Alasan Ilmiah Mengapa Mengobrol dengan Hewan Peliharaan Adalah Normal

Senin, 14 September 2026 | 21:42:01 WIB
Ilustrasi Anjing.

JAKARTA - Sering berbicara panjang lebar dengan kucing atau anjing di rumah? Padahal hewan-hewan tersebut tidak akan memberikan jawaban verbal selain sekadar mengeong atau menggonggong. Meski sekilas tampak kurang wajar, kebiasaan tersebut rupanya tergolong hal yang sepenuhnya normal.

Walaupun komunikasi hanya berlangsung satu arah, para pemilik hewan peliharaan tetap terbiasa mengajak anabul mereka berbincang. Mulai dari menceritakan masalah pekerjaan, menanyakan alasan belum makan, hingga menyapa menggunakan nada suara yang ditinggikan.

Rangkaian penelitian membuktikan bahwa manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk menempatkan hewan sebagai bagian dari lingkaran sosialnya. Apabila Anda kerap mengajak hewan kesayangan berbicara bak seorang teman, hal tersebut sebenarnya sama sekali tidak perlu dianggap aneh.

Riset yang dirilis University of Arizona mengungkapkan bahwa sekitar 10 persen percakapan manusia yang terekam secara acak ternyata ditujukan kepada kucing atau anjing.

Data tersebut diperoleh melalui penggunaan Electronically Activated Recorder (EAR), yakni perangkat khusus yang merekam sampel suara secara acak sewaktu para partisipan menjalankan kegiatan rutin mereka sehari-hari.

Gaya penyampaiannya pun sangat bervariasi. Ada yang berbicara kepada hewan peliharaan layaknya berkomunikasi dengan sesama manusia biasa. Ada pula yang langsung memakai intonasi nada tinggi, sapaan yang menggemaskan, hingga mengidentifikasikan diri sebagai "mama" atau "papa" dari hewan tersebut.

Perilaku ini dikenal luas sebagai bentuk dari anthropomorphism, yaitu sebuah kecenderungan psikologis manusia dalam menyematkan karakteristik, emosi, atau tujuan khas manusia kepada objek maupun makhluk nonmanusia.

Kenapa manusia suka mengajak hewan ngobrol?

Menyadur hasil kajian dalam Frontiers in Psychology, hewan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari sanggup mengisi posisi lawan bicara yang umumnya ditempati oleh manusia. Sewaktu seseorang berbincang dengan kucing atau anjingnya, ia tidak serta-merta menganggap hewan tersebut benar-benar sanggup berkomunikasi secara setara seperti manusia.

Dalam fenomena ini, terdapat sebuah proses sosial yang sedang berlangsung. Hewan peliharaan telah berintegrasi menjadi bagian dari lingkungan sosial seseorang, sehingga manusia secara alamiah memperlakukannya sebagai rekan berinteraksi.

Kondisi ini juga berkaitan erat dengan ikatan emosional. Mengutip publikasi jurnal Animals mengenai human-animal bond, terdapat tiga pilar utama yang kerap muncul dalam relasi manusia dan hewan, yaitu empati, keterikatan (attachment), serta anthropomorphism. Berbicara pada hewan pun menjadi wahana bagi manusia untuk mengekspresikan perhatian sekaligus membangun interaksi dengan peliharaannya.

Secara tinjauan ilmiah, kebiasaan ini dapat dipahami sebagai pola alami manusia dalam merajut relasi sosial dengan hewan yang telah dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Terkini