JAKARTA - Industri perbankan Indonesia menutup tahun 2025 dengan catatan performa yang impresif, sekaligus membawa modal kuat untuk melompat lebih tinggi pada tahun mendatang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa hingga Desember 2025, pertumbuhan kredit perbankan nasional berhasil mencapai angka 9,63% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan percepatan yang signifikan dibandingkan capaian November 2025 yang berada di level 7,74% yoy, dengan total akumulasi penyaluran kredit menyentuh Rp8.586 triliun.
Keberhasilan ini menjadi fondasi bagi OJK untuk menetapkan target yang lebih ambisius. Di tengah dinamika ekonomi global, regulator optimistis bahwa penyaluran pembiayaan akan terus mengalir deras ke sektor-sektor produktif, seiring dengan penguatan fundamental ekonomi domestik yang tetap resilien.
Dominasi Kredit Investasi dan Ekspansi Sektor Korporasi
Melihat lebih dalam pada struktur pertumbuhannya, geliat ekonomi nasional tampak didorong kuat oleh sektor produktif jangka panjang. Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,81% yoy. Hal ini mengindikasikan tingginya kepercayaan dunia usaha untuk melakukan ekspansi kapasitas produksi dan pembangunan infrastruktur.
Di sisi lain, sektor konsumsi tetap stabil dengan pertumbuhan sebesar 6,58% yoy, sementara kredit modal kerja turut meningkat 4,52% yoy. Menariknya, perbankan pelat merah menjadi motor penggerak utama dalam pencapaian ini. Dari sisi kepemilikan, kredit bank milik negara (BUMN) tumbuh 11,61% yoy, sedangkan berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh signifikan sebesar 15,44% yoy.
Likuiditas Melimpah dan Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga
Ekspansi kredit yang agresif tersebut diimbangi dengan penghimpunan dana yang tak kalah solid. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh sebesar 13,83% yoy, sehingga total dana masyarakat di bank mencapai Rp10.059 triliun. Pertumbuhan DPK didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,13% yoy, deposito 14,28% yoy, serta tabungan 8,19% yoy.
Kondisi ini memastikan bahwa likuiditas industri perbankan tetap berada pada level yang memadai untuk mendukung penyaluran kredit ke depan. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 126,15% dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57%, jauh di atas ambang batas yang ditetapkan. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level tinggi sebesar 200,97%, memberikan rasa aman bagi ekosistem keuangan nasional.
Kualitas Aset Terjaga di Tengah Risiko Global
Meski ekspansi kredit terus dipacu, perbankan Indonesia tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Dari sisi risiko, kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,05% dan NPL net 0,79%. Indikator risiko lainnya, yakni Loan at Risk (LaR), juga menunjukkan tren penurunan menjadi 8,77%, yang menandakan perbaikan kualitas debitur secara menyeluruh.
Tingkat kesehatan bank juga tercermin dari profitabilitas dan permodalan yang sangat kuat. Rasio return on assets (ROA) tercatat sebesar 2,53%, sementara daya tahan bank dalam menyerap risiko tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) yang kokoh di level 25,89%.
Outlook 2026: Membidik Pertumbuhan Kredit hingga 12 Persen
Berbekal data fundamental yang solid tersebut, OJK secara resmi menaikkan target pertumbuhan untuk tahun depan. Dalam outlook yang disampaikan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, OJK memproyeksikan kredit perbankan tumbuh di kisaran 10% sampai dengan 12% pada tahun depan, seiring dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang diperkirakan berada pada kisaran 7% sampai 9%.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa performa ini merupakan hasil dari ketangguhan sektor jasa keuangan dalam menghadapi ketidakpastian kebijakan global sepanjang 2025. “Kalau kita melihat kondisi fundamental perekonomian dan juga kinerja sektor jasa keuangan sangat solid menjadi modalitas yang sangat penting untuk kelanjutan kita ke depan,” ujar Friderica dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan OJK.
Sinergi KSSK dalam Mengawal Pembiayaan Pembangunan
Keberhasilan sektor keuangan tidak lepas dari dukungan program prioritas pemerintah yang berjalan efektif. Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% pada 2025, yang didukung penuh oleh pembiayaan dari lembaga jasa keuangan. "Kami sampaikan bahwa kontribusi pembiayaan pembangunan oleh lembaga jasa keuangan mencapai Rp9.540 triliun, utamanya kredit perbankan yang tumbuh 9,53%, indikator likuiditas profil risiko dan solvabilitas industri jasa keuangan terpantau solid," sebut Friderica.
Ia menjelaskan bahwa indikator likuiditas, profil risiko, dan solvabilitas yang terjaga mengindikasikan adanya kapasitas besar bagi sektor keuangan untuk terus melanjutkan pembiayaan pembangunan. Pencapaian ini merupakan buah dari sinergi antara OJK dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, serta Lembaga Penjamin Simpanan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Fokus Kebijakan 2026: Penguatan Ketahanan dan Modal Minimum
Memasuki tahun 2026, tantangan baru muncul dari fragmen geopolitik dan geoekonomi yang memicu pergeseran arus modal global. Meski demikian, ekonomi Indonesia diprediksi tetap resilien dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 5,4%. Untuk mendukung momentum tersebut, OJK menetapkan penguatan ketahanan sektor jasa keuangan sebagai fokus kebijakan utama.
Tahun 2026 menjadi fase krusial dalam agenda pemenuhan modal minimum lembaga jasa keuangan guna membentuk struktur industri yang lebih kuat dan kompetitif. Dengan struktur permodalan yang lebih berani namun tetap terjaga, industri perbankan diharapkan menjadi motor utama dalam mewujudkan target-target ekonomi nasional di masa depan.