Menko Pangan Dorong Varietas Baru guna Pertahankan Surplus Beras

Jumat, 04 September 2026 | 22:38:32 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan.

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong pengembangan varietas beras baru, modernisasi mekanisasi, serta efisiensi manajemen produksi untuk menjaga keberlanjutan surplus beras nasional.

Ia menyampaikan bahwa torehan produksi beras sepanjang 2025 merupakan pencapaian positif, namun pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan rumah agar tren kenaikan tersebut bertahan dalam jangka panjang.

“Kami tahun 2025 sudah surplus, tapi sementara,” kata Zulkifli Hasan yang akrab disapa Zulhas saat peluncuran buku di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Pemerintah sebelumnya mengumumkan pencapaian swasembada beras pada 2025 menyusul lonjakan produksi dalam negeri dan nihilnya izin impor beras medium sepanjang tahun tersebut.

Zulhas menilai lonjakan produktivitas pertanian tak sekadar bergantung pada ketersediaan lahan, melainkan sangat ditentukan oleh sentuhan teknologi, varietas bibit, serta manajemen lahan.

“Tentu itu menyangkut teknologi, menyangkut varietas baru, menyangkut manajemen pengolahan sawah. Banyak sekali faktornya sehingga dia bisa produktivitasnya tinggi,” ujar dia.

Ia menambahkan, pembenahan pada ranah tersebut amat dibutuhkan demi mengerek efisiensi produksi pangan domestik sekaligus mengukuhkan daya saing sektor pertanian nasional.

Zulhas menegaskan bahwa mekanisasi pertanian dan perakitan varietas unggul masih menjadi agenda besar pemerintah dalam memperkuat kapasitas produksi padi.

“Kami belum melakukan apa namanya itu varietas-varietas baru belum ada, mekanisasi belum, makanya kami masih mahal. Masih PR kami banyak ini, tapi kami sudah memulai sesuatu yang bertanggung jawab,” katanya.

Ia menguraikan, langkah penguatan kemandirian pangan dijalankan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan serta karakteristik setiap komoditas pangan.

Tahap awal diprioritaskan untuk komoditas beras dan jagung, sebelum nantinya merambah ke sektor gula, garam, hingga komoditas perikanan.

“Oleh karena itu tidak semua kami lakukan sekaligus. Kami bertahap sekarang beras, jagung. Kemudian ini kami akan berkembang ke gula, ke garam, terus ikan,” ujar Zulhas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras konsumsi sepanjang 2025 menembus 34,69 juta ton, melonjak 13,29 persen dari capaian 2024 yang berada di angka 30,62 juta ton.

Luas panen padi pada periode sama menyentuh 11,32 juta hektare, sementara total produksi padi mencapai 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Memasuki 2026, akumulasi luas panen periode Januari hingga Juli mencapai 7,24 juta hektare, naik tipis 0,57 persen dibandingkan kurun waktu sama di tahun sebelumnya.

Potensi produksi beras Agustus–Oktober 2026 diproyeksikan mencapai 9,33 juta ton dari estimasi luas panen 3,07 juta hektare.

Kementerian Pertanian memproyeksikan neraca beras 2026 bakal surplus 3,67 juta ton, dari estimasi produksi 34,77 juta ton berbanding kebutuhan nasional 31,10 juta ton.

Dari sisi persediaan, Perum Bulog hingga 2 September 2026 telah menyerap 3,7 juta ton beras lokal, dengan total stok gudang mencapai sekitar 5,4 juta ton.

Guna menggenjot produktivitas, Kementan menargetkan penerapkan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) pada areal 1 juta hektare sepanjang 2026.

Penerapan PM-AAS di Lampung Tengah terbukti mampu mendongkrak hasil ubinan hingga rata-rata 11,2 ton gabah per hektare menggunakan varietas Inpari 32 dan Inpari 49.

Kementan juga memperkuat basis perbenihan, di mana hingga Agustus 2026 telah menerbitkan 889 sertifikat Hak Perlindungan Varietas Tanaman, termasuk 87 varietas padi adaptif.

Zulhas menegaskan bahwa integrasi teknologi, pemuliaan varietas, dan mekanisasi menjadi pilar penting agar kecukupan pangan berlanjut secara berkesinambungan.

Terkini