Pertamina Sebut Peralihan Konsumsi BBM Picu Antrean Panjang di SPBU

Minggu, 13 September 2026 | 12:29:32 WIB
Ilustrasi Antrean SPBU Pertamina.

JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga membeberkan pemicu terjadinya antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU di pelbagai daerah belakangan ini. Salah satu faktor utamanya yaitu adanya pergeseran (shifting) konsumsi masyarakat dari produk BBM nonsubsidi menuju BBM subsidi.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyatakan bahwa secara umum ketersediaan pasokan BBM berada dalam kondisi yang aman.

Meski demikian, lonjakan harga BBM nonsubsidi mendorong sebagian konsumen beralih memanfaatkan Pertalite serta Biosolar untuk kebutuhan harian.

"Kenapa banyak berita-berita antrean ini, sebenarnya secara BBM stok tersedia. Hanya saja karena terjadinya shifting, karena kenaikan harga cukup tinggi ya, ada shifting dari produk-produk yang non-PSO, Pertamax series kemudian Dex, itu ke Pertalite maupun Biosolar," jelas Eko di sela-sela Pertamina Media Xpose, Jumat (11/9/2026).

Eko menerangkan bahwa perubahan pola konsumsi warga tersebut mengakibatkan penumpukan antrean di pelbagai SPBU, utamanya pada wilayah yang memiliki keterbatasan sarana maupun prasarana. Situasi seperti ini antara lain ditemui di beberapa kawasan Sumatra, Sulawesi, hingga Kalimantan.

Menurutnya, kapasitas operasional SPBU pada dasarnya dirancang selaras dengan estimasi kebutuhan serta jumlah populasi masyarakat di area sekitarnya. Imbas pergeseran konsumsi ini membuat kapasitas dispenser maupun nozzle untuk BBM subsidi di sejumlah SPBU menjadi terbatas dibanding lonjakan permintaan saat ini.

"Di beberapa titik SPBU ini juga sangat terbatas fasilitas sarprasnya untuk bisa menambah dispenser ataupun nozzle untuk produk-produk seperti Pertalite maupun Biosolar. Karena kami sudah mendesain sesuai kondisi kebutuhan atau populasi," kata Eko.

Guna mengurangi kepadatan antrean, Pertamina Patra Niaga tengah menyiapkan opsi pembangunan SPBU berskala lebih kecil. Sarana penunjang tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan distribusi BBM, khususnya bagi area yang terbilang jauh dari titik penyalur utama.

Di samping persoalan keterbatasan fasilitas SPBU, Eko menyampaikan bahwa antrean di sejumlah wilayah turut dipengaruhi hambatan proses distribusi. Salah satu contoh kasus terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur, yang sempat terkendala akibat kondisi geografis serta infrastruktur setempat.

Pengerjaan revitalisasi dermaga oleh pihak operator penyeberangan sempat menghambat pergerakan mobil tangki Pertamina dalam menyalurkan BBM dari pasokan terminal menuju kawasan tersebut.

Untuk menjaga kestabilan pasokan di lapangan, Pertamina lantas mengalihkan rute distribusi dari pelbagai titik melalui penerapan skema Regular Alternative Emergency (RAE). Mekanisme ini memungkinkan pengiriman BBM memanfaatkan rute cadangan apabila jalur reguler menghadapi gangguan.

"Akhirnya kemarin dilakukan estafet ya, dari mulai Jawa Tengah, dari Boyolali, didorong ke Madiun, lalu didorong ke Malang, lalu dari Malang didorong ke Pasuruan, dan Banyuwangi. Itu salah satu contoh bentuk yang dilakukan. Tujuannya cuma satu, memastikan BBM itu masuk ke SPBU," tandas Eko.

Terkini