Ruang Multifungsi MRT Bundaran HI Rampung 2027, Capai 23,52 Persen

Ruang Multifungsi MRT Bundaran HI Rampung 2027, Capai 23,52 Persen
Rangkaian kereta moda raya terpadu (MRT) melintas di Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA — Pengerjaan fisik ruang multifungsi atau extended concourse di Stasiun MRT Bundaran HI Bank Jakarta telah mencatatkan progres sebesar 23,52% hingga Agustus 2026.

 Proyek yang mulai digulirkan sejak Februari 2026 tersebut kini tengah merampungkan sejumlah pekerjaan utama, mencakup prebooring pada muara 1 dan 2 hingga pemancangan SPP guna persiapan metode open cut.

Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendy Primartantyo menjelaskan, pembangunan ruang multifungsi beserta entre baru ini disiapkan untuk mengantisipasi potensi lonjakan penumpang saat fase 2A beroperasi mendatang.

“Penambahan ini juga merupakan bagian dari pengembangan sirkulasi bawah tanah serta membuka potensi interkoneksi dengan area komersial,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (11/9/2026).

Di samping itu, area baru yang terhubung langsung dengan Plaza Indonesia ini bakal menyediakan ruang seluas tidak kurang dari 4.400 meter persegi untuk dimanfaatkan sebagai area retail, f&b, layanan, serta kemitraan sesuai kebutuhan pengguna.

Sesuai perencanaannya, proyek ini bakal menghadirkan ruang multifungsi serta tiga entre baru, yaitu dua entre di sisi barat dan satu entre di sisi timur stasiun. 

Dua entre bakal dilengkapi tangga dan eskalator, sedangkan satu entre menggunakan elevator menuju area pejalan kaki di sisi kiri dan kanan Jalan M.H. Thamrin. Akses ke area ini nantinya juga bisa dijangkau via lift di Halte Transjakarta Bundaran HI Astra. 

Selain ruang multifungsi dan entre baru, turut dibangun suar penyejuk dan ventilasi (cooling and ventilation tower) yang ditargetkan selesai pada pertengahan 2027.

Langkah pengembangan ini ditujukan agar Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta dapat berfungsi optimal sebagai pusat kawasan berorientasi transit (transit-oriented development) yang terinterkoneksi dengan gedung-gedung di sekitarnya.

Berada di kedalaman sekitar 18 meter di bawah tanah, Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta tergolong sebagai salah satu stasiun tersibuk pada fase 1 lin utara-selatan dengan keterangkutan rata-rata 450.000 hingga 500.000 penumpang tiap bulan. Angka ini diproyeksikan melonjak saat fase 2A lin utara-selatan segmen 1 (Bundaran HI—Monas) resmi beroperasi.

Pembangunan fasilitas tambahan ini menjadi bagian dari persiapan operasional fase 2A segmen 1 hingga Monas yang ditargetkan pada akhir 2027, serta segmen hingga Kota pada akhir 2029. 

Sebelumnya, Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta Ferdiansyah Roestam menyebutkan bahwa perpanjangan rute sampai ke Kota berpotensi mendatangkan tambahan hingga 6.000 penumpang.

“Diproyeksikan akan ada pertumbuhan lebih dari 6.000 penumpang di satu stasiun. Existing sekarang 11.000 penumpang di satu stasiun. Artinya harus mengelola 17.000 orang,” ujarnya di Kantor MRT, dikutip pada Minggu (23/8/2026).

Menariknya, pengerjaan ruang multifungsi bawah tanah ini sama sekali tidak menyedot APBD DKI Jakarta maupun anggaran MRT Jakarta, melainkan mengandalkan skema pembiayaan dari dana kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

“Total kontribusi KLB Rp200 miliar, dikurang pajak sisa Rp181 miliar. Senilai Rp150 miliar untuk kontruksi dan sisanya untuk konsultan,” jelas Roestam.

Dana KLB sendiri merupakan salah satu alternatif pembiayaan kreatif yang dimanfaatkan Pemprov DKI guna mendanai sarana publik. KLB merupakan persentase perbandingan antara total luas lantai bangunan dengan luas lahan perencanaan yang dikuasai sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah, Rencana Detail Tata Ruang, dan Peraturan Zonasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index