JAKARTA - Dominasi pasar kendaraan listrik (EV) global kini menuntut kecerdasan bukan hanya dalam inovasi teknologi, tetapi juga dalam bermanuver di tengah proteksionisme perdagangan antarnegara. India, sebagai salah satu pasar otomotif dengan pertumbuhan tercepat di dunia, menjadi medan tempur baru yang menantang bagi raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD. Meski mencatatkan performa penjualan yang luar biasa, tembok regulasi kuota impor yang ketat memaksa perusahaan untuk mengubah haluan strategi dari sekadar pengirim unit jadi menjadi pemain manufaktur lokal guna menjaga momentum pertumbuhan yang sedang berada di puncaknya.
Penjualan BYD melonjak hingga 88 persen di India. Produsen asal Negeri Tirai Bambu mempertimbangkan perluasan perakitan EV lokal di India sebagai solusi jangka panjang atas tingginya minat konsumen yang tidak sebanding dengan ketersediaan stok akibat pembatasan impor. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa permintaan pasar yang masif dapat terpenuhi tanpa harus terbentur batasan jumlah unit yang masuk ke negara tersebut setiap tahunnya.
Berdasarkan laporan media dan sejumlah sumber industri, penjualan EV BYD di India tumbuh sekitar 88 persen pada 2025, dengan total sekitar 5.500 unit yang berhasil terjual. Namun, pertumbuhan ini menimbulkan tantangan tersendiri karena aturan kuota impor yang membatasi jumlah unit lengkap (completely built units/CBU) yang bisa masuk ke pasar India setiap tahun. Tekanan ini semakin terasa seiring dengan daftar tunggu konsumen yang terus memanjang di berbagai diler resmi.
Hambatan Kuota Impor dan Tingginya Tarif CBU
India memberlakukan aturan yang sangat spesifik untuk melindungi industri otomotif dalam negerinya.India memberlakukan kuota impor sebanyak 2.500 unit per model untuk kendaraan yang diimpor lengkap, sementara permintaan dari diler yang kini sudah menumpuk ratusan unit dalam daftar tunggu telah hampir melampaui batas tersebut. Kondisi persediaan kosong di tingkat retail mulai menghambat laju ekspansi yang seharusnya bisa lebih agresif.
Kombinasi batasan kuota yang beberapa titik tarif impor yang bisa mencapai lebih dari 110 persen membuat strategi pemasok BYD menjadi kurang efisien. Meskipun harga dari beberapa modelnya, seperti SUV elektrik Atto 3, tetap kompetitif dibanding dengan rival seperti Tesla di segmen harga yang sama, beban pajak yang sangat tinggi tersebut tetap membatasi ruang gerak perusahaan dalam menetapkan harga yang lebih menarik bagi segmen pasar menengah.
Transisi Menuju Perakitan Lokal Berbasis SKD
Untuk mengatasi kendala ini, BYD kini telah mengevaluasi opsi perakitan komponen setengah jadi (semi-knocked-down/SKD) di dalam negeri yang memungkinkan perusahaan mengimpor bagian mobil dan merakitnya di India. Pendekatan SKD tak hanya memungkinkan BYD mematuhi regulasi lokal lebih mudah, tetapi juga mengurangi beban tarif impor menjadi sekitar 30 persen dibanding tarif impor CBU yang jauh lebih tinggi. Penurunan tarif yang signifikan ini memberikan fleksibilitas harga lebih baik bagi konsumen lokal dan meningkatkan daya saing produk secara keseluruhan.
Perusahaan juga disebutkan sedang mengurus persyaratan sertifikasi keselamatan dan regulasi lokal bagi model tambahan yang saat ini belum mendapatkan persetujuan masuk. Ini menjadi langkah strategis untuk memperluas lini EV yang tersedia di pasar India dan memperkecil risiko kekosongan stok akibat kuota impor yang ketat. Dengan memperbanyak model yang dirakit secara lokal, BYD dapat melewati batasan 2.500 unit yang berlaku untuk kendaraan CBU.
Diversifikasi Global di Tengah Perlambatan Pasar Domestik
Langkah untuk mempertimbangkan perakitan SKD tak hanya soal mengatasi hambatan impor, tetapi juga bisa memperkuat kehadiran BYD di pasar yang menjadi salah satu pasar EV dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Hal ini menjadi krusial mengingat kondisi pasar di negara asal BYD yang mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh. Strategi ini diambil di tengah upaya diversifikasi global, karena pertumbuhan di China sendiri melambat akibat berkurangnya subsidi EV dan persaingan yang semakin ketat.
Aturan kuota dan tarif di India dikenal sangat ketat, terutama bagi kendaraan yang diimpor dalam bentuk lengkap. Kuota 2.500 unit per model membuat BYD hanya dapat memasok sebagian kecil dari permintaan yang semakin meningkat, sementara sebagian besar diler kini menemukan diri mereka dalam kondisi persediaan kosong dan daftar tunggu panjang. Tanpa adanya fasilitas perakitan lokal, BYD berisiko kehilangan pangsa pasar kepada kompetitor yang sudah lebih dulu melakukan lokalisasi produksi.
Optimisme Jangkauan Produk dan Efisiensi Biaya
Dengan permintaan yang terus semakin meningkat, namun kuota impor dan tarif yang membebani, strategi BYD untuk merakit EV secara lokal di India bisa menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan produknya. Jika terealisasi, pendekatan ini dapat membantu perusahaan menekan biaya, mempercepat pasokan, dan menyesuaikan harga dengan kebutuhan pasar India yang semakin kompetitif.
Pada akhirnya, keberhasilan BYD di India akan sangat bergantung pada seberapa cepat mereka mampu melakukan transisi manufaktur ini. Pergeseran dari model bisnis berbasis impor murni menjadi perakitan lokal bukan hanya tentang menghindari pajak, tetapi juga tentang komitmen jangka panjang BYD untuk menjadi bagian dari ekosistem industri hijau di India. Langkah ini diharapkan dapat memperkokoh posisi BYD sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik di Asia Selatan di masa depan.