JAKARTA - Upaya Indonesia mewujudkan kemandirian pangan di sektor gula mulai menunjukkan hasil yang nyata.
Sepanjang 2025, sektor tebu dan gula nasional mencatat kinerja yang semakin solid, ditandai dengan peningkatan produksi yang mendekati target tahunan. Evaluasi akhir musim giling menunjukkan produksi gula nasional mencapai 2,67 juta ton atau setara 97,54 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
Capaian tersebut menjadi indikator penting bahwa produksi gula dalam negeri berada di jalur yang tepat menuju swasembada. Tren kenaikan produksi ini tidak hanya mencerminkan perbaikan di sektor hulu, tetapi juga memperlihatkan efektivitas berbagai kebijakan pemerintah dalam memperkuat sistem pangan nasional.
Dalam konteks ketahanan pangan, gula menjadi komoditas strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi dan kebutuhan konsumsi masyarakat.
Pemerintah Fokus Perkuat Rantai Produksi Tebu dan Gula
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah saat ini menaruh perhatian besar pada penguatan seluruh rantai produksi tebu dan gula. Fokus tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan produktivitas di tingkat petani hingga efisiensi industri pengolahan gula nasional.
Menurut Amran, swasembada gula tidak lagi sekadar target jangka panjang, melainkan kebutuhan strategis untuk mengurangi ketergantungan impor.
“Swasembada gula adalah keharusan. Kami memperkuat produktivitas tebu, memperluas areal tanam, menyediakan benih unggul, dan melakukan modernisasi pabrik gula,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan seluruh tahapan produksi berjalan optimal. Penguatan sektor hulu dan hilir dinilai menjadi kunci agar produksi gula nasional tidak hanya meningkat dari sisi volume, tetapi juga mampu bersaing dari sisi efisiensi dan kualitas.
Produksi Tebu 2025 Melampaui Target Strategis Nasional
Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi tebu nasional pada 2025 mencapai 39,07 juta ton dengan produktivitas rata-rata 69,35 ton per hektare. Angka ini melampaui target yang tercantum dalam Rencana Strategis Perkebunan. Capaian tersebut mencerminkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan bahwa peningkatan produksi tebu didorong oleh intervensi pemerintah yang lebih terarah di sektor hulu. Program bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu tua menjadi salah satu faktor utama dalam mendorong produktivitas.
Selain itu, penggunaan varietas tebu unggul dan pendampingan teknis yang lebih intensif kepada petani juga berkontribusi besar terhadap peningkatan hasil panen. “Petani sekarang lebih mudah mendapatkan bibit berkualitas dan pendampingan. Itu berdampak langsung pada hasil panen yang lebih tinggi,” kata Roni.
Pendekatan ini dinilai mampu mengatasi persoalan klasik di sektor tebu, seperti rendahnya produktivitas lahan dan usia tanaman yang tidak lagi optimal. Dengan pembaruan sistem budidaya, hasil panen tebu dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
Perluasan Wilayah Produksi untuk Kurangi Ketergantungan Kawasan Tertentu
Dari sisi wilayah, Jawa Timur masih menjadi sentra utama produksi tebu nasional. Kontribusi provinsi ini disusul oleh Lampung dan Jawa Tengah. Namun, pemerintah tidak ingin produksi tebu hanya bertumpu pada kawasan tertentu.
Untuk itu, pengembangan tebu mulai diperluas ke sejumlah daerah lain seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Langkah ini bertujuan memperluas basis produksi sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada satu wilayah.
Diversifikasi wilayah produksi juga dinilai penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan penyebaran lokasi tanam yang lebih luas, risiko gagal panen akibat faktor cuaca ekstrem dapat diminimalkan.
Selain itu, pengembangan tebu di daerah baru diharapkan membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Penguatan Hilir dan Tantangan Menuju Swasembada Gula
Selain di sektor budidaya, pemerintah juga membenahi sektor hilir industri gula nasional. Revitalisasi pabrik gula, peningkatan efisiensi mesin, serta dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Khusus Tebu terus digulirkan.
Bantuan alat dan mesin pertanian serta penguatan kelembagaan kelompok tani juga menjadi bagian dari strategi menyeluruh pemerintah.
Roni menilai respons petani terhadap berbagai program tersebut cukup positif. Banyak petani merasakan biaya produksi yang lebih efisien dan hasil panen yang meningkat, sehingga berdampak langsung pada kenaikan pendapatan.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih harus dihadapi. Perubahan iklim, keterbatasan lahan, serta kebutuhan peningkatan efisiensi industri menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun, pemerintah tetap optimistis target produksi gula 3,27 juta ton pada 2027, sesuai roadmap nasional, dapat tercapai.
Dengan tren peningkatan produksi tebu dan gula yang konsisten, Kementerian Pertanian berharap kebutuhan konsumsi gula nasional dapat sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Upaya ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan yang lebih baik bagi petani tebu di berbagai daerah Indonesia.