Kini WHO Tambah 7 Faktor Risiko Demensia Baru Termasuk Gangguan Tidur

Kamis, 03 September 2026 | 06:24:31 WIB
Ilustrasi Demensia.

JAKARTA - Kebiasaan seperti lupa menaruh kunci, sulit mengingat nama orang, atau sekadar merasa alur berpikir lambat mungkin pernah dialami siapa saja. Kendati demikian, kesehatan otak ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh usia, melainkan juga berbagai kondisi serta kebiasaan harian.

Pedoman terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini menambahkan tujuh faktor yang dikaitkan dengan risiko demensia, mulai dari masalah tidur sampai paparan polusi udara. Penambahan ini memperluas fokus perhatian pada kesehatan otak yang selama ini dinilai terbatas.

Dokter sekaligus pendiri Amen Clinics di California, Daniel Amen, menyampaikan bahwa upaya menjaga fungsi otak idealnya dimulai jauh sebelum memasuki usia lanjut.

“Kami seharusnya menjalani program pencegahan demensia sepanjang hidup. Ini bukan sesuatu yang baru dimulai ketika berusia 65 tahun,” kata Amen.

Pernyataan tersebut selaras dengan pendekatan WHO yang menempatkan langkah pencegahan penurunan kognitif sebagai proses yang mesti diupayakan sepanjang hayat.

Faktor risiko baru yang kini diperhitungkan adalah stroke, sebab gangguan pada pembuluh darah dapat memengaruhi kinerja otak serta meningkatkan potensi gangguan kognitif kelak. Menjaga kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol menjadi bagian penting untuk melancarkan sirkulasi.

Selanjutnya, cedera otak traumatis akibat benturan di kepala turut dimasukkan sebagai pemicu demensia. Amen menjelaskan bahwa efek benturan bisa berdampak luas pada kesehatan mental.

“Salah satu pelajaran besar dari pencitraan otak yang kami lakukan adalah bahwa cedera otak traumatis ringan dapat menghancurkan kehidupan seseorang,” ungkapnya.

Faktor ketiga yaitu gangguan penglihatan. Mengingat proses visual membutuhkan kerja otak secara intensif, kendala pada kemampuan melihat kini dicermati, kendati WHO belum merekomendasikan penanganannya secara khusus untuk pencegahan demensia.

Masalah tidur seperti sleep apnea menjadi faktor keempat. Kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu proses alami pembersihan zat sisa metabolik di otak.

Faktor kelima adalah infeksi HIV yang berpotensi memengaruhi sistem saraf pusat. Walau demikian, kemajuan terapi antiretroviral telah membantu menekan risiko timbulnya demensia berat.

Faktor keenam mencakup paparan polusi udara jangka panjang, khususnya partikulat halus yang dikaitkan dengan penurunan daya ingat.

Faktor ketujuh yakni terapi hormon menopause. WHO menyertakan poin ini sebagai hal yang perlu dicermati, namun menegaskan bahwa terapi hormon tidak dianjurkan sebagai metode mencegah demensia pada perempuan pascamenopause.

Amen menambahkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas sosial serta kebiasaan mempelajari hal baru menjadi langkah efektif untuk memelihara fungsi otak.

“Aktivitas sosial adalah salah satu strategi pencegahan. Mempelajari hal baru juga merupakan strategi pencegahan,” terangnya.

Terkini