Ketahui Bahaya Kebanyakan Minum Air bagi Kesehatan Ginjal Menurut Ahli

Senin, 14 September 2026 | 22:22:02 WIB
Ilustrasi Minum Air.

JAKARTA — Mengonsumsi air putih secara rutin merupakan salah satu langkah penting guna memenuhi kebutuhan cairan harian. Keperluan cairan tiap individu pun berlainan, tergantung pada tingkat aktivitas, kondisi kesehatan, ukuran fisik, hingga keadaan lingkungan sekitar.

Rasa haus umumnya menjadi sinyal alami saat tubuh memerlukan asupan cairan. Asupan tersebut juga bisa didapatkan dari bahan pangan tinggi kandungan air seperti buah dan sayur. Oleh karena itu, menjaga kecukupan hidrasi tidak berartikan harus menenggak air secara berlebihan tanpa batas. Tubuh dibekali mekanisme khusus untuk mengontrol keseimbangan cairan, salah satunya melalui organ ginjal.

Organ ginjal bertugas menyaring darah, mengeliminasi limbah, serta mengontrol kestabilan cairan maupun elektrolit tubuh. Pada orang dengan kondisi sehat, mengonsumsi air secara bertahap sepanjang hari relatif aman. Risikonya baru muncul bila seseorang menenggak air dalam jumlah terlampau banyak pada rentang waktu singkat hingga melampaui kapasitas kerja ginjal.

Menyadur EatingWell, ahli gizi Whitney Stuart, MS, RDN, menerangkan bahwa asupan air yang terlampau berlebih dapat mengganggu kadar natrium pada darah.

“Minum air secara berlebihan dapat membebani kemampuan ginjal untuk mengeluarkannya. Minum terlalu banyak cairan secara konsisten akan mengencerkan natrium dalam darah, suatu kondisi yang disebut hiponatremia,” terangnya.

Gangguan hiponatremia tingkat ringan dapat memicu rasa mual, sakit kepala, hingga pusing. Bila kondisinya parah, hal itu berisiko mengancam jiwa dan memerlukan tindakan medis secepatnya. Hiponatremia pun dapat menimpa orang sehat, meski risikonya jauh lebih besar bila air dikonsumsi secara masif dalam tempo singkat.

Di samping itu, saat cairan yang masuk melebihi porsi yang diperlukan, ginjal akan terdorong meningkatkan produksi urine guna membuang kelebihannya. Dampaknya, frekuensi buang air kecil bertambah dan warna urine menjadi tampak makin jernih.

Bagi orang sehat, penyesuaian tersebut adalah hal wajar dalam jangka pendek. Meski begitu, ahli gizi Elizabeth Shaw, MS, RDN, menekankan bahwa pola konsumsi air berlebihan tetap wajib diwaspadai.

“Kebanyakan orang tidak berpikir dua kali untuk minum air tambahan, tetapi ketika asupan secara konsisten melebihi kemampuan ginjal untuk membersihkannya, cairan berlibih itu dapat mulai menyebabkan masalah serius pada individu tertentu,” jelas Shaw.

Stuart menambahkan bahwa kasus keracunan air tergolong sangat jarang menimpa pemilik ginjal sehat, sebab pemicunya membutuhkan konsumsi cairan dalam volume sangat masif pada durasi yang amat singkat.

"Bagi seseorang dengan fungsi ginjal normal, keracunan air yang sebenarnya sangat sulit dicapai! Dibutuhkan minum beberapa liter dalam waktu yang sangat singkat, bukan hanya menyesap air sepanjang hari," ungkapnya.

"Masalah yang jauh lebih umum yang saya lihat secara klinis adalah kekurangan cairan, bukan kelebihan cairan," lanjut Shaw.

Guna menjaga hidrasi, seseorang tidak patut terpaku pada standar angka tertentu. Keperluan cairan akan senantiasa berubah menyesuaikan beban aktivitas, cuaca, ukuran tubuh, serta riwayat kesehatan. Bagi orang dewasa yang sehat, sinyal rasa haus bisa dijadikan penunjuk utama.

Saat berolahraga berat atau berada di bawah terik cuaca, konsumsi cairan dapat ditingkatkan guna mengganti keringat yang keluar. Bahan makanan berserat dan kaya air juga turut membantu mencukupi kebutuhan hidrasi. Sementara itu, penderita gangguan ginjal disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan dosis asupan cairan yang tepat.

Terkini