Dampak Keracunan Makanan pada Anak, dari Dehidrasi hingga Otak

Selasa, 08 September 2026 | 01:08:31 WIB
Ilustrasi Anak Sakit [FOTO: NET].

JAKARTA - Kasus keracunan massal yang diduga bersumber dari sajian Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menyedot perhatian luas. Berdasarkan pemantauan Kompas.com dalam rentang sepekan terakhir, insiden ini melanda ratusan penerima manfaat usia sekolah mulai dari Tana Toraja, Rembang, Nganjuk, hingga Sidoarjo.

Dampak paling berat tercatat di lingkungan pesantren Manbaul Hikam Sidoarjo, yang mana lebih dari 500 anak mendadak tumbang akibat gangguan pencernaan. Merespons fenomena tersebut, para orang tua dituntut untuk kian memahami sejauh mana dampak buruk penyakit ini bagi tubuh sang buah hati.

Kompas.com melakukan wawancara bersama sejumlah pakar dalam artikel ini pada Jumat (4/9/2026), Sabtu (5/9/2026), dan Senin (7/9/2026). Informasi ini disajikan untuk memberikan edukasi kesehatan secara umum seputar gangguan saluran cerna.

Ancaman serius di balik kasus keracunan makanan berulang

Gangguan akibat konsumsi makanan tercemar tidak sekadar membuat perut anak terasa melilit dalam beberapa hari. Terdapat potensi bahaya bawaan yang mampu menyerang organ vital lain apabila kondisi dehidrasi dibiarkan tanpa penanganan.

Spesialis penyakit dalam, dr. Wirawan Hambali, SpPD, FINASIM menerangkan, bahwa risiko yang paling cepat timbul berkaitan erat dengan keseimbangan kadar cairan di dalam tubuh.

"Dampak jangka pendek yang paling penting adalah dehidrasi dan gangguan elektrolit. Pada kasus berat dapat terjadi gangguan ginjal, kejang, atau infeksi berat atau sepsis," ujar dr. Wirawan, Jumat.

Senada dengan pandangan itu, spesialis anak, dr. Rizqi Agung Wicaksana, Sp.A, merinci bermacam masalah turunan yang membayangi. Di samping komplikasi kala anak terkulai lemas, fungsi sistem organ dapat mengalami penurunan hingga berbulan-bulan setelahnya.

"Jangka pendek muntah, demam, diare sampai dehidrasi dan sepsis. Jangka panjang inflammatory bowel syndrome, malnutrisi atau weight faltering, sindrom hemolitik uremik, intoleransi laktosa," papar dr. Rizqi, Sabtu.

Kerusakan ginjal dan sindrom saraf

Kendati diare pada anak telah mereda, bakteri patogen tertentu secara diam-diam dapat meninggalkan dampak kerusakan pada darah serta sistem saraf pusat.

Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., M.Kes., CHt., FISQua menjelaskan bahwa sebagian mikroorganisme memicu respons autoimun hingga kegagalan filtrasi organ secara masif.

"Kuman ini akan meninggalkan jejak ataupun sisa, jauh setelah keluhannya atau diarenya selesai. Kayak misalkan infeksi E. coli, itu bisa menyebabkan ada yang dikatakan sebagai sindroma hemolitik uremik atau HUS," sebut dr. Arifin, Senin.

Kondisi fatal tersebut dipicu oleh kerusakan sel darah merah yang berujung pada tersumbatnya sistem penyaringan ginjal, sehingga sekitar 5-10 persen pasien berisiko mengalami gagal ginjal akut.

Di samping itu, terdapat ancaman lain yang menyasar sistem gerak tubuh apabila dipicu oleh jenis bakteri berbeda.

"Infeksi lain contohnya misalkan keracunan karena Campylobacter, ini punya risiko terjadinya gangguan saraf yang menyebabkan kelemahan otot. Bahasa kedokterannya Sindroma Guillain-Barre," tambah dr. Arifin.

Gangguan tumbuh kembang dan kognitif

Secara umum, mayoritas korban gangguan pencernaan ini sanggup pulih secara total tanpa cacat fisik. Meski begitu, bila infeksi terjadi berulang kali, tubuh anak dipaksa menyedot cadangan nutrisinya untuk melawan kuman.

Proses penyerapan gizi yang terganggu akibat rusaknya mikrobiota usus bakal menjadi penghambat besar pada periode emas pertumbuhan fisik balita.

"Gangguan tumbuh kembang terutama menjadi perhatian bila diare berlangsung lama atau berulang," tutur dr. Wirawan.

Bukan sekadar hambatan tinggi dan berat badan yang tertahan, fungsi otak anak nyatanya turut terdampak. Stagnasi asupan gizi akibat terlalu sering mengalami sakit perut membuat anak terancam gagal meraih potensi kecerdasan secara maksimal.

"Bisa ada seharusnya dia mencapai lebih tinggi, tetapi bisa jadi ada stagnansi 10 poin IQ pada saat anak (berusia) tujuh sampai sembilan tahun, kalau misalkan status gizinya kurang bagus," terang dr. Arifin.

Oleh karena itu, orang tua dilarang menganggap remeh sekecil apa pun gejala perut melilit yang dirasakan buah hati. Apabila tidak segera ditangani secara tuntas, satu episode penyakit ini mampu merusak fondasi kesehatan anak di masa depan.

"Jadi kalau episode yang kami pikir keracunan cuman satu masalah, ini ternyata bisa memberikan efek yang cukup serius kalau dia berkelanjutan atau berulang apalagi," pungkas dr. Arifin.

Terkini