Garuda Indonesia

Integrasi Maskapai BUMN di Bawah Danantara: Garuda Jadi Pemimpin Ekosistem

Integrasi Maskapai BUMN di Bawah Danantara: Garuda Jadi Pemimpin Ekosistem
Integrasi Maskapai BUMN di Bawah Danantara: Garuda Jadi Pemimpin Ekosistem

JAKARTA - Peta kekuatan industri penerbangan nasional kini tengah mengalami reposisi besar-besaran. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) secara resmi mengumumkan langkah strategis untuk menyatukan kekuatan maskapai milik negara ke dalam satu wadah besar. Dalam rencana transformasi ini, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) telah dipatok untuk menjadi induk dari Holding Maskapai BUMN. Langkah ini menandai babak baru bagi konektivitas udara di tanah air, di mana koordinasi antarmaskapai pelat merah tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi dalam satu komando yang solid.

Langkah konsolidasi ini sekaligus menjawab spekulasi mengenai arah masa depan maskapai nasional. Jika sebelumnya sempat tersiar kabar mengenai rencana penggabungan ke dalam InJourney, kini kepastian datang dari Danantara yang mengambil alih mandat restrukturisasi tersebut. Dengan menjadikan Garuda sebagai pucuk kepemimpinan, pemerintah berharap dapat mengoptimalkan portofolio layanan dari berbagai segmen pasar, mulai dari layanan penuh (full service) hingga penerbangan bertarif rendah (low-cost carrier), demi efisiensi dan daya saing yang lebih kuat.

Struktur Holding: Sinergi Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air

Penunjukan Garuda Indonesia sebagai induk holding membawa konsekuensi pada penataan anak usaha dan maskapai BUMN lainnya. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memberikan konfirmasi bahwa di bawah naungan Garuda nantinya akan terdapat dua maskapai besar lainnya yang memiliki basis massa cukup kuat di Indonesia.

“Iya Garuda Indonesia induk, (bawahnya) ada Citilink, ada Pelita,” tegas Dony saat memberikan keterangan di Jakarta, Selasa. Dengan struktur ini, Garuda Indonesia sebagai induk akan fokus pada manajemen strategis dan layanan premium, sementara Citilink Indonesia tetap menggarap pasar ekonomis, dan Pelita Air Service memperkuat segmen operasional lainnya. Penyatuan ini diyakini akan menghilangkan tumpang tindih rute serta mengoptimalkan penggunaan armada secara lebih presisi.

Target Rampung Kuartal I-2026: Transformasi Kilat Maskapai Nasional

Danantara tidak ingin membuang waktu dalam menjalankan agenda besar ini. Proses konsolidasi ketiga maskapai tersebut dipatok untuk mencapai kata final pada awal tahun depan. Target kuartal I-2026 menjadi batas waktu yang cukup ambisius namun realistis, mengingat proses pemetaan aset dan legalitas sudah mulai berjalan secara intensif.

Kecepatan proses perpindahan ini juga dikonfirmasi oleh Dony Oskaria. Menurutnya, kesiapan internal dari pihak maskapai, terutama Garuda Indonesia, menunjukkan progres yang sangat positif. "Garuda di kuartal I ini sudah pindah, cepat mereka,” ujar Dony. Percepatan ini krusial agar efisiensi biaya operasional yang diharapkan dari pembentukan holding dapat segera dirasakan manfaatnya, baik bagi perusahaan maupun bagi para pengguna jasa transportasi udara di Indonesia.

Danantara Tegaskan Tidak Ada PHK Selama Proses Konsolidasi

Salah satu isu sensitif yang selalu menyertai setiap penggabungan perusahaan adalah nasib para pekerjanya. Menyadari kekhawatiran tersebut, manajemen Danantara memberikan jaminan kuat bahwa restrukturisasi ini tidak akan memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Fokus utama dari langkah ini adalah penyatuan kekuatan, bukan pengurangan sumber daya manusia.

Dony Oskaria memastikan bahwa hak-hak karyawan akan tetap terlindungi meskipun perusahaan tempat mereka bernaung kini masuk ke dalam struktur holding yang baru. “Proses konsolidasi ini kita menghindari ada pengurangan orang, jadi akan dibawa, kan dikonsol-konsol nanti kan orangnya harus dibawa,” tutur Dony. Jaminan ini diharapkan dapat menjaga kondusivitas kerja di lingkungan Garuda, Citilink, maupun Pelita Air selama masa transisi berlangsung.

Kemungkinan Garuda Tidak Bergabung dengan InJourney

Poin penting lainnya dari pernyataan Danantara adalah kepastian mengenai posisi Garuda Indonesia terhadap Holding BUMN Sektor Aviasi dan Pariwisata, InJourney. Sebelumnya, sempat muncul wacana bahwa Garuda akan dilebur ke dalam InJourney untuk memperkuat ekosistem pariwisata. Namun, dengan pembentukan holding mandiri di bawah Danantara ini, skenario tersebut resmi dikesampingkan.

Keputusan untuk memisahkan maskapai ke dalam holding tersendiri di bawah komando Garuda menunjukkan bahwa pemerintah ingin memberikan fokus lebih dalam pada pemulihan bisnis inti penerbangan. Dengan menjadi induk holding sendiri, Garuda memiliki otonomi lebih luas untuk mengatur strategi aviasi yang lebih lincah dan adaptif terhadap dinamika industri penerbangan global yang kian menantang.

Membangun Ekosistem Aviasi yang Mandiri dan Kompetitif

Pembentukan holding maskapai ini adalah strategi jangka panjang untuk menciptakan kemandirian energi dan logistik udara nasional. Dengan bersatunya Garuda, Citilink, dan Pelita Air, posisi tawar Indonesia terhadap vendor global, penyedia bahan bakar, hingga penyewaan pesawat akan semakin kuat. Skala ekonomi yang tercipta dari penggabungan ini memungkinkan adanya penghematan biaya pemeliharaan (maintenance) dan pengadaan yang selama ini menjadi beban terbesar maskapai.

Danantara berharap, melalui tangan dingin manajemen yang terintegrasi, Holding Maskapai BUMN ini mampu mencetak performa keuangan yang lebih sehat di tahun-tahun mendatang. Transformasi ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan upaya untuk mengembalikan kejayaan maskapai nasional sebagai jembatan udara nusantara yang andal, efisien, dan memberikan nilai tambah bagi ekonomi nasional tanpa mengorbankan kesejahteraan para pekerjanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index