Kebiasaan Orangtua Ini Bisa Jadi Penyebab Karies pada Gigi Anak

Minggu, 06 September 2026 | 21:24:02 WIB
Ilustrasi gigi berlubang pada anak [FOTO: NET].

JAKARTA - Masalah karies gigi hingga saat ini masih menduduki posisi sebagai salah satu gangguan kesehatan gigi yang paling banyak ditemukan pada anak-anak. Berdasarkan rilis data resmi dari pihak Kementerian Kesehatan, tercatat ada sebanyak 40 persen anak usia sekolah serta remaja yang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) teridentifikasi mengalami karies.

Kendala gigi berlubang pada anak nyatanya tidak berdiri sendiri sebagai masalah tunggal. Pelbagai kebiasaan yang terbentuk sejak masa usia dini, termasuk kebiasaan harian yang dilakukan oleh para orangtua, ternyata turut memegang andil dalam memengaruhi kondisi kesehatan gigi buah hati.

Dokter gigi Kurnia Dwi Wulan menjelaskan, gigi berlubang pada anak dapat berkaitan dengan berbagai kondisi yang saling memengaruhi.

“Karies itu sebenarnya multifaktorial. Jadi enggak cuma karena satu (penyebab),” kata Kurnia dalam peluncuran Mayapada Dental Care di Jakarta Timur, Jumat (4/9/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa salah satu faktor pemicu yang turut berperan adalah proses perpindahan bakteri dari tubuh orangtua kepada anak. Fenomena penularan ini umumnya dapat terjadi secara tidak disadari melalui kebiasaan sepele tatkala menyuapi makanan.

Salah satunya kebiasaan ketika orangtua meniup makanan anak yang masih panas sebelum diberikan kepada mereka. Menurut Kurnia, kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu jalur perpindahan bakteri.

“Biasanya ibu-ibu suka niup makanannya. Nah itu secara enggak langsung, apa pun karena takut kepanasan anaknya, nah itu sudah ada transfer bakteri tuh,” jelas Kurnia.

Kendati demikian, bukan berarti kemunculan karies pada gigi anak semata-mata diakibatkan oleh faktor bakteri yang bersumber dari orangtua saja. Ia menegaskan kembali bahwa faktor pemicunya bersifat saling berkaitan secara komprehensif, mencakup aspek keberadaan bakteri, kebiasaan harian, serta pola konsumsi makanan.

“Dari bakterinya itu sendiri, dari kebiasaannya dan dari frekuensi jumlah makanannya,” tambahnya.

Oleh sebab itu, anggapan keliru yang menyatakan bahwa gigi berlubang pada anak hanya bersumber mutlak dari faktor keturunan atau genetik tentu tidak sepenuhnya tepat. Faktor genetik memang turut andil memberikan pengaruh, tetapi hal tersebut bukanlah satu-satunya variabel penentu utama munculnya karies.

Faktor pola makan sehari-hari juga memegang porsi bagian yang amat krusial dalam upaya merawat kesehatan gigi anak. Kurnia memaparkan bahwa asupan makanan bercita rasa manis serta pelbagai sumber karbohidrat berlebih sangat mendukung proses terciptanya karies, terlebih manakala dikonsumsi dalam frekuensi yang terlalu sering.

“Terlalu sering diberi makanan-makanan manis, nah itu jadi mempercepat proses terjadinya gigi berlubang,” ucapnya.

Kondisi merugikan tersebut dapat semakin mudah terjadi manakala kebersihan rongga mulut dan gigi anak tidak terjaga secara optimal. Apalagi jika struktur anatomis gigi geraham anak memiliki kontur lekukan-lekukan dalam yang kerap menjadi celah tempat terselipnya sisa-sisa makanan apabila tidak dibersihkan secara teliti.

“Lekukan-lekukan ini yang ceruknya ini suka ke skip kalau lagi sikat gigi. Nah itu juga salah satu faktor yang menyebabkan jadinya gigi berubang,” papar Kurnia.

Di sisi lain, upaya menjaga kesehatan gigi anak tentu tidak cukup sekadar mengandalkan instruksi mengajarkan cara menyikat gigi mandiri. Dokter gigi Helen Jung memberikan saran agar para orangtua senantiasa mendampingi serta melakukan pengecekan ulang terhadap kebersihan gigi anak selepas mereka merampungkan aktivitas sikat gigi.

Langkah pengawasan ini dinilai sangat penting mengingat tingkat kemampuan motorik anak kecil yang masih dalam tahap tumbuh kembang kerap membuat proses menyikat gigi belum tuntas dikerjakan secara menyeluruh.

“Orangtua harus bantu. Karena anak kecil belum terbiasa, pasti masih ada ketinggalan plak dan kurang bersih,” pesannya.

Helen turut mengingatkan agar pengaturan pola konsumsi makanan dan kedisiplinan rutinitas menyikat gigi harus berjalan secara beriringan. Frekuensi mengonsumsi makanan manis yang terlalu tinggi dapat membuat ikhtiar menjaga kebersihan gigi menjadi sia-sia dan kurang optimal.

“Kalau sering makan manis-manis, pasti sikat gigi pun tidak ada gunanya. Jadi cara sikat giginya juga penting, tapi pola makannya juga penting,” imbuh Helen.

Bentuk peran serta aktif orangtua pada akhirnya tidak sebatas memastikan anak rajin menyikat gigi saja, melainkan mencakup pembentukan kebiasaan sehat yang mendukung kesehatan gigi sejak dini.

Mulai dari mendampingi proses menyikat gigi, mengontrol batasan frekuensi konsumsi makanan manis, hingga menghentikan kebiasaan buruk yang berpotensi mentransfer bakteri menjelma sebagai bagian integral dari upaya perlindungan gigi anak.

Terkini

Prediksi Line Up dan Laga Juventus Vs AC Milan di Liga Italia

Minggu, 06 September 2026 | 22:47:32 WIB

Barcelona Kantongi FFP Rp 1,2 T, Deco Hadapi Pilihan Sulit

Minggu, 06 September 2026 | 22:41:02 WIB

Jelang Valencia Vs Barca, Flick Ragu Lainkan Lamine Yamal

Minggu, 06 September 2026 | 22:28:31 WIB

Haaland Tembus 300 Gol, Lebih Cepat dari Ronaldo dan Mbappe

Minggu, 06 September 2026 | 22:22:02 WIB