Kemendikdasmen Dorong Pendekatan STEAM Siapkan Murid SMK di Industri

Jumat, 11 September 2026 | 21:18:32 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan pembelajaran sains, teknologi, engineering, seni (arts), dan matematika (STEAM) menjadi bekal bagi para murid SMK untuk menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja yang berlangsung cepat.

“Dunia kerja bergerak sangat cepat. World Economic Forum (WEF) memperkirakan 39 persen keterampilan yang dimiliki pekerja akan menjadi usang pada periode 2025-2030,” kata Staf Khusus (Stafsus) Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru Maila Dinia Husni dalam webinar bertajuk "STEAM: Dari Imajinasi, Inovasi hingga Prestasi" di Jakarta pada Jumat.

Perubahan tersebut, menurutnya, membuat kebutuhan terhadap kecakapan kecerdasan buatan (AI), literasi data dan teknologi, berpikir kreatif, ketangguhan, serta kemauan untuk terus belajar semakin meningkat.

Maila menambahkan bahwa siswa SMK saat ini tidak hanya dituntut menguasai kompetensi yang dibutuhkan saat ini, melainkan juga harus memiliki kemampuan belajar secara berkelanjutan mengingat perkembangan teknologi dan mekanisme kerja berubah sangat cepat.

Hal tersebut sejalan dengan laporan WEF yang mencatat bahwa 85 persen perusahaan bakal memprioritaskan peningkatan keterampilan (upskilling) tenaga kerja hingga 2030.

“Bagi murid SMK, sertifikat kompetensi adalah bekal awal. Sementara pembelajaran dengan pendekatan STEAM melatih kebiasaan para murid dalam mempelajari alat baru, membaca data, menerima umpan balik, dan memperbaiki hasil,” imbuhnya.

Ia menuturkan pendekatan STEAM sangat relevan dengan kebutuhan industri lantaran persoalan di dunia kerja tidak hadir secara terpisah dalam kotak-kotak mata pelajaran.

Kendaraan listrik, otomasi, pertanian cerdas, energi terbarukan, film, hingga teknologi Extended Reality (XR) misalnya, memerlukan penguasaan berbagai bidang ilmu secara terintegrasi.

“Industri memerlukan lulusan yang mampu bekerja bersama dan menghasilkan solusi yang berfungsi, aman, efisien, serta sesuai dengan kebutuhan pengguna,” ucap Maila.

Oleh karena itu, ia menilai STEAM memiliki kedekatan dengan pendidikan SMK yang selama ini berbasis pada praktik dan karya.

Menurutnya, SMK bahkan telah memiliki laboratorium STEAM dalam bentuk nyata, seperti bengkel, dapur, studio, tempat praktik kerja lapangan, dan teaching factory.

Di dapur misalnya, ia menjelaskan murid dapat mengintegrasikan bahan, proses, takaran, teknologi, penyajian, hingga kebutuhan pasar. Sementara di bengkel, sains bertemu dengan teknik, pengukuran, keselamatan, kreativitas, dan desain.

Pada bidang tata busana, fungsi bahan, ukuran, estetika, serta kebutuhan konsumen juga dipadukan untuk menghasilkan sebuah karya.

“Ketika semua unsur itu disatukan dalam karya, STEAM menjadi kemampuan untuk mencipta. Inilah kekuatan lulusan SMK,” ujarnya.

Ia menegaskan lulusan SMK memiliki keunggulan karena tidak sekadar memahami konsep STEAM, melainkan juga mampu mempraktikkan dan menghasilkan karya berdasarkan bidang-bidang tersebut.

“Teman-teman SMK memahami, mempraktikkan, dan membuat sains, teknologi, engineering, dan matematika dalam bentuk yang sesungguh-sungguhnya,” kata Maila.

Terkini