Panduan Waktu Terbaik Anak Mulai Tidur di Kamar Sendiri Menurut Ahli

Panduan Waktu Terbaik Anak Mulai Tidur di Kamar Sendiri Menurut Ahli
Ilustrasi anak tidur sendiri.

JAKARTA – Sebagian orang tua mungkin bertanya-tanya kapan anak sebaiknya mulai tidur di kamar sendiri. Ada yang memilih memindahkan anak setelah usianya lebih besar, sementara lainnya menunggu sampai anak benar-benar siap tidur tanpa ditemani.

Sebenarnya, tidak ada batasan usia tertentu yang secara medis mewajibkan anak untuk mulai tidur di kamar sendiri. Hal yang lebih utama adalah memastikan anak tidur dengan aman, cukup, dan nyaman.

Bagi bayi, tempat dan lokasi tidur membutuhkan perhatian khusus. Pengaturan tempat tidur yang tepat dapat membantu menurunkan risiko kematian terkait tidur.

Melansir American Academy of Pediatrics (AAP), bayi sebaiknya tidur di kamar yang sama dengan orang tua, tetapi pada tempat tidur atau permukaan tidur yang terpisah. Pengaturan ini dianjurkan minimal selama enam bulan pertama dan, jika memungkinkan, hingga berusia satu tahun.

Menurut AAP, berbagi kamar tanpa berbagi tempat tidur mampu menurunkan risiko kematian terkait tidur hingga sekitar 50 persen. Risiko tersebut berada pada tingkat paling tinggi ketika bayi masih berusia enam bulan pertama.

Oleh karena itu, bayi tidak disarankan langsung tidur di kamar terpisah sejak lahir hanya demi melatih kemandirian. Keselamatan tidur tetap harus menjadi prioritas utama pada masa ini.

Setelah melewati usia enam bulan, anak masih dianjurkan tidur sekamar dengan orang tua karena pengaturan tersebut memberikan perlindungan tambahan. AAP juga menyatakan belum ada cukup bukti untuk menentukan kapan tepatnya bayi aman dipindahkan ke kamar terpisah sebelum genap berusia satu tahun.

Setelah berusia di atas satu tahun, tidak ada rekomendasi medis yang mewajibkan anak untuk tetap tidur sekamar dengan orang tua. Artinya, keputusan untuk mulai memindahkan anak ke kamar sendiri dapat disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan masing-masing keluarga.

Orang tua dapat mulai mempertimbangkan beberapa hal, seperti apakah anak sudah merasa nyaman dengan rutinitas tidur, mampu menenangkan diri saat terbangun, serta apakah lingkungan kamar sudah aman dan mendukung waktu istirahatnya.

Ada hal lain yang kerap bercampur ketika membahas anak tidur sendiri. Tidur di kamar sendiri berbeda dengan kemampuan anak untuk tertidur tanpa ditemani oleh orang tua.

Anak mungkin sudah tidur di kamar sendiri, namun masih membutuhkan orang tua untuk membacakan cerita, menemaninya hingga mengantuk, atau menjalani rutinitas tertentu sebelum tidur. Hal tersebut tidak serta-merta menandakan anak belum siap tidur sendiri.

Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah durasi dan kualitas tidur anak. Anak membutuhkan waktu tidur yang berbeda-beda sesuai dengan usianya.

Untuk anak usia 1-2 tahun, WHO merekomendasikan waktu tidur selama 11-14 jam dalam sehari, termasuk tidur siang. Sementara itu, anak usia 3-4 tahun membutuhkan waktu istirahat sekitar 10-13 jam per hari, termasuk tidur siang.

Dengan demikian, tidak ada satu patokan usia pasti bahwa semua anak harus mulai tidur di kamar sendiri. Pada masa bayi, keselamatan tidur adalah prioritas utama. Bayi sebaiknya tidur di kamar yang sama dengan orang tua, namun di tempat tidur terpisah, terutama selama 6 bulan pertama.

Setelah anak tumbuh lebih besar, orang tua dapat mempertimbangkan kesiapan anak serta kondisi keluarga. Proses perpindahan kamar juga tidak perlu dilakukan secara mendadak. Orang tua dapat memperkenalkan kamar baru secara bertahap, misalnya dengan membangun rutinitas tidur yang konsisten dan membuat anak merasa nyaman berada di ruang tersebut.

Pada akhirnya, kapan anak mulai tidur di kamar sendiri bukan sekadar berpatokan pada usia semata. Keselamatan, kecukupan waktu tidur, kenyamanan, serta kesiapan anak merupakan pertimbangan utama sebelum orang tua mengambil keputusan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index