Imbas Erupsi Anak Krakatau Kemenkes Pantau Kualitas Udara Soetta

Jumat, 11 September 2026 | 20:58:01 WIB
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono melakukan peninjauan dan pemantauan kualitas udara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperketat pemantauan kualitas udara imbas erupsi Gunung Anak Krakatau serta paparan abu vulkanik yang melanda berbagai kawasan.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyatakan di Jakarta, Jumat, bahwasanya pantauan di beberapa titik Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, pada Rabu (9/9), mencatatkan konsentrasi PM2,5 di area luar ruangan masih melebihi batas aman.

Sebagai contoh di Terminal Damri Bandara Soetta, hasil ukur mencatat PM2,5 mencapai angka 63 µg/m³, sedangkan ambang batas aman PM2,5 hanya sebesar 25 µg/m³.

Pemeriksaan tersebut memanfaatkan alat particulate counter guna mendeteksi kadar konsentrasi partikulat, khususnya PM2,5.

Wamenkes menegaskan situasi ini menandakan walau operasional penerbangan telah dibuka berkat hasil paper test, sisi kualitas udara untuk kesehatan publik mesti tetap diwaspadai.

“Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi,” ujar Wamenkes Dante.

Ia menilai, pendeteksian memakai particulate counter sangat krusial untuk mendeteksi partikulat mikro yang berisiko bagi kesehatan walau tidak kasatmata.

“Untuk kesehatan, itu kami pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kami anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi,” kata dia.

Merujuk pada pantauan Kemenkes tanggal 8 September 2026, sejumlah titik di area Bandara Soetta beserta sekitarnya mencatatkan kadar PM2,5 dan PM10 yang masih melampaui standar aman.

Pengujian tersebut dilangsungkan secara rutin oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) memakai Air Quality Detector/Particulate Counter.

Wamenkes Dante menyerukan warga yang perlu beraktivitas di luar gedung agar mengenakan masker, terutama sewaktu berada di area dengan kadar partikulat tinggi.

Ia memaparkan bahwa abu vulkanik mengangkut berbagai ukuran partikulat. Partikel mikro macam PM2,5 dapat terhirup dalam-dalam ke organ paru-paru serta memicu bahaya gangguan kesehatan, terkhusus bagi kelompok rentan.

Sampai 6 September 2026, pihak Kemenkes mendata ada 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di daerah terdampak paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang tersebar di empat provinsi serta 23 kabupaten/kota.

Atas total tersebut, sebanyak 3.771 kasus menyerang kelompok umur 0–5 tahun, sedangkan 12.988 kasus lainnya menimpa usia di atas 5 tahun.

Wamenkes Dante menyampaikan temuan Kemenkes memperlihatkan lonjakan ISPA pada 2026 ini tercatat lebih tinggi dibanding kurun waktu serupa pada 2025. Oleh sebab itu, warga diminta terus waspada terhadap indikasi gangguan saluran pernapasan.

Kemenkes bakal terus mengawasi kondisi mutu udara serta dinamika dampak kesehatan dari erupsi Gunung Anak Krakatau demi menjamin perlindungan bagi masyarakat.

Terkini