KPR yang lebih rendah, kemampuan mencicil masyarakat akan membaik dan dapat mendorong permintaan, terutama dari segmen first-home buyer.

Namun, sensitivitas KPR terhadap bunga juga sangat bergantung pada daya beli dan confidence rumah tangga.

Irman menuturkan, keputusan mengambil KPR tidak hanya ditentukan oleh cicilan bulan pertama, tetapi juga ekspektasi pendapatan, keamanan pekerjaan, harga rumah, serta kemampuan menyediakan uang muka.

“Jadi, penurunan bunga akan lebih efektif apabila dibarengi dengan perbaikan daya beli dan confidence konsumen,” ungkap Irman kepada Bisnis, Selasa (1/9/2026).

Pandangan senada juga disampaikan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA). Direktur Consumer & Emerging Business Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi mengatakan, penurunan biaya dana memang membuka ruang penyesuaian suku bunga KPR.

Kendati begitu, suku bunga yang kompetitif tidak menjadi satu-satunya pertimbangan nasabah dalam mengajukan kredit perumahan.

“Bagi nasabah, faktor yang menjadi pertimbangan tidak hanya suku bunga yang kompetitif, tetapi juga biaya kepemilikan rumah yang terjangkau serta proses pengajuan yang mudah dan cepat,” ungkap Noviady kepada Bisnis, Selasa (1/9/2026).

Kendati secara umum pertumbuhan KPR melandai, CIMB Niaga justru menunjukkan peningkatan. Hal ini tercermin dari nilai pencairan KPR pada semester I 2026 yang mencapai Rp3,8 triliun, tumbuh 3 persen (YoY).

Pencairan KPR pada kuartal II 2026 turut meningkat 38 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Untuk mendukung pertumbuhan KPR hingga akhir tahun, Noviady mengungkapkan bahwa perseroan akan fokus menjaga suku bunga yang kompetitif, memperkuat kemitraan dengan developer, serta memperluas jangkauan digital.

“Seluruh inisiatif tersebut tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan menjaga kualitas aset,” tegasnya.

Di sisi lain, Irman menyebut transmisi penurunan biaya dana ke bunga kredit biasanya membutuhkan waktu dan cenderung tidak simetris. Penurunan biaya dana tidak otomatis langsung diteruskan seluruhnya ke bunga kredit.

Dia mengungkapkan, bank perlu melihat struktur dana pihak ketiga (DPK), repricing deposito yang jatuh tempo, kondisi likuiditas, risiko kredit, serta margin yang perlu dipertahankan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat suku bunga kredit rata-rata turun dari 9,20 persen pada Maret 2025 menjadi 8,76 persen pada Maret 2026, tetapi transmisinya berlangsung bertahap.

Efek yang lebih terlihat ke bunga KPR membutuhkan sekitar satu hingga dua kuartal, sedangkan dampaknya terhadap outstanding KPR bisa lebih panjang lantaran ada tambahan lag dari keputusan konsumen hingga pencairan kredit.

Apalagi, BI Rate sejak Juni 2026 berada di posisi 5,75 persen, setelah sebelumnya naik dari 4,75 persen pada April 2026.

“Artinya, ruang penurunan lending rate dalam waktu dekat juga akan sangat tergantung pada apakah cost of fund bank benar-benar turun secara persisten,” katanya.

Dengan demikian, untuk semester II 2026, pihaknya melihat peluang KPR membaik lebih berupa stabilisasi dan pemulihan gradual daripada rebound tajam.

Penurunan cost of fund akan membantu dari sisi harga kredit, sementara akselerasi yang lebih kuat tetap membutuhkan kombinasi bunga yang lebih rendah, daya beli membaik, serta kepercayaan konsumen yang kuat.

Terkini