JAKARTA - Perusahaan properti PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) resmi bermitra dengan pengembang asal Jepang, Hankyu Hanshin Properties Corp. (HHP), untuk menggarap kawasan Bukit Podomoro Jakarta.
Bentuk kerja sama ini direalisasikan melalui pengalihan sebagian kepemilikan saham APLN di PT Graha Cipta Kharisma (GCK), entitas pengelola proyek Bukit Podomoro, kepada HHP selaku mitra strategis.
Corporate Secretary APLN Justini Omas menjelaskan bahwa kemitraan dengan HHP bukanlah hal baru. Kedua pihak sebelumnya pernah berkolaborasi dalam proyek Central Park Mall, Neo Soho Mall, serta Deli Park Medan.
"Kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua perusahaan untuk terus memperluas sinergi dalam menghadirkan pengembangan properti yang inovatif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun para pemangku kepentingan," kata Justini.
Selain memperkuat operasional, masuknya HHP juga membawa dampak positif bagi keuangan perseroan. Hasil divestasi saham tersebut bakal dialokasikan untuk menyokong pengembangan bisnis serta memangkas beban utang.
"Hasil transaksi ini akan digunakan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha APLN, serta mengurangi beban utang," lanjutnya.
Rangkaian transaksi dilakukan dengan melepas 282.793 saham biasa GCK atau setara 35,5 persen kepada HHP. Sebelumnya, APLN memegang 85 persen saham atau sebanyak 677.110 lembar saham disetor penuh.
Meskipun melakukan divestasi, APLN tetap memegang status sebagai pemegang saham pengendali di GCK. Hal ini lantaran APLN juga membeli saham GCK dari pemegang saham eksisting lain.
APLN membeli 28.279 saham (3,55 persen) milik PT Kreasi Wahana Nusantara dan 14.140 saham (1,775 persen) milik PT Bumi Kirana. Setelah seluruh transaksi tuntas, kepemilikan APLN di GCK kini menjadi 54,825 persen.
Proyek Bukit Podomoro
Bukit Podomoro Jakarta merupakan kawasan hunian terpadu milik APLN yang dikembangkan sejak 2021 di atas lahan 9,6 hektare, dengan target pembangunan 317 unit rumah tapak dan 115 unit ruko.
Mengenai performa keuangan, APLN meraup penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp3,66 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut melonjak 117 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,69 triliun.
Kenaikan pendapatan tersebut sukses membalikkan posisi rugi komprehensif menjadi laba periode berjalan mencapai Rp523,5 miliar pada paruh pertama 2026.
Capaian positif semester I 2026 ini salah satunya didukung oleh penjualan Mall Deli Park Medan senilai Rp2,2 triliun kepada PT DPM Assets Indonesia (DPMAI) melalui anak usaha APLN, PT Sinar Menara Deli.
Membaiknya operasional perseroan turut berdampak langsung pada penurunan liabilitas. Beban utang APLN tercatat turun menjadi Rp10,37 triliun pada semester I 2026 dari posisi akhir 2025 yang senilai Rp11,28 triliun.
Secara bertahap dalam kurun 2,5 tahun sejak akhir 2023 yang mencapai Rp14,87 triliun, APLN tercatat telah berhasil melunasi utang hingga senilai Rp4,50 triliun.
APLN secara konsisten menerapkan strategi monetisasi aset bernilai tinggi guna membiayai proyek baru dan melunasi utang valas, seperti pada divestasi Central Park Mall, Neo Soho Mall, Pullman Ciawi Vimala Hills, dan Deli Park Mall Medan.