JAKARTA - Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Sudan bukanlah sekadar relasi antarnegara yang baru seumur jagung, melainkan sebuah jalinan kedekatan yang memiliki akar sejarah yang sangat dalam. Berlandaskan kedekatan historis tersebut, Pemerintah Sudan kini secara resmi membuka pintu lebar-lebar bagi Indonesia untuk memperkuat kolaborasi di berbagai sektor strategis, mulai dari perniagaan, kebudayaan, hingga dunia pendidikan. Upaya ini dipandang sebagai langkah krusial untuk mempererat ikatan sosial-ekonomi sekaligus menjadi bagian dari komitmen Sudan dalam menjaga stabilitas nasional melalui kemitraan internasional yang solid.
Dalam sebuah pertemuan media yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Dr. Yassir Mohammed Ali, menegaskan bahwa pemerintahnya sedang berfokus pada pemulihan dan stabilitas demi memuluskan rencana kerja sama ini. "Pemerintah Sudan terus berupaya meningkatkan stabilitas nasional demi memperkuat kolaborasi tersebut," ungkapnya. Pernyataan ini menjadi sinyal positif bagi para pelaku usaha dan institusi pendidikan di Tanah Air bahwa Sudan siap menjadi mitra yang akomodatif dan aman bagi kepentingan Indonesia di kawasan Afrika.
Menelusuri Jejak Syekh Ahmad Surkati dalam Hubungan Bilateral
Kedekatan emosional antara kedua bangsa ini tak lepas dari peran besar para tokoh masa lalu. Dubes Yassir secara khusus menyoroti kontribusi ulama besar asal Sudan, Syekh Ahmad Surkati, yang jejak dakwahnya telah mewarnai Indonesia lebih dari satu abad yang lalu. Sebelum menginjakkan kaki di Nusantara pada tahun 1912, Syekh Ahmad Surkati adalah seorang pengajar terpandang di Masjidil Haram, Mekkah. Kedatangannya ke Indonesia membawa pengaruh besar, tidak hanya dalam syiar agama, tetapi juga dalam pergerakan intelektual dan perlawanan terhadap penjajahan.
Syekh Ahmad Surkati mendirikan Al Irsyad, sebuah organisasi yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan yang masih eksis hingga hari ini. Lebih jauh lagi, semangat yang ia tularkan ikut memperkuat perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme Belanda. Kedekatannya dengan tokoh-tokoh bangsa Indonesia pun sangat terlihat ketika ia wafat pada tahun 1943. Presiden Sukarno secara langsung datang melayat dan mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Penghormatan negara tersebut menjadi bukti autentik betapa Sudan memiliki tempat istimewa di hati para pendiri bangsa Indonesia.
Revitalisasi Sektor Pendidikan dan Pertukaran Budaya
Bercermin pada sejarah intelektual tersebut, Dubes Yassir mendorong adanya revitalisasi kerja sama di bidang pendidikan. Ia melihat potensi besar dalam program pertukaran mahasiswa, pemberian beasiswa, hingga kolaborasi penelitian antara universitas di kedua negara. Selain itu, bidang kebudayaan juga menjadi prioritas melalui pertukaran karya seni dan promosi warisan budaya masing-masing negara guna mempererat people-to-people contact.
Saat ini, diakui bahwa jumlah mahasiswa Sudan yang menempuh studi di Indonesia masih tergolong minim. "Untuk angkanya belum ada angka resmi yang dikeluarkan," ujar Dubes Yassir. Sebaliknya, minat pelajar Indonesia untuk menimba ilmu di Sudan tercatat cukup signifikan. Berdasarkan data dari Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan), terdapat sekitar 838 mahasiswa Indonesia yang terdaftar belajar di sana, baik sebelum maupun saat situasi konflik berlangsung. Ketimpangan jumlah ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk lebih gencar mempromosikan kualitas perguruan tinggi domestik kepada warga Sudan.
Potensi Ekspansi Bisnis dan Investasi di Sektor Penggerak
Di sektor ekonomi, Sudan mengundang para investor Indonesia untuk terlibat lebih jauh dalam pengembangan sektor-sektor kunci seperti energi, pertanian, dan perdagangan umum. Dubes Yassir mengakui bahwa nilai perdagangan bilateral saat ini masih jauh dari potensi maksimalnya. Tercatat, angka perdagangan antara kedua negara masih berada di bawah 50 juta dolar AS atau sekitar Rp839,4 miliar.
Komoditas ekspor Indonesia ke Sudan saat ini masih didominasi oleh produk pakaian, kosmetik, farmasi, serta minyak sawit (CPO). Sementara itu, Sudan memasok kebutuhan kacang-kacangan, wijen, dan kapas untuk pasar Indonesia. "Volume perdagangan masih kecil, sehingga potensi peningkatan sangat besar. Pemerintah Sudan mengundang investor Indonesia untuk menanamkan investasi dan siap memfasilitasi kebutuhan terkait lahan, izin, dan keamanan," tutur Dubes Yassir. Dengan jaminan fasilitasi dari pemerintah setempat, pengusaha Indonesia diharapkan dapat melihat Sudan sebagai gerbang masuk baru untuk memperluas pasar di wilayah Afrika Utara dan sekitarnya.
Penutup: Komitmen Membangun Kemitraan Strategis
Pernyataan terbuka dari Duta Besar Sudan ini menjadi momentum berharga bagi Indonesia untuk merefleksikan kembali hubungan diplomatik yang telah terjalin lama. Dengan sejarah sebagai perekat, kerja sama masa depan di bidang bisnis dan pendidikan diharapkan tidak hanya menguntungkan secara materi, tetapi juga memperkuat posisi kedua negara dalam tatanan global. Sudan telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan karpet merah bagi Indonesia, kini tinggal bagaimana para pemangku kepentingan di dalam negeri merespons peluang emas tersebut demi kemajuan bersama.