Saham Asia Menguat, Nikkei Jepang Cetak Rekor Tertinggi Baru Hari Ini

Senin, 09 Februari 2026 | 13:40:28 WIB
Saham Asia Menguat, Nikkei Jepang Cetak Rekor Tertinggi Baru Hari Ini

JAKARTA - Peta kekuatan ekonomi di kawasan Asia Pasifik mengalami pergeseran sentimen yang signifikan pada awal pekan kedua Februari 2026. Fokus investor global kini tertuju pada Tokyo setelah kemenangan politik besar yang menjanjikan arah kebijakan ekonomi baru bagi Negeri Sakura tersebut. Pasar saham Asia melonjak pada Senin seiring reli kuat di Jepang setelah kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu ekspektasi kebijakan reflasi yang lebih agresif. Optimisme ini menjadi motor penggerak utama di tengah upaya pasar global mencari stabilitas pasca-gejolak pekan lalu.

Kenaikan ini bukan hanya dipicu oleh faktor domestik Jepang, melainkan juga didorong oleh suasana positif dari bursa Amerika Serikat. Sentimen investor juga membaik menyusul rebound tajam Wall Street di akhir perdagangan pekan lalu. Kombinasi antara stabilitas politik di Jepang dan pemulihan di bursa AS menciptakan landasan kuat bagi aset-aset berisiko di Asia untuk melesat lebih tinggi.

Dominasi Nikkei dan Harapan Besar pada Sanaenomics

Indeks Nikkei Jepang memimpin penguatan dengan lonjakan 4,2% ke level tertinggi sepanjang masa, seiring mayoritas kuat pemerintahan baru yang membuka jalan bagi peningkatan belanja negara dan pemangkasan pajak. Pasar bereaksi sangat positif terhadap mandat besar yang diterima PM Takaichi, yang diyakini akan mempercepat langkah-langkah stimulus fiskal. “Pemotongan pajak konsumsi untuk makanan akan berdampak positif bagi belanja domestik, sementara peningkatan anggaran militer menguntungkan saham-saham pertahanan,” kata Jamie Halse, Managing Director di Senjin Capital, Sydney.

Kepercayaan pasar terhadap apa yang mulai dijuluki sebagai "Sanaenomics" tampak sangat solid. Dengan penguasaan kursi di parlemen, pemerintah baru memiliki keleluasaan dalam mengeksekusi visi ekonominya. “Pertanyaan besarnya adalah kebijakan tambahan apa lagi yang mungkin diambil dengan mandat besar berupa mayoritas dua pertiga ini,” tambahnya. Mandat dua pertiga ini memberikan sinyal kuat bahwa reformasi struktural dan ekspansi fiskal akan berjalan tanpa hambatan berarti. “Pemilih jelas telah mendukung Sanaenomics, sehingga peluang munculnya langkah lanjutan cukup terbuka.”

Geliat Sektor Teknologi dan Pemulihan Wall Street

Tidak hanya di Jepang, tren positif ini juga merambat ke bursa-bursa utama Asia lainnya. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,0%, sementara indeks saham teknologi Korea Selatan melonjak 3,9%. Reli saham sektor semikonduktor serta aksi buru saham murah pada aset-aset momentum yang sebelumnya tertekan, termasuk perak, turut menopang sentimen. Penguatan ini juga mencerminkan keyakinan investor bahwa industri teknologi, khususnya chip, akan terus menjadi tulang punggung pertumbuhan global.

Sentimen ini diperkuat oleh pergerakan di pasar berjangka AS. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,4% dan Nasdaq futures menguat 0,6%, setelah keduanya melesat lebih dari 2% pada Jumat dan memutus rangkaian penurunan tajam. Saham-saham chip menjadi penopang utama Wall Street. Nvidia melonjak hampir 8%, Advanced Micro Devices (AMD) melesat lebih dari 8%, dan Broadcom naik sekitar 7%. Meski demikian, kekhawatiran tetap ada mengenai apakah belanja besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) benar-benar akan menghasilkan imbal balik yang sepadan. Investasi AI tetap menjadi topik hangat mengingat empat raksasa teknologi AS terbesar saja diperkirakan akan menggelontorkan belanja modal US$650 miliar tahun ini.

Data Ekonomi AS Menjadi Ujian Bagi Suku Bunga Fed

Faktor eksternal lain yang sangat diperhatikan pelaku pasar adalah arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Selain itu, pasar juga semakin bertaruh pada pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS. Pelaku pasar kini menilai pemangkasan suku bunga pada Juni sebagai skenario yang paling mungkin, dengan sederet data ekonomi AS pekan ini diperkirakan akan menjadi penentu. Agar reli pasar berlanjut, data ekonomi AS pekan ini perlu cukup moderat untuk menjaga peluang pemangkasan suku bunga, namun tidak terlalu lemah hingga mengancam konsumsi dan laba perusahaan.

Sejumlah indikator penting akan segera dirilis, termasuk data tenaga kerja dan inflasi. Nonfarm payrolls AS diperkirakan bertambah 70.000 pada Januari, dengan tingkat pengangguran berada di 4,4%. Namun, pertumbuhan tenaga kerja sepanjang 2025 juga diprediksi akan direvisi turun cukup signifikan. Penjualan ritel diperkirakan naik moderat 0,4%, sementara inflasi konsumen diproyeksikan melambat ke 2,5% pada Januari. Data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi menekan imbal hasil obligasi AS dan dolar, yang pada gilirannya dapat memberikan ruang napas lebih besar bagi pasar ekuitas.

Dinamika Mata Uang dan Ketidakpastian Politik Inggris

Di pasar valuta asing, pergerakan mata uang dipengaruhi oleh ekspektasi fiskal di Jepang. Investor telah lebih dulu menjual yen dan obligasi pemerintah Jepang (JGB) dengan mengantisipasi kebijakan ekspansif berbasis utang di bawah pemerintahan Takaichi. Dolar AS bertahan di 157,22 yen, masih di bawah puncak terbaru di 159,45. Analis menilai pergerakan menuju 160,00 kemungkinan akan memicu ancaman intervensi dari Tokyo guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Sementara itu, di Eropa, pound sterling tengah berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian politik. Euro bergerak datar di US$1,1810, sementara pound sterling tertahan di US$1,3597, dibayangi spekulasi bahwa Perdana Menteri Keir Starmer berisiko kehilangan jabatannya. Pengunduran diri kepala staf Starmer, Morgan McSweeney, menambah kekeruhan situasi. “Jika Starmer digantikan, imbal hasil obligasi Inggris kemungkinan naik dan pound melemah pada tahap awal,” kata Ruth Gregory, Wakil Kepala Ekonom Inggris di Capital Economics.

Gejolak Komoditas dan Tantangan Harga Energi

Beralih ke sektor komoditas, terjadi volatilitas yang luar biasa. Harga perak melonjak 2,4% ke US$79,82, setelah sempat jatuh 15% sebelum berbalik naik 9% pada hari Jumat. Pergerakan ekstrem tersebut dipicu tekanan likuidasi posisi leverage yang memicu margin call dan aksi jual paksa. Emas juga menunjukkan pemulihan dengan menguat 1,5% ke US$5.033 per ons troi, setelah sempat merosot hingga US$4.403 pekan lalu.

Namun, di sektor energi, tren penurunan masih berlanjut. Harga minyak masih bergerak fluktuatif seiring pasar menunggu hasil pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak Brent turun 0,8% ke US$67,52 per barel, sedangkan WTI melemah 0,7% ke US$63,09 per barel. Lemahnya harga minyak ini dipengaruhi oleh belum adanya kepastian mengenai peredaan risiko konflik militer di Timur Tengah yang terus membayangi suplai energi dunia.

Terkini