Kenali 5 Tanda Anak Mulai Berpikir Kritis Sejak Usia Dini Menurut Pakar

Senin, 07 September 2026 | 05:19:31 WIB
Ilustrasi Anak Berpikir Kritis.

JAKARTA — Tanda seorang anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir kritis tidak sekadar diukur dari kebiasaannya yang gemar bertanya. Lantas, seperti apa indikator utamanya?

Kecakapan berpikir kritis merupakan kemampuan esensial yang dibutuhkan setiap individu. Pada anak-anak, fondasi awal kemampuan ini umumnya mulai muncul sejak menginjak usia 4 tahun. Di fase ini, anak mulai mengasah pola pikir kritis dalam tingkat yang sederhana.

Kecakapan berpikir kritis pada anak akan kian terasah seiring bertambahnya usia. Kemampuan ini sangat diperlukan untuk mencerna, menilai, serta mengambil keputusan berdasarkan alasan yang masuk akal.

Perlu dipahami bahwa sikap suka membantah atau ngeyel tidak serta-merta menandakan si kecil berpikir kritis. Anak yang sering menyanggah belum tentu memiliki pola pikir kritis.

Dalam aspek kemampuan ini, poin utama yang perlu dicermati adalah kecakapan anak dalam mengajukan pertanyaan, mencari argumentasi pendukung, hingga menimbang berbagai kemungkinan.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa indikator anak mulai memiliki kemampuan berpikir kritis:

1. Tidak langsung percaya pada jawaban orang dewasa Anak yang mulai melatih kemampuan berpikir kritis tidak akan menelan bulat-bulat jawaban dari orang dewasa. Pada tahap ini, si kecil bakal menanyakan alasan seperti 'kenapa?' atau 'kok bisa?' saat merespons sebuah penjelasan.

Menukil kajian ilmiah dalam Journal of Experimental Child Psychology (JECP), kebiasaan tersebut bukan sekadar mencerminkan anak yang aktif bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa si kecil mulai menghubungkan berbagai informasi dan mencari penalaran yang logis.

2. Punya alasan saat menyampaikan pendapat Ulasan yang dipublikasikan dalam jurnal Thinking Skills and Creativity menyebutkan bahwa kemampuan menyampaikan argumentasi menjadi salah satu karakter critical thinking yang paling sering dijumpai pada studi anak usia dini.

Sebagai contoh, ketika si kecil menolak menggunakan sepatu tertentu, ia tidak hanya berucap 'Aku tidak mau'. Lebih dari itu, ia akan menolak sembari menyertakan alasan lugas seperti 'Aku tidak mau memakai sepatu itu karena solnya licin'.

3. Mau mengubah pendapat saat menemukan informasi baru Pandangan terhadap suatu hal akan terus berkembang seiring ditemukannya bukti-bukti baru, begitu pula pada anak-anak.

Misalnya, si kecil awalnya beranggapan bahwa seluruh kucing takut kepada anjing. Namun, suatu hari ia menyaksikan kucing dapat bermain bersama anjing. Dari pengalaman itu, si kecil mengoreksi pendapatnya bahwa ada pula kucing yang tidak takut pada anjing.

Hal ini menandakan anak mulai memahami bahwa sebuah gagasan dapat bergeser saat dihadapkan pada fakta baru.

4. Mulai mengatakan 'aku tidak tahu' atau 'aku cuma kira-kira' Pada kondisi ini, anak mulai sanggup memisahkan antara hal yang benar-benar ia ketahui dengan hal yang sebatas dugaan. Aspek ini berkaitan erat dengan metacognition, yaitu kecakapan memantau dan mengevaluasi alur berpikir sendiri.

Contohnya, saat orang tua menanyakan penyebab tas sekolahnya basah, si kecil akan merespons, 'Aku tidak tahu pasti, mungkin karena tadi terkena hujan gerimis'.

Masih merujuk riset di JECP, penelitian pada anak usia 4-6 tahun mendapati bahwa kemampuan memantau keyakinan serta menggunakan pertanyaan efektif untuk memecahkan masalah kian meningkat seiring pertambahan umur.

5. Mulai mempertanyakan aturan, bukan sekadar menolaknya Sekali lagi, sikap membantah bukan cerminan langsung dari berpikir kritis. Namun, jika sanggahan tersebut dibarengi dengan pertanyaan mendasar, hal itu dapat dikategorikan sebagai bentuk kritis.

Misalnya, si kecil mulai bertanya, 'Kenapa aku harus tidur sekarang?' atau 'Kenapa setelah selesai makan tidak boleh langsung bermain?'.

Mulai mempertanyakan latar belakang suatu aturan serta berusaha memahami kelayakan aturan tersebut menandakan indikasi awal kemampuan berpikir kritis anak mulai terbangun.

Terkini