Filosofi Wabi Sabi Ajarkan Penerimaan Diri demi Dorong Kepercayaan Diri

Kamis, 03 September 2026 | 06:32:02 WIB
Ilustrasi percaya diri.

JAKARTA - Rasa percaya diri tidak selalu berakar dari kemampuan melihat kelebihan diri belakangan ini. Menerima kekurangan serta perubahan dalam perjalanan hidup turut membantu seseorang membina sudut pandang yang lebih sehat terhadap dirinya sendiri.

Hasrat untuk selalu tampil sempurna justru dapat menjebak seseorang untuk berfokus pada kekurangan. Salah satu alternatif dalam memandang ketidaksempurnaan tersebut dapat dipelajari dari filosofi Jepang, wabi-sabi, yang menghargai hal tidak sempurna, tidak kekal, dan terus berubah.

Psikolog klinis Angela Chen menjelaskan bahwa prinsip wabi-sabi sangat relevan diterapkan pada berbagai ranah kehidupan, termasuk cara seseorang memandang kondisi personalnya.

“Wabi-sabi adalah filosofi Jepang yang menghargai keindahan ketidaksempurnaan dan ketidakkekalan, seperti buah atau sayuran yang bentuknya tidak sempurna, wajah yang tidak sepenuhnya simetris, dan penuaan,” jelasnya, melansir dari Real Simple.

Penerapan wabi-sabi bukan berarti berhenti merawat diri atau membatasi pengembangan potensi. Prinsip ini lebih menekankan pada kesadaran bahwa setiap individu memiliki keterbatasan dan tak harus terus memaksakan standar kesempurnaan.

Terapis Chloe Bean menyampaikan bahwa sikap menerima tersebut memberikan fondasi yang kuat dalam membina kepercayaan diri.

“Mempraktikkan wabi-sabi dapat membantu meningkatkan penerimaan diri dan kepercayaan diri dengan memberikan izin kepada diri sendiri untuk tidak menjadi sempurna,” ungkap Bean.

Penerapan wabi-sabi dapat dilatih dengan mengamati ketidaksempurnaan tanpa langsung menghakimi. Chen menyarankan untuk membiasakan diri meluangkan waktu sejenak mengamati hal-hal tidak sempurna di sekitar.

“Melakukan hal ini secara rutin membangun keterampilan kesadaran penuh, terutama kesadaran terhadap saat ini tanpa pikiran dan penilaian yang kritis,” tuturnya.

Perubahan fisik juga kerap menjadi hal yang sulit diterima. Namun, dalam kacamata wabi-sabi, proses penuaan, kerutan, atau perubahan bentuk tubuh merupakan bukti nyata dari perjalanan hidup yang kaya.

“Alih-alih memandang penuaan, seperti perubahan berat dan bentuk tubuh, kulit yang berkerut, bintik matahari, dan rambut beruban sebagai sesuatu yang harus diperbaiki atau dihilangkan, lihatlah sebagai tanda dari kehidupan yang telah dijalani dengan penuh,” terangnya.

Selain itu, Chen mengingatkan pentingnya mengambil jarak dari pikiran kritis yang meragukan kapasitas diri.

“Dengan belajar untuk hidup berdampingan dengan pikiran-pikiran tersebut, alih-alih terjebak di dalamnya, Anda mengajarkan diri bahwa pikiran tersebut sebenarnya tidak dapat menyakiti Anda,” ucap Chen.

Sementara itu, Bean berpesan agar seseorang membiasakan diri melepas standar yang terlalu mengekang.

“Lepaskan kebutuhan untuk menghasilkan sesuatu dengan sempurna,” pesannya.

Terkini