ONLINEKINI.ID —
Rata-rata Satu Kasus per Hari
Kepala Jaksa Ceuta, Silvia Rojas, mengatakan angka tersebut hampir setara dengan satu laporan setiap hari. Kepada surat kabar El País, ia menyampaikan bahwa anak perempuan migran "particularly vulnerable because of their irregular status in the territory" atau sangat rentan karena status mereka yang tidak jelas di wilayah itu.Rojas menyebut gelombang kedatangan migran menyebabkan peningkatan eksponensial kasus penyerangan seksual. Banyak korban memilih tidak melapor, baik karena takut maupun karena situasi yang mereka hadapi di Ceuta.
Perkiraan jumlah anak yang masih berada di Ceuta mencapai 1.400 hingga 1.600 jiwa dari total sekitar 5.000 migran yang bertahan. Selebihnya telah kembali ke Maroko, negara tetangga yang selama ini mengklaim kedaulatan atas Ceuta dan kota otonom Melilla.
Sedangkan bagi tersangka pelaku, laporan kantor berita Efe menyebutkan di antaranya empat warga Maroko, tiga warga Spanyol, dan satu warga Belgia.
Bantuan Pemerintah dan Tekanan Politik
Menteri Ekonomi Carlos Cuerpo mengatakan pemerintah telah menyetujui paket bantuan senilai jutaan euro. Dana tersebut akan digunakan untuk layanan esensial dan perawatan anak-anak yang datang tanpa pendamping.Di sisi lain, Wali Kota Ceuta yang beraliran konservatif, Juan Jesús Vivas, menyerukan demonstrasi dukungan di berbagai kota di Spanyol. Aksi tersebut dijadwalkan bertepatan dengan hari libur tahunan kota.
Pemerintah Sánchez mendapat kritik tajam dari lawan politik. Partai sayap kanan Vox mengeluarkan pernyataan keras bahwa Sánchez tidak kehilangan kendali atas Ceuta, melainkan menyerahkannya.
Partai Rakyat (PP) yang menjadi oposisi juga menilai Sánchez membebaskan Maroko dari tanggung jawab. Juru bicara PP, Borja Sémper, menyebut puluhan ribu orang tidak mungkin bergerak menuju perbatasan Ceuta tanpa koordinasi.
Pernyataan Kontroversial tentang Disinformasi
Sánchez menyampaikan bahwa tidak ada laporan intelijen yang menunjukkan keterlibatan otoritas Maroko dalam memicu lonjakan migrasi. Ia justru menyoroti penyebaran disinformasi di media sosial.Perdana Menteri mengaitkan narasi tersebut dengan kepentingan Rusia dan Israel serta gerakan sayap kanan internasional. Juru bicara pemerintah, Elma Saiz, kemudian mengonfirmasi tuduhan itu dan menyebut ada bukti bahwa berbagai forum digital memperkuat peristiwa di Ceuta dengan tujuan memecah belah Eropa.
Klaim tersebut menuai bantahan dari kedua negara. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar menyebut pernyataan Sánchez sebagai kebohongan, sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia meminta agar tuduhan itu dibuktikan.
Kunjungan Raja dan Ketegangan Diplomatik
Sánchez mengumumkan bahwa Raja Felipe VI akan mengunjungi Ceuta "begitu kondisi memungkinkan". Upaya ini dipandang sebagai langkah untuk menegaskan otoritas Spanyol atas wilayah tersebut.Dalam wawancara dengan radio Cadena Ser, Sánchez menyinggung fakta bahwa raja belum pernah mengunjungi Ceuta selama 20 tahun. Pernyataan ini dianggap janggal karena Felipe baru bertahta selama 12 tahun, sementara kunjungan terakhir dilakukan Juan Carlos pada 2007.
Beberapa komentator menilai ucapan Sánchez tampak mengkritik raja. Situasi ini berpotensi memicu ketegangan diplomatik baru, mengingat Maroko pernah menarik duta besarnya dari Madrid setelah kunjungan kepala negara Spanyol terakhir kali pada 2007.