Bahaya Kekurangan Asupan Protein harian terhadap Kesehatan Otak

Rabu, 02 September 2026 | 05:43:33 WIB
Ilustrasi Makanan Protein.

JAKARTA - Nutrisi protein selama ini kerap diidentikkan sebatas untuk pembentukan massa otot semata. Padahal, zat gizi ini memegang peranan sangat vital dalam memelihara kesehatan serta ketajaman daya pikir.

Saat tingkat konsumsi protein harian merosot tajam, fungsi organ otak akan mulai merasakan berbagai dampak negatif.

Sistem saraf sangat bergantung pada pasokan protein guna membangun serta memelihara jaringan agar dapat beroperasi secara optimal.

"Protein dari makanan kami memainkan peran penting dalam kesehatan otak karena menyediakan asam amino, yakni bahan penyusun yang digunakan otak untuk memproduksi banyak bahan kimia otak yang penting," kata Ahli Gizi Terdaftar dan Spesialis Gangguan Makan di JM Nutrition, Judy Chodirker, RD, MHSc.

Beberapa jenis neurotransmiter penting, seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin, diproduksi langsung dari bahan dasar asam amino tersebut.

Apabila asupan harian protein terus-menerus minim, tubuh gagal mendukung produksi neurotransmiter secara maksimal. Kondisi ini berimbas pada penurunan stamina mental serta stabilitas emosional.

"Karena tubuh tidak dapat menyimpan asam amino untuk digunakan nanti, tubuh bergantung pada asupan harian protein berkualitas tinggi yang konsisten untuk memelihara dan memperbaiki komponen-komponen penting ini," kata Ahli Gizi Terdaftar dan Supervisor Tim Pelatihan Nutrisi di Factor, Olivia Hamilton, MS, RD, LDN.

"Ketika kuantitas atau kualitas protein tidak memadai, tubuh kekurangan bahan yang diperlukan untuk mendukung fungsi penting, yang mengarah pada penyusutan otot, melemahnya kekebalan tubuh, dan gangguan perbaikan sel," lanjutnya.

Dampak domino dari kelangkaan nutrisi ini dapat menumpuk, sehingga memicu kesulitan untuk fokus dan berpikir cepat.

Dalam rentang waktu pendek, kelangkaan asupan protein membuat tubuh beserta otak tidak sanggup menjalankan fungsi-fungsi vital. Kerusakan suasana hati bahkan bisa terjadi hanya dalam hitungan hari.

"Jika seseorang secara teratur mengonsumsi terlalu sedikit protein dalam jangka pendek, mereka mungkin mengalami perubahan suasana hati dan motivasi, serta peningkatan rasa lapar dan keinginan ngemil karena protein membantu mengatur hormon nafsu makan," jelas Chodirker.

Selain memicu sifat mudah marah, kapasitas konsentrasi bakal merosot drastis akibat gangguan langsung pada kinerja kognitif.

"Kabut otak juga akan jauh lebih sering terjadi. Kamu akan kesulitan berkonsentrasi, dan kecepatan fungsi otakmu akan jauh lebih lambat," kata Hamilton.

"Asupan triptofan yang lebih rendah telah dikaitkan secara negatif dengan kognisi sosial dan stabilitas suasana hati," tambahnya.

Bila kondisi malnutrisi ini dibiarkan secara kronis hingga bertahun-tahun, risiko terhadap organ vital berpotensi jauh lebih fatal.

"Asupan protein yang rendah dalam jangka panjang mungkin memiliki efek yang lebih luas pada kesejahteraan," kata Chodirker.

"Ketika protein tidak tersedia dari makanan, tubuh mungkin memecah jaringan otot untuk mendapatkan asam amino yang dibutuhkan untuk fungsi-fungsi penting, termasuk untuk otak," lanjut dia.

Proses penyusutan massa otot berdampak besar pada kemampuan kognitif, terkhusus bagi kelompok lansia yang rentan mengalami kepikunan.

"Dalam jangka panjang, otakmu berisiko mengalami kerusakan permanen. Kamu jauh lebih rentan berisiko terkena demensia, dan depresi berat merupakan hal yang umum terjadi," jelas Hamilton.

"Tanpa asam amino yang memadai, otak mungkin menderita degenerasi saraf, gangguan mental yang lebih parah, dan perubahan struktural," imbuhnya.

Kebutuhan kecukupan protein setiap individu berbeda-beda, menyesuaikan target kesehatan, usia, jenis kelamin, serta tingkat aktivitas fisik.

Porsi konsumsi sebaiknya dibagi secara merata sepanjang hari melalui hidangan utama maupun camilan.

"Targetkan seperempat piring protein pada waktu makan untuk mendukung asupan yang memadai, tingkat energi yang stabil, dan pengaturan nafsu makan," kata Chodirker.

Masyarakat juga diingatkan untuk selalu memperhatikan kualitas jenis nutrisi yang dicerna setiap hari.

"Mendapatkan campuran sumber protein seperti daging, kacang-kacangan, ikan, telur, dan produk susu, dapat membantu memastikan kamu memiliki profil asam amino yang bervariasi dan siap digunakan oleh tubuh," ucap Hamilton.

Terkini