Implementasi Perpres 79 2026 Dorong Kinerja TINS Makin Positif di 2026

Kamis, 10 September 2026 | 02:17:01 WIB
PT Timah Tbk. (TINS)

JAKARTA - PT Timah Tbk. (TINS) menilai implementasi Perpres No.79/2026 tentang Perbaikan Tata Kelola Pertimahan di Kepulauan Bangka Belitung dapat menjadi katalis pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun 2026.

Direktur Produksi dan Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra menjelaskan substansi kebijakan tersebut tidak hanya menyangkut pengelolaan industri timah, tetapi juga mendorong perbaikan tata kelola dari hulu hingga hilir.

"Inti dari Perpres itu bagaimana melakukan perbaikan tata kelola perlembagaan timah dari hulu ke hilir, dari area eksplorasi sampai juga akan ada ruang untuk pertumbuhan bijih khususnya di area operasi," terangnya dalam paparan publik, Kamis (10/9/2026).

Dengan tata kelola yang semakin terintegrasi, TINS melihat terdapat ruang untuk meningkatkan produktivitas dan optimalisasi sumber daya.

Hal tersebut dinilai dapat menjadi tambahan katalis bagi pertumbuhan kinerja perusahaan pada paruh kedua tahun ini.

Ilhamsyah bahkan menyebut implementasi kebijakan tersebut dapat menjadi trigger bagi peningkatan kinerja dan laba bersih TINS.

"Tentu itu akan menjadi trigger performance untuk pertumbuhan yang lebih baik lagi, yang lebih tinggi lagi untuk net income pada 2026," jelasnya.

Ilhamsyah menilai prospek semester II 2026 juga ditopang kondisi pasar timah global yang masih ketat.

Hingga Juli 2026, harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) meningkat 38,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

TINS memperkirakan harga timah sepanjang 2026 berada dalam rentang US$37.000–US$55.000 per metrik ton.

Menurutnya, harga timah masih berpotensi bertahan kuat karena pertumbuhan konsumsi timah global lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan produksi.

Selain itu, Ilhamsyah menilai peluang penguatan harga timah semakin terbuka karena permintaan dari sejumlah industri berbasis teknologi terus bertumbuh.

Industri artificial intelligence (AI) dan semikonduktor, misalnya, diperkirakan mengalami pertumbuhan sekitar 2 persen hingga 3 persen di masing-masing aspek.

Perbaikan harga dan kinerja tersebut turut mendorong perseroan mengajukan perubahan RKAP 2026.

Dalam target awal, TINS menetapkan produksi sekitar 30.000 ton Sn, pendapatan Rp15,4 triliun, dan laba bersih Rp1,6 triliun.

Namun, target keuangan tersebut telah terlampaui hanya dalam enam bulan pertama sehingga perseroan mengusulkan target baru yang lebih tinggi.

"Dengan masih kuatnya harga logam Artinya proyeksi pada semester II/2026 dirasa laba bersih dan kinerja bisa lebih tebal dibandingkan semester I/2026 ini," terangnya.

Optimisme pada paruh kedua itu sejalan dengan kinerja operasional semester I 2026.

Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, melonjak 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Produksi logam timah juga tumbuh 58 persen menjadi 10.865 ton dari sebelumnya 6.800 ton.

Pertumbuhan produksi tersebut turut mendorong penjualan logam timah hingga 10.984 ton, naik 85 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar 5.933 ton.

Dari sisi harga, harga jual rata-rata logam timah hingga Juni 2026 mencapai US$49.794 per metrik ton, meningkat 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi pasar, sekitar 97 persen penjualan TINS ditujukan untuk ekspor dan hanya 3 persen untuk pasar domestik.

Asia menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 75 persen, disusul Eropa 19 persen dan Amerika 3 persen.

Di Asia, China menjadi pasar terbesar dengan porsi 35 persen, diikuti India dan Jepang masing-masing 12 persen, serta Korea Selatan 11 persen.

Terkini