Kenaikan Harga Daging Ayam Ras Picu Inflasi Kota Jogja 0,24 Persen

Kamis, 03 September 2026 | 04:59:02 WIB
Pedagang daging ayam di Pasar Bantul.

JAKARTA - Inflasi Kota Jogja pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,24 persen secara month to month (mtm).

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja menyebutkan kenaikan tersebut masih berada pada rentang batas normal, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai pendorong utama.

Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengutarakan inflasi Kota Jogja secara month to month (mtm) pada Agustus 2026 menyentuh angka 0,24 persen.

Secara year on year (yoy), inflasi tercatat berada di level 3,29 persen, sedangkan secara kumulatif sejak awal tahun hingga Agustus 2026 mencapai 1,64 persen.

Menurut Joko, pergerakan inflasi tahunan Kota Jogja tersebut masih konsisten berada di dalam koridor target inflasi nasional sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen.

"Kondisi inflasi Kota Jogja saat ini masih berada dalam batas normal," katanya pada Kamis (3/9/2026).

Joko memaparkan bahwa sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi sektor yang memberikan sumbangsih paling besar terhadap inflasi Kota Jogja pada Agustus 2026.

Di dalam sektor tersebut, lonjakan harga komoditas daging ayam ras menjadi salah satu indikator yang paling menonjol. Di samping ayam, komoditas kacang panjang serta semangka turut mencatatkan kenaikan harga.

“Penyebab inflasi utama itu dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Yang paling cukup mencolok adalah kenaikan harga daging ayam ras. Kemudian ada juga kacang panjang dan semangka,” ujarnya.

Lonjakan harga daging ayam ras tersebut, menurut penjelasannya, diperkirakan berkaitan erat dengan peningkatan volume permintaan di tengah ketersediaan pasokan yang terbatas.

Dinamika tersebut juga dihubungkan dengan melonjaknya pemenuhan pasokan daging ayam ras untuk kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG).

Joko menyampaikan bahwa kebutuhan alokasi daging ayam ras guna menopang program MBG yang kembali berjalan pada Agustus 2026 menjadi salah satu pemicu melonjaknya permintaan pasar.

Di luar komoditas daging ayam ras, fluktuasi harga sejumlah pasokan pangan di Kota Jogja turut dipengaruhi oleh titik keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan stok.

Joko menjelaskan ketika tingkat permintaan merambat naik sementara ketersediaan barang tidak mencukupi, fenomena tersebut secara otomatis mendorong kenaikan harga komoditas.

“Biasanya memang di harga itu ada dua, antara demand dan supply. Apabila permintaan meningkat kemudian supply-nya kurang, biasanya harganya meningkat. Ini permintaannya mungkin meningkat,” jelasnya.

Dengan begitu, sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi variabel utama yang menggerakkan inflasi bulanan Kota Jogja pada periode Agustus 2026.

Selain sektor makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi beserta jasa lainnya juga menyumbang andil terhadap inflasi Kota Jogja pada Agustus 2026.

Komoditas yang mencatatkan peran dominan dalam sektor tersebut yaitu emas perhiasan.

BPS Kota Jogja merekam secara menyeluruh inflasi bulanan pada Agustus 2026 sebesar 0,24 persen, dengan inflasi tahunan 3,29 persen dan inflasi kumulatif dari awal tahun sampai Agustus 2026 sebesar 1,64 persen.

Capaian inflasi tahunan tersebut dinilai masih aman berada dalam target nasional sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen, sehingga BPS Kota Jogja menyimpulkan kondisi inflasi berada pada kriteria wajar.

Terkini