Tangkap Peluang AI, BEST dan KIJA Kembangkan Ekosistem Data Center

Senin, 07 September 2026 | 23:35:01 WIB
kawasan industri Jababeka di Cikarang, Jawa Barat [FOTO: NET].

JAKARTA — Melonjaknya kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mengawali era baru bagi peta bisnis kawasan industri di Indonesia. PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) bersama PT Jababeka Tbk. (KIJA) bersiap membangun ekosistem pendukung guna meraih peluang investasi yang lahir dari ekspansi industri digital serta pusat data (data center).

Di samping mendongkrak investasi pusat data, maraknya tren AI turut mengerek permintaan terhadap daya listrik, jaringan konektivitas, pasokan air, ketersediaan lahan, sampai ke industri penyokong. Sederet emiten kawasan industri dituntut beradaptasi. 

Peta persaingan tidak lagi berfokus pada perang harga maupun luas area lahan semata, melainkan bergeser pada keandalan penyediaan ekosistem yang sanggup menopang operasional industri digital dalam jangka panjang.

Sekretaris Perusahaan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) Herdian mengutarakan bahwa ekspansi AI beserta kebutuhan pusat data dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi kawasan industri di Tanah Air.

“Pertumbuhan kebutuhan komputasi dan penyimpanan data akan meningkatkan kebutuhan terhadap lahan, listrik, konektivitas, serta utilitas yang andal,” ujarnya.

Kendati demikian, BEST mencermati kehadiran AI tidak secara otomatis menggeser tingkat permintaan dari sektor manufaktur konvensional. Sebaliknya, lompatan industri digital justru berpotensi memicu terbentuknya ekosistem anyar yang berjalan beriringan dengan sektor manufaktur, rantai logistik, hingga ragam industri pendukung lainnya.

Atas dasar itu, BEST mengukuhkan kesiapan kawasan dari aspek penyediaan lahan, infrastruktur, utilitas, sampai jaringan konektivitas demi menyambut aliran investasi baru tersebut. Potensi masif dari sektor data center tecermin dari pipeline penjualan lahan milik BEST. Per semester I/2026, porsi terbesar pipeline penjualan lahan perseroan didominasi oleh pelaku sektor data center. Sepanjang paruh pertama tahun ini, BEST pun membukukan penjualan lahan industri senilai Rp265 miliar dari target Rp600 miliar hingga akhir tahun.

Herdian menerangkan besaran lahan untuk pengerjaan proyek data center amat bergantung pada dimensi proyek, kapasitas daya, desain fasilitas, serta skema ekspansi operator. Karakteristik khusus ini membuat pembangunan data center umumnya dieksekusi secara bertahap. Perseroan menyelaraskan kesiapan area lahan selaras dengan kebutuhan dan spesifikasi calon investor.

Herdian menilai patokan harga lahan tidak lagi memegang peran tunggal dalam memenangkan persaingan investasi data center. Kalangan investor kini cenderung mencermati kesiapan ekosistem secara utuh, mulai dari ketersediaan dan keandalan pasokan listrik, jaringan konektivitas, mutu infrastruktur, pasokan air, standar keamanan, aspek lokasi, hingga kecepatan durasi pengembangan.

Dinamika tersebut mendorong BEST untuk memantapkan kestabilan ekosistem kawasan MM2100 yang telah dibekali basis industri matang.

“Dengan demikian, kami tidak hanya menawarkan lahan, tetapi juga ekosistem kawasan yang siap mendukung operasional tenant dalam jangka panjang,” ujarnya.

Sebagai muara strategi tersebut, perseroan baru-baru ini meresmikan nota kesepahaman (MoU) bersama PT PLN dalam hal pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan serta menggandeng XenithIG guna memperkuat jaringan konektivitas. Inisiatif strategis ini menjadi bagian terintegrasi dari pengembangan BeFa Digital Town dengan mengusung tema Powering The AI Ready Industrial Ecosystem: Power, Connection, Assured.

Meski demikian, perseroan menegaskan tidak akan mengucurkan belanja modal secara ugal-ugalan tanpa memperhitungkan kalkulasi prospek permintaan. BEST konsisten memegang prinsip selektif serta disiplin dalam membagikan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex), dengan selalu mempertimbangkan kebutuhan pasar, pipeline investasi, hingga potensi tingkat imbal hasil investasi.

KIJA Bidik Ekosistem Digital Lebih Luas

Setali tiga uang, Sekretaris Perusahaan PT Jababeka Tbk. (KIJA) Muljadi Suganda memaparkan bahwa AI berpotensi menjadi game changer bagi peta bisnis kawasan industri nasional. Namun, muara peluang tersebut tidak berhenti pada pembangunan fisik data center semata. AI diproyeksikan ikut mengubah tatanan skema kerja industri, memacu efisiensi dan produktivitas, serta mengerek daya saing. Dampaknya, kawasan industri masa depan tak lagi cukup hanya memfasilitasi tanah dan infrastruktur dasar.

“Kawasan industri ke depan tidak cukup hanya menyediakan tanah dan infrastruktur, tetapi harus berkembang menjadi sebuah ekosistem yang mendukung transformasi teknologi dan pengembangan SDM,” kata Muljadi.

Menurut pemaparannya, Indonesia menyimpan peluang besar untuk menjaring derasnya arus investasi tersebut apabila sanggup mematangkan fasilitas infrastruktur, payung regulasi, kualitas sumber daya manusia, serta jaminan kepastian investasi yang kompetitif.

Muljadi menjelaskan perseroan terus menjalin komunikasi intensif dengan beragam calon investor sekaligus membenahi kawasan demi mengakomodasi kebutuhan industri digital. Perseroan masih menahan pengumuman besaran angka pipeline sebelum mendapati komitmen yang terbilang konkrit untuk dipublikasikan.

Jababeka juga tak sebatas mengincar investasi data center. Perseroan memantau ceruk peluang yang lebih luas pada ekosistem digital mencakup AI, cloud computing, teknologi industri, sampai bidang pendidikan dan pengembangan SDM. 

Dari sisi infrastruktur, KIJA menegaskan telah mengantongi fasilitas pendukung untuk menyokong pengembangan data center di dalam kawasan, meliputi pasokan daya listrik, suplai air, konektivitas, hingga fasilitas penunjang lainnya. Berbekal kesiapan itu, perseroan mengklaim siap melayani kebutuhan investor data center yang berniat mengepakkan sayap bisnis di kawasan Jababeka.

Saat ini, KIJA memilih memupuk pundi-pundi pendapatan berulang (recurring income) sebagai jangkar penahan kinerja di tengah koreksi perolehan laba pada semester I/2026. Langkah ini ditempuh usai Jababeka mencatatkan angka pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,44 triliun pada semester I/2026, terkoreksi 11% dibandingkan Rp2,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu. 

Perseroan juga berbalik menanggung rugi bersih senilai Rp6,4 miliar, dari posisi laba bersih Rp627,6 miliar pada semester I/2025.

Menariknya, porsi pendapatan berulang justru terus merambat naik. Pilar Infrastruktur mengukir pertumbuhan pendapatan hingga 15% pada semester I/2026, sehingga kontribusi recurring revenue terkerek naik menjadi 57% dari total pendapatan konsolidasian, naik dibanding posisi 45% pada kurun yang sama tahun lalu.

Menurutnya, penguatan kontribusi recurring income memegang peranan krusial guna menekan ketergantungan terhadap transaksi penjualan lahan industri yang bersifat fluktuatif serta bergantung pada momentum pengakuan pendapatan.

Terkini