JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berdampingan dengan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menyelenggarakan simulasi kesiapsiagaan guna mengantisipasi bahaya pandemi baru atau Penyakit X lewat Tabletop Exercise (TTX) bertajuk Misi 100 Hari.
Misi 100 Hari hadir sebagai target ambisius tingkat dunia untuk memotong durasi pembuatan vaksin agar terwujud lebih cepat, sehingga memungkinkan langkah proteksi vaksin sejak dini guna membendung penularan penyakit yang meluas.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Jumat, menyatakan bahwa kesiapsiagaan mengantisipasi wabah wajib diposisikan sejajar dengan investasi pertahanan negara. Menurut pandangannya, rekam jejak sejarah menunjukkan bahwa penyebaran penyakit mematikan sanggup melumpuhkan warga dunia melebihi dampak pertempuran bersenjata.
“Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II. Karena itu kami harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Menkes Budi.
Melalui TTX tersebut, ia menjelaskan bahwa pemerintah menguji ketepatan serta kecepatan respons nasional pada ranah pembuatan dan manufaktur vaksin dalam tempo 100 hari seusai patogen baru ditemukan.
Para peserta menelaah skenario rekaan penyebaran Nipah-X, yakni patogen hasil mutasi yang sanggup mengakibatkan kematian dan dapat menular dari ternak ke manusia secara cepat lewat kontak fisik. Patogen ini turut digambarkan dapat menyebar antarmanusia hingga berpotensi memicu pandemi.
Agenda simulasi yang berjalan selama dua hari ini menggaet lebih dari 120 ahli dari lini kementerian/lembaga, civitas akademika, sektor industri, lembaga riset, hingga instansi regulasi.
Demi merealisasikan target 100 hari tersebut, Indonesia sedang menyatukan ekosistem deteksi dini, mulai dari perancangan alat uji cepat portabel (Point-of-Care Testing/POCT) pada layanan primer, hingga penguatan kapasitas sekuensing genom di ranah daerah.
Mempertimbangkan aspek kemandirian manufaktur, pemerintah juga merangkul produsen vaksin lokal seperti PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals supaya siap memproduksi skala besar kala ancaman pandemi merebak.
Pada momen serupa, Direktur Utama CEPI Richard Hatchett menganggap Indonesia memegang peranan krusial bagi ketahanan kesehatan kawasan. Kemajuan lini riset, produksi, serta sistem regulasi di Indonesia dinilai sangat mumpuni demi menyokong ketercapaian Misi 100 Hari.
“Indonesia adalah mitra strategis CEPI. Latihan simulasi seperti ini membantu membangun hubungan dan kesiapan operasional, serta mengidentifikasi celah yang harus ditutup agar respons terhadap wabah berikutnya bisa jauh lebih cepat,” kata Hatchett.
Di sisi lain, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar memastikan bahwasanya akselerasi penemuan vaksin darurat tidak bakal mengabaikan kriteria keselamatan pasien. BPOM kini tengah menyempurnakan skema persetujuan bersyarat demi melengkapi sistem Persetujuan Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization/EUA).
“Percepatan inovasi tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat. Percepatan tidak boleh berarti berkompromi terhadap standar tersebut,” kata Taruna.
Pelaksanaan simulasi Misi 100 Hari ini menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia setelah Korea Selatan dan Rwanda, yang mengevaluasi langsung alur respons pandeminya secara utuh bersama CEPI, mencakup aspek biosurveilans hingga alokasi logistik medis.