Maybank Indonesia Raih Laba Sebelum Pajak Rp933 Miliar Semester I 2026

Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:39:02 WIB
Ilustrasi Kayawati Sedang Melayani Nasbaha disalah satu cabang Maybank Indonesia.

JAKARTA — PT Bank Maybank Indonesia Tbk. mencatatkan perolehan laba sebelum pajak semester I/2026 senilai Rp933 miliar atau tumbuh 21,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Sementara itu, laba setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (Patami) tercatat Rp698 miliar atau tumbuh 21,2 persen YoY.

Kenaikan laba ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 3,9 persen secara tahunan seiring dengan menurunnya beban bunga. Net interest margin (NIM) tercatat sebesar 4,3 persen pada semester I/2026.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan capaian kinerja semester I/2026 mencerminkan pelaksanaan prioritas bank secara disiplin di tengah kenaikan suku bunga serta ditopang oleh pertumbuhan portofolio pembiayaan yang berkelanjutan.

Menurutnya, perseroan terus mengoptimalkan komposisi pendanaan sehingga biaya dana menurun, serta menerapkan pengelolaan biaya secara disiplin untuk membukukan kinerja yang solid di tengah volatilitas pasar.

"Ke depan kami akan terus mengembangkan portofolio pembiayaan di segmen korporasi dan UKM sejalan dengan strategi ROAR30 [peta jalan 5 tahunan Maybank] dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang prudent serta menjaga kualitas aset yang sehat," ujarnya dalam siaran pers, dikutip Minggu (2/8/2026).

Di sisi lain, pendapatan nonbunga turun 5,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu akibat melemahnya pendapatan bisnis Global Markets yang terdampak volatilitas pasar dan ketidakpastian geopolitik.

Namun, tekanan tersebut sebagian tertutupi oleh kenaikan pendapatan berbasis komisi sebesar 8 persen, terutama dari bisnis wealth management, pembiayaan otomotif, dan layanan perbankan ritel.

Secara keseluruhan, gross operating income meningkat 1,9 persen menjadi Rp4,64 triliun. Perseroan juga menjaga pertumbuhan biaya operasional tetap terbatas, hanya naik 0,8 persen dibandingkan semester pertama 2025.

Kondisi tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan naik 4,7 persen menjadi Rp1,29 triliun, sementara beban pencadangan turun 19 persen. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,1 persen dari 2,4 persen pada Juni 2025, sedangkan NPL net membaik menjadi 1,3 persen dari 1,5 persen.

Dari sisi intermediasi, total kredit tumbuh 3,8 persen secara tahunan menjadi Rp126,28 triliun. Pertumbuhan terutama berasal dari segmen Global Banking yang naik 5 persen menjadi Rp54,98 triliun, didorong kenaikan pembiayaan kepada korporasi lokal besar sebesar 18 persen serta Business Banking yang meningkat 24,3 persen.

Sementara itu, kredit Community Financial Services (CFS) naik 2,9 persen menjadi Rp71,30 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pembiayaan UKM sebesar 14,4 persen, pembiayaan otomotif melalui anak usaha sebesar 6,5 persen, serta bisnis kartu kredit dan kredit tanpa agunan yang meningkat 11,2 persen.

Di sisi pendanaan, strategi memperbesar dana murah mulai membuahkan hasil. Simpanan nasabah meningkat 8,2 persen menjadi Rp124,10 triliun dengan pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 22,4 persen.

Giro tumbuh 32,1 persen, sedangkan tabungan meningkat 4,8 persen. Sebaliknya, deposito berjangka turun 10,1 persen sejalan dengan strategi optimalisasi struktur pendanaan. Rasio CASA pun meningkat menjadi 63,6 persen dari sebelumnya 56,2 persen.

Total aset Maybank Indonesia hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp213,81 triliun atau tumbuh 15,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi permodalan, bank mempertahankan posisi yang kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 24,3 persen dan common equity tier 1 (CET1) sebesar 23,2 persen. Likuiditas juga tetap terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 86,6 persen, liquidity coverage ratio (LCR) 138,2 persen, serta net stable funding ratio (NSFR) 110,7 persen.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato' Sri Khairussaleh Ramli mengatakan perseroan berada pada posisi yang semakin kuat untuk menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang melalui penerapan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang disiplin.

Menurutnya, strategi ROAR30 serta integrasi entitas jasa keuangan Maybank di Indonesia akan memperkuat kemampuan perseroan menghadirkan solusi keuangan yang lebih terintegrasi bagi nasabah.

Adapun, bisnis syariah Maybank juga mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Laba sebelum pajak unit syariah naik 55,1 persen menjadi Rp488 miliar, didukung pertumbuhan pembiayaan sebesar 11,7 persen menjadi Rp32,96 triliun. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross membaik menjadi 2,2 persen dari 2,4 persen setahun sebelumnya.

Anak usaha perseroan turut mencatatkan pertumbuhan. PT Maybank Indonesia Finance membukukan kenaikan pembiayaan 25,3 persen menjadi Rp8,63 triliun dengan laba sebelum pajak naik 40 persen menjadi Rp394 miliar.

Sementara itu, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. (WOM Finance) mencatat pertumbuhan pembiayaan 6 persen menjadi Rp6,73 triliun dan laba sebelum pajak meningkat 14,8 persen menjadi Rp121 miliar.

Terkini