Industri Bank Digital Tumbuh Positif, SeaBank Raih Laba Terbesar

Jumat, 11 September 2026 | 23:25:31 WIB
Ilustrasi bank digital [FOTO: NET].

JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang industri bank digital di Indonesia bergerak ke arah positif yang tecermin dari kemampuan sejumlah bank digital mendulang laba. Kendati demikian, OJK mengingatkan bahwa model bisnis bank digital masih dalam tahap evolusi sehingga ekspansi industri perlu dijaga agar tetap berkelanjutan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengutarakan bahwa progres bank digital di Tanah Air layak diapresiasi. Menurutnya, fase berikutnya bagi sektor ini adalah memastikan agar model bisnis digital mampu bertumbuh secara berkesinambungan, inklusif, serta memiliki ketahanan yang tangguh.

“Ukuran keberhasilan tentu tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba dalam jangka pendek. Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan,” ujarnya dalam acara Bisnis Indonesia Group (BIG) Financial Insight 2026 bertema 'Digital Banking at Five: Shaping an Inclusive Financial Ecosystem', Rabu (9/9/2026).

Berdasarkan pandangan Dian, kualitas ekspansi bank digital tergambar lewat sejumlah indikator. Aspek tersebut mencakup struktur pendanaan yang sehat, mutu aset yang terpelihara, kenaikan efisiensi, permodalan yang kuat, serta kapasitas mencetak profitabilitas secara konsisten.

Dian menuturkan, dinamika bank digital Indonesia perlu dipahami dalam kerangka industri global. Dirinya mencontohkan beberapa negara yang telah lebih dulu merintis bank digital, tetapi sebagian besar masih memerlukan rentang waktu panjang demi mencapai titik impas. Di Singapura, kata Dian, bank digital telah beroperasi hampir 5 tahun. 

Namun, pada 2025 baru satu dari lima bank digital yang berhasil mencatatkan profit. Sementara di Arab dan Hong Kong, hanya tiga dari delapan bank digital yang telah mencapai titik impas meski sudah beroperasi lebih dari lima tahun.

“Contoh tersebut tentunya bukan untuk menjustifikasi kinerja bank digital di Indonesia, melainkan memberikan gambaran kepada kami bahwa semua model bisnis bank digital ini masih dalam tahap perkembangan,” katanya.

SeaBank Tumbuh Konsistent

Lantas, bank digital mana saja yang telah mencetak laba? Dataindonesia mencatat PT Seabank Indonesia (SeaBank) menjadi salah yang konsisten tumbuh pada 5 tahun terakhir. Bank digital terafiliasi Sea Group (Shopee) ini telah mencetak laba sejak 2022 lalu. Sejak itu, SeaBank konsisten mencetak laba hingga meraup Rp678,43 miliar pada 2025 lalu.

Perolehan laba SeaBank itu menjadi yang terbesar jika dikomparasikan dengan bank digital lain seperti Bank Jago, Superbank, Neo Commerce, dan sejenisnya. Mengacu pada laporan keuangan, SeaBank tercatat membukukan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp749,25 miliar pada semester I/2025, melampaui capaian sepanjang 2025 lalu.

Pundi-pundi laba SeaBank pada semester I/2026 itu melonjak lebih dari 200% secara tahunan (year on year/YoY) dibanding perolehan Rp213,80 miliar pada semester I/2025. Keuntungan tersebut ditopang oleh kinerja intermediasi yang solid dengan penyaluran kredit mencapai Rp39,80 triliun pada semester I/2026, yang mengalami pertumbuhan 53,11% YoY.

Ekspansi kredit itu turut mendongkrak total aset SeaBank hingga menyentuh angka Rp52,97 triliun pada paruh pertama 2026, sekaligus mengokohkan posisinya sebagai bank digital beraset terbesar di Indonesia. Pertumbuhan pembiayaan tersebut disokong oleh himpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp41,80 triliun atau naik 47,59% YoY.

Pada saat yang bersamaan, SeaBank juga sanggup menjaga perolehan dana murah (current account saving account/CASA) pada level 69,62%, relatif stabil dengan posisi semester I/2025. Seirama dengan ekspansi fungsi intermediasi, SeaBank mengantongi pendapatan bunga bersih senilai Rp5,47 triliun pada semester I/2026, melesat tinggi dari pencapaian Rp3,62 triliun pada paruh pertama 2025.

Di luar lini bisnis utama, penedapatan SeaBank turut dipertebal oleh layanan berbasis komisi (fee based income) yang membukukan angka Rp410,69 miliar, menanjak signifikan dari Rp128,88 miliar pada semester I/2025.

"Fokus kami ke depan adalah terus berinovasi pada fitur-fitur transaksi, memperkuat infrastruktur keamanan siber, dan mendorong inklusi keuangan untuk memastikan akses keuangan digital bagi seluruh masyarakat Indonesia," ujar Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley.

Arah gerak SeaBank tersebut selaras dengan hasil riset Litbang Kompas yang dipublikasikan pada pertengahan 2026, yang menunjukkan bahwa bank digital kini telah merambah segmen demografi yang lebih muda. 

Survei yang diadakan pada 6-10 Maret 2026 terhadap 415 responden di pelbagai kota besar Indonesia memperlihatkan bahwa basis pengguna terbanyak bank digital didominasi oleh generasi milenial muda (rentang usia 28-35 tahun) dengan porsi mencapai 38,5% dari total 415 responden.

Peringkat kedua pengguna bank digital diisi oleh generasi Z (usia 17-27 tahun) sebesar 25,8%, diikuti oleh kelompok milenial madya (usia 36-43 tahun) sebanyak 19,6%. Selanjutnya, porsi dari generasi X (usia 44-57 tahun) serta baby boomer (di atas 57 tahun) masing-masing tercatat sebesar 14,3% dan 1,9%.

Menilik data Litbang Kompas yang sama, SeaBank (PT Seabank Indonesia) tercatat sebagai platform yang paling digandrungi oleh kalangan milenial muda (43,2%) dan generasi Z (29,5%). 

Proporsi pengguna milenial muda yang memanfaatkan layanan bank digital naungan ekosistem Sea Group (Shopee) ini berada di atas pemain lain semacam Bank Jago (ARTO), Blu BCA, Superbank (SUPA), hingga Jenius.

Menariknya, SeaBank menjadi satu-satunya bank digital dengan konsentrasi pengguna di wilayah kabupaten yang mencapai 59,2%. Sisa porsinya yang sebesar 40,8% terkonsentrasi di kawasan perkotaan. 

Potret tersebut berlainan dengan bank digital lain yang mayoritas pangsa penggunanya bermarkas di kota, seperti Bank Jago (53,1%), Blu BCA (72,9%), Superbank (62,7%), serta Jenius (54%).

"Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bank digital masih sangat ditopang oleh generasi usia produktif muda, sementara penetrasi pada kelompok usia yang lebih tua masih relatif terbatas," tulis Litbang Kompas dalam publikasi resminya baru-baru ini.

Terkini