Rumus Demokrasi Indonesia ala Prabowo: Beda Warna Tetap Bersahabat

Kamis, 10 September 2026 | 17:55:31 WIB
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberi sambutan pada acara Perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat, Rabu (9/9/2026) [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwasanya segala bentuk perbedaan pandangan, kritik, hingga persaingan dalam kancah politik merupakan esensi yang melekat pada sistem demokrasi di Indonesia.

Menurut pandangannya, dinamika perbedaan tersebut semestinya tidak sampai mengikis nilai kerukunan serta jalinan persahabatan antar-seluruh elemen anak bangsa.

Pernyataan itu diutarakan secara langsung oleh Prabowo ketika memberikan pidato sambutan dalam rangkaian acara puncak peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat yang bertempat di Indonesia Arena, Kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, pada hari Rabu (9/9/2026).

"Ini demokrasi Indonesia dan hari ini di panggung ini ya inilah demokrasi Indonesia. Macam-macam warna, bersaing, kritik, menyampaikan saran, memberi rekomendasi, menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak enak untuk disampaikan tapi tetap kami rukun, tetap bersahabat, tetap berkeluarga," kata Prabowo.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa kultur kebersamaan semacam itu wajib terus dipelihara dalam ekosistem kehidupan berdemokrasi di Tanah Air. Prabowo memandang bangsa Indonesia menyimpan berbagai keterbatasan sekaligus tantangan masif yang menuntut penyelesaian bersama.

"Ini yang harus kami pegang. Kami banyak kekurangan, kami banyak tantangan," ujarnya.

Prabowo menggarisbawahi bahwa skala besar wilayah Indonesia secara otomatis membuat spektrum permasalahan yang dihadapi jauh lebih kompleks.

Ia lantas mengambil perbandingan antara tantangan yang dihadapi Indonesia dengan negara tetangga Singapura jika ditinjau dari instrumen jumlah satuan pendidikan sekolah.

"Kita negara sangat besar ya berarti masalahnya juga masalah besar," kata Prabowo.

Dirinya memaparkan contoh di mana Singapura tercatat hanya memiliki kisaran 300 unit sekolah yang mencakup jenjang pendidikan SD, SMP, hingga SMA di keseluruhan wilayah kedaulatannya.

Sebaliknya, wilayah teritorial Indonesia menaungi lebih dari 300.000 institusi sekolah yang tersebar merata di berbagai penjuru kepulauan.

"Negara Singapura punya 300 sekolah seluruh Singapura SD, SMP, SMA 300. Indonesia lebih dari 300.000 sekolah," tuturnya.

Berdasarkan analisis Prabowo, luasnya bentang geografis Indonesia menghadirkan problem tersendiri dalam hal pemerataan fasilitas layanan pendidikan. Satuan-satuan pendidikan tersebut tidak sekadar berdiri di kawasan perkotaan yang mapan, melainkan pula mencakup wilayah pelosok pegunungan hingga pulau-pulau terluar.

"Ada yang di ujung gunung, di pulau yang jauh, jadi memang masalah kami besar, tantangan kami besar," ujarnya.

Di samping faktor bentang geografis, Prabowo menuturkan bahwa posisi kepulauan Indonesia turut berada di wilayah bentangan alam yang menyimpan pelbagai potensi kerawanan bencana.

Kendati demikian, ia meyakini bahwa bangsa Indonesia terbukti tangguh merawat simpul persatuan di tengah mozaik keberagaman yang ada.

"Dan kami berada di alam yang banyak tantangan juga tapi alhamdulillah bangsa kami di usia ke-81 kokoh, bersatu, berbeda tapi kami kokoh bersatu dan kami semakin kuat menghadapi masa depan," kata Prabowo.

Terkini