El Nino Jadi Risiko Inflasi dan Harga Bawang Merah Berpotensi Naik

Jumat, 04 September 2026 | 23:04:03 WIB
Ilustrasi Cabai.

JAKARTA - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memprediksi bahwa ancaman fenomena El Nino dapat mengerek laju inflasi Indonesia hingga berada di level 3,5 persen pada penutupan tahun 2026.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina mengutarakan bahwa risiko El Nino menjadi variabel yang mesti diantisipasi lantaran berisiko mengerek kenaikan harga komoditas pangan.

"Ada risiko terkait El Nino yang diperkirakan lebih menguat gitu ya faktor resikonya jadi, ada yang kami harus pantau yang semua kami harus pantau tentunya adalah perkembangan terkait dengan harga pangan ke depan," kata Dian dalam Mandiri Macro and Market Brief Kuartal III 2026 di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Berlandaskan dinamika tersebut, Bank Mandiri memilih untuk konsisten mempertahankan estimasi inflasi akhir tahun pada angka 3,5 persen.

Menurut pemaparannya, angka proyeksi tersebut berada persis di batas tertinggi dari kisaran sasaran target Bank Indonesia (BI), yakni rentang 1,5 persen sampai 3,5 persen.

"Jadi kami memang melihat, kami sudah antisipasi ya, ada potensi penguatan dampak El Nino terjadi di semester II ini. Jadi forecast inflasi kami di akhir tahun 3,5 persen itu sebenarnya sudah mencakup risiko kenaikan El Nino," jelasnya.

Dian mengurai bahwa inflasi pada sektor bahan pangan (food inflation) diproyeksikan bakal menyentuh kisaran angka 6 persen di penghujung tahun 2026.

Merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi sektor pangan per Agustus 2026 telah bertengger di angka 4,06 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

"Jadi di akhir tahun kami memperkirakan total headline inflasi itu 3,5 persen. Food inflation-nya, inflasi harga pangan itu kemungkinan di 6 persen," jelasnya.

Kendati terdapat potensi tekanan ekstra terhadap laju inflasi imbas risiko El Nino, Dian menilai dampak dari fenomena tersebut sejauh ini masih dalam batas terkendali.

Lebih jauh, Dian menerangkan bahwa dampak El Nino diproyeksikan akan paling terasa menghantam sektor tanaman hortikultura, khususnya pada bawang merah serta cabai merah.

"Nah memang kalau lebih detilnya, elasticity-nya memang menunjukkan dampak terbesar itu pada komoditas hortikultura," tuturnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan kalkulasi internal Bank Mandiri, setiap terjadi peningkatan indeks El Nino sebesar 11 poin, hal itu berpotensi mengerek harga bawang merah dan cabai merah.

"Jadi kami melihat setiap kenaikan indeks El Nino sebesar 11 poin, itu akan menaikkan harga bawang merah dan cabai merah terutama ya, yang akan terimbas masing-masing kisaran 2 persen, 2,4 persen untuk bawang merah, 2,2 persen untuk cabai merah," ungkapnya.

Kendati demikian, Dian menilai guncangan harga tersebut belum akan menyeret tingkat inflasi umum melampaui batas atas yang dipatok oleh BI.

"Tapi overall headline inflation-nya masih di batas atas tadi ya, target Bank Indonesia di 3,5 persen. Jadi menurut kami dampaknya relatif bisa termanage," ucapnya.

Di luar faktor ancaman El Nino, Bank Mandiri turut memantau dinamika eksternal global yang berpotensi memicu inflasi, mencakup tensi geopolitik dunia yang menahan harga minyak mentah tetap tinggi di kisaran 80 hingga 90 dolar AS per barel.

Terkini