Bisnis

Peluang Investasi Hijau: Inggris Buka Program CFA 2026 di Indonesia

Peluang Investasi Hijau: Inggris Buka Program CFA 2026 di Indonesia
Peluang Investasi Hijau: Inggris Buka Program CFA 2026 di Indonesia

JAKARTA - Indonesia kini berada di garis depan transformasi ekonomi berkelanjutan di Asia Tenggara. Sebagai negara dengan potensi aset alam yang melimpah, tantangan utama yang dihadapi sering kali bukan terletak pada ketersediaan inovasi, melainkan pada bagaimana menghubungkan ide-ide brilian tersebut dengan aliran modal global. Menjawab tantangan ini, sebuah inisiatif strategis diluncurkan untuk menyulap proyek ramah lingkungan menjadi instrumen investasi yang menggiurkan bagi para pemilik modal dunia.

Pemerintah Inggris resmi meluncurkan program Climate Finance Accelerator (CFA) di Indonesia dengan membuka call for proposals bagi bisnis rendah karbon yang siap mendapatkan investasi. Program bantuan teknis global ini ditujukan untuk mendukung pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia serta target net zero emissions pada 2060. Melalui langkah ini, Inggris berupaya mempererat kemitraan strategisnya dengan Jakarta dalam mengakselerasi transisi energi yang berkeadilan.

Menjembatani Celah Finansial di Sektor Iklim

Peluncuran CFA Indonesia dilakukan di Jakarta pada Senin, 2 Februari 2026, oleh Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey. CFA dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kesiapan teknis proyek iklim dan kelayakan finansial, dengan mempertemukan pelaku usaha inovatif dan investor yang berfokus pada dampak iklim. Sering kali, proyek-proyek hijau yang inovatif terhenti di tahap pengembangan karena kurangnya pemahaman tentang struktur keuangan yang diinginkan oleh investor skala besar.

Pemerintah Inggris mencatat kebutuhan pembiayaan iklim Indonesia diperkirakan mencapai USD472,6 miliar, menjadikan Indonesia salah satu pasar investasi rendah karbon terbesar di Asia Tenggara. Angka fantastis ini menunjukkan adanya ceruk pasar yang sangat luas bagi para pengusaha domestik untuk ikut berkontribusi. Melalui CFA, bisnis-bisnis terpilih akan mendapatkan pendampingan intensif guna mengembangkan proyek iklim berskala besar yang siap investasi.

Kriteria Seleksi dan Sektor Prioritas Bisnis Rendah Karbon

Dalam siaran pers Kedutaan Besar Inggris yang diterima Metrotvnews.com, disebutkan bahwa CFA Indonesia mencari bisnis rendah karbon dari berbagai sektor, termasuk energi, limbah, pertanian, transportasi, proses industri dan penggunaan produk (IPPU), serta kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (FOLU). Keragaman sektor ini menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon harus dilakukan secara menyeluruh dan menyentuh berbagai lini industri nasional.

Bagi para pelaku usaha yang tertarik, pintu pendaftaran telah resmi dibuka. Call for proposals dibuka mulai 2 Februari hingga 9 Maret 2026, dengan persyaratan kebutuhan investasi minimum sebesar USD3 juta. Persyaratan ini menekankan bahwa program ini membidik proyek-proyek yang telah memiliki skala operasional signifikan dan siap untuk dikembangkan lebih jauh melalui suntikan modal eksternal.

Kurikulum Pendampingan Intensif dan Inklusi Sosial

Bisnis yang lolos seleksi akan menerima dukungan selama tiga hingga empat bulan, berupa sesi kelompok dan pendampingan satu per satu dari para pakar di bidang keuangan, teknis, serta kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi. Hal ini menegaskan bahwa proyek iklim yang ideal di mata CFA tidak hanya harus menguntungkan secara finansial, tetapi juga harus memberikan dampak sosial yang inklusif bagi masyarakat sekitar.

Puncak dari program ini adalah kesempatan eksklusif bagi para pengusaha untuk unjuk gigi di hadapan para pemegang modal global. Para peserta juga akan mempresentasikan proyek mereka kepada investor iklim dalam forum khusus yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Forum ini akan menjadi panggung krusial bagi proyek-proyek Indonesia untuk meraih kesepakatan pendanaan nyata.

Indonesia Sebagai Mitra Strategis Aksi Iklim Global

Duta Besar Inggris Dominic Jermey menyatakan bahwa CFA telah mendukung lebih dari 200 bisnis secara global dan memfasilitasi kesepakatan investasi senilai lebih dari USD400 juta. Ia menegaskan Indonesia merupakan mitra penting Inggris dalam aksi iklim global, dengan potensi besar dari para pengusaha iklim domestik. Rekam jejak keberhasilan CFA di berbagai negara diharapkan dapat direplikasi di Indonesia untuk melahirkan pahlawan-pahlawan ekonomi hijau baru.

Program CFA Indonesia diimplementasikan oleh PwC Consulting Indonesia untuk memastikan standar profesionalisme yang tinggi. Presiden Direktur PwC Consulting Indonesia Martijn Peeters menyebut CFA bertujuan mengubah ambisi iklim menjadi proyek yang layak investasi dan memberikan dampak terukur, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap proyek iklim di Indonesia.

CFA merupakan bagian dari pendanaan International Climate Finance (ICF) Pemerintah Inggris melalui Departemen Keamanan Energi dan Net Zero, dan saat ini dijalankan di sepuluh negara, termasuk Indonesia. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi internasional dapat menjadi motor penggerak bagi terciptanya dunia yang lebih bersih tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index