Prospek Emiten Grup Bakrie Semester II/2026: BUMI, DEWA, dan VKTR

Prospek Emiten Grup Bakrie Semester II/2026: BUMI, DEWA, dan VKTR
Aktivitas penambangan oleh kontraktor tambang PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) [FOTO: NET].

JAKARTA — Deretan emiten Grup Bakrie dihadapkan pada pendorong kinerja yang berbeda pada semester II/2026. BUMI serta ENRG konsisten menjadi pilar fundamental, DEWA memetik keuntungan dari sektor pertambangan, sedangkan VKTR dipandang berpeluang menjadi mesin pertumbuhan teranyar.

Perbedaan proyeksi ini tidak lepas dari karakteristik bisnis tiap perseroan serta dinamika sektor yang digeluti. Performa pada semester I/2026 menjadi pijakan dasar guna meneropong haluan bisnis Grup Bakrie pada paruh kedua tahun ini.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang memaparkan bahwa mencermati capaian Grup Bakrie, ENRG dan BUMI tetap menjadi penopang utama secara fundamental, DEWA menjadi pihak yang diuntungkan oleh maraknya aktivitas pertambangan, sementara VKTR merupakan kandidat mesin pertumbuhan baru yang paling memikat untuk jangka menengah.

“BRMS memiliki potensi upside terbesar apabila pemulihan produksinya berjalan sesuai target,” kata Edwin, Selasa (18/8/2026).

Ia menerangkan bahwa aspek fundamental tiap emiten Grup Bakrie saat ini makin bervariasi, sehingga para investor disarankan melakukan penilaian berdasarkan cash flow, volume produksi, margin, leverage, serta katalis operasional masing-masing perseroan, alih-alih sekadar bersandar pada sentimen Grup Bakrie secara umum.

“Untuk saya pribadi, ENRG–BUMI merupakan kombinasi paling kuat untuk fundamental saat ini, sedangkan VKTR merupakan cerita pertumbuhan yang paling menarik untuk horizon lebih panjang,” ucapnya.

BUMI dan ENRG Jadi Andalan

BUMI dan ENRG tampil sebagai dua emiten Grup Bakrie yang membukukan lonjakan pendapatan serta laba bersih pada semester I/2026.

Merujuk laporan keuangan semester I/2026, pendapatan BUMI menyentuh US$866,75 juta, terkerek 27,85% dari posisi US$677,93 juta pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan omzet ini mengerek laba bersih BUMI hingga menembus US$58,85 juta, alias meroket 188,4% dari US$20,41 juta pada semester I/2025.

Sementara itu, ENRG turut membukukan pertumbuhan kinerja pada semester I/2026. Perolehan pendapatan perseroan terangkat 18,51% menjadi US$283,37 juta dari sebelumnya US$239,11 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih ENRG pun ikut terdongkrak 26,62% menuju angka US$45,23 juta dari US$35,73 juta.

Edwin menilai posisi BUMI dan ENRG tetap solid lantaran keduanya memegang keterpaparan pada sektor sumber daya alam yang menjadi fondasi utama bisnis Grup Bakrie.

Ia menambahkan bahwa Grup Bakrie kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai commodity play. Portofolio Grup Bakrie telah bertransisi menuju integrasi sektor mining, oil & gas, infrastructure, EV, dan industrial technology. Meski begitu, ia mengimbau pasar untuk tetap mengamati konsistensi eksekusi dalam beberapa kuartal mendatang sebelum transformasi ini dapat dikatakan sepenuhnya berhasil.

DEWA Jadi Beneficiary Tambang

Di luar BUMI dan ENRG, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turut menjadi emiten yang dinilai mengantongi katalis positif dari maraknya aktivitas pertambangan.

Pada semester I/2026, omzet DEWA terangkat 3,13% menjadi Rp3,21 triliun. Di sisi lain, perolehan laba bersih perseroan melesat 89,01% mencapai Rp354,28 miliar dari posisi Rp187,44 miliar pada semester I/2025. Performa ini mengindikasikan laju pertumbuhan laba DEWA melompat jauh lebih tinggi ketimbang kenaikan pendapatannya.

Edwin memosisikan DEWA sebagai pihak yang mengalap keuntungan dari intensitas sektor pertambangan. Dengan demikian, dinamika kegiatan dan volume hasil tambang bakal menjadi salah satu penentu utama performa perseroan pada semester II/2026. Prospek DEWA pun akan berkelindan dengan keberlanjutan operasional tambang serta keandalan perseroan dalam menjaga tren pertumbuhan laba.

VKTR Jadi Kandidat Mesin Pertumbuhan

Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) menyajikan alur pengembangan yang berbeda dibanding emiten berbasis komoditas lain di naungan Grup Bakrie.

Edwin menganggap VKTR sebagai calon mesin pertumbuhan teranyar yang paling prospektif untuk jangka menengah. Pandangan ini mengemuka di tengah lonjakan pendapatan perseroan yang tergolong tinggi pada semester I/2026.

Pendapatan VKTR melesat 56,18% menjadi Rp646,62 miliar dibanding Rp414,04 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya. Namun, lompatan pendapatan ini belum berbanding lurus dengan peningkatan laba. Laba bersih VKTR justru terperosok 76,23% menjadi Rp1,13 miliar dari Rp4,73 miliar.

Dinamika ini membuat operasional VKTR masih menghadapi tantangan dari sudut profitabilitas. Walau begitu, perseroan dinilai menyimpan narasi ekspansi yang unik lantaran berfokus di industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Edwin sebelumnya mengutarakan bahwa Grup Bakrie mulai bergeser ke arah kombinasi lini mining, oil & gas, infrastructure, EV, serta industrial technology. Namun, ia mengingatkan bahwa kedisiplinan eksekusi tetap menjadi variabel penentu sebelum peralihan bisnis tersebut dianggap membuahkan hasil.

BRMS Tunggu Pemulihan Produksi

PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menjadi emiten lain yang memegang pendorong kinerja berbeda pada semester II/2026.

Pada semester I/2026, pendapatan BRMS terkoreksi 20,73% menjadi US$95,79 juta dari posisi US$120,85 juta. Penurunan omzet tersebut menyeret laba bersih turun sebesar 43,74% menuju US$12,92 juta dari sebelumnya US$22,97 juta.

Kendati mengalami tekanan performa, Edwin mencermati BRMS memegang potensi kenaikan harga (upside) terbesar apabila pemulihan volume produksi dapat terealisasi sesuai dengan target.

Di sisi lain, Elandry memaparkan bahwa untuk semester II/2026, emiten seperti BUMI dan BRMS menarik diamati dari sudut keterpaparan komoditas, sementara lini infrastruktur dan properti berpeluang memperoleh dorongan dari alokasi belanja pemerintah serta pemulihan aktivitas ekonomi.

Katalis Semester II/2026

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menerangkan bahwa sepanjang semester I/2026, perolehan kinerja emiten Grup Bakrie bergerak cukup beragam, sehingga paruh kedua akan sangat bergantung pada dinamika masing-masing industri.

“Saya melihat bisnis energi dan sumber daya alam masih berpotensi menjadi salah satu growth engine, terutama jika harga komoditas dan permintaan tetap mendukung,” tutur Elandry, Selasa (18/8/2026).

Menurut pengamatannya, pergerakan harga komoditas menjadi variabel krusial yang patut dicermati dalam memproyeksikan performa emiten Grup Bakrie pada semester II/2026. Fluktuasi harga komoditas akan berdampak langsung terhadap omzet dan tingkat profitabilitas perusahaan pengelola sumber daya alam.

Selain itu, dinamika volume produksi beserta tingkat permintaan turut menjadi indikator penting. Kendati demikian, ia menyebut performa tersebut akan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas, capital flow, hingga kondisi likuiditas pasar.

“Secara umum, saya melihat prospek Grup Bakrie masih positif dengan catatan perbaikan kinerja operasional dan neraca dapat terus berlanjut,” kata Elandry.

Elandry mengimbau para investor untuk tetap cermat dan selektif mengingat profil risiko beserta karakteristik bisnis tiap emiten terbilang berbeda.

Dengan profil usaha yang kian beragam, pergerakan saham Grup Bakrie pada semester II/2026 tidak lagi berjalan seragam. BUMI dan ENRG mengandalkan sektor energi serta sumber daya alam, DEWA memetik tuah dari aktivitas pertambangan, BRMS menantikan pemulihan kapasitas produksi, sementara VKTR mengusung narasikan pertumbuhan lewat lini kendaraan listrik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index