Pendapatan Pyridam Farma Naik 16,8 Persen pada Semester I 2026

Pendapatan Pyridam Farma Naik 16,8 Persen pada Semester I 2026
PT Pyridam Farma Tbk.

JAKARTA — PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) mencatatkan lonjakan pendapatan dua digit sekaligus sukses memangkas rugi usaha sepanjang semester I 2026.

Perbaikan kinerja tersebut didorong oleh langkah efisiensi operasional serta meningkatnya permintaan untuk layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO) di Indonesia dan Australia.

Direktur PYFA Sinta Ningsih menuturkan bahwa pemulihan operasional perusahaan terlihat jelas dari kenaikan pendapatan yang dibarengi perbaikan margin laba kotor dan penurunan rugi usaha yang sangat signifikan pada paruh pertama tahun ini.

"Ini adalah hasil dari disiplin efisiensi biaya, penguatan portofolio produk bernilai tambah tinggi, serta kontribusi layanan CDMO," ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip, Sabtu (1/8/2026).

Sepanjang semester I 2026, PYFA mengantongi pendapatan bersih Rp1,62 triliun, tumbuh 16,8 persen bila dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,39 triliun.

Kenaikan omzet ini turut mendorong laba kotor PYFA naik 27 persen menjadi Rp373,13 miliar, dengan margin laba kotor yang menguat ke angka 23 persen dari sebelumnya 21 persen pada semester I 2025.

Dalam hal profitabilitas, PYFA berhasil menekan rugi usaha hingga 99 persen, yakni dari Rp68,40 miliar pada semester I 2025 menjadi tersisa Rp0,38 miliar pada semester I 2026.

Di samping itu, rugi periode berjalan juga susut 16 persen menjadi Rp178,28 miliar dari posisi sebelumnya Rp213,20 miliar.

Sinta menjelaskan pertumbuhan pendapatan utama disokong oleh torehan positif Probiotec di Australia yang terus berkembang di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Di dalam negeri, kontribusi bisnis tercatat relatif stabil seiring penerapan restrukturisasi portofolio yang dijalankan perusahaan demi memacu profitabilitas jangka panjang.

Selain didukung penjualan, peningkatan kinerja juga lahir dari pembenahan model bisnis dan serangkaian efisiensi operasional yang berhasil menekan beban produksi.

Penguatan margin tersebut dipicu oleh penurunan biaya bahan baku lewat efisiensi pengadaan serta penyerapan biaya produksi tetap yang semakin optimal seiring bertambahnya volume penjualan.

Manajemen memproyeksikan percepatan perbaikan profitabilitas melalui peningkatan kapasitas manufaktur, termasuk rencana proyek Lini Produksi 4 usai rampungnya Lini Produksi 3 milik PT Ethica Industri Farmasi.

Capaian positif ini mencerminkan keberhasilan berbagai agenda transformasi bisnis dan program efisiensi yang telah diterapkan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas produksi, anak usaha PYFA yaitu PT Ethica Industri Farmasi telah menyelesaikan pembangunan Lini Produksi 3 yang disiapkan untuk memenuhi pasokan obat injeksi steril nasional.

Fasilitas baru tersebut diproyeksikan mampu menopang kebutuhan rumah sakit serta program kesehatan pemerintah yang terus meningkat.

Setelah Lini Produksi 3 beroperasi secara komersial, perseroan kini mengalihkan fokus pada pembangunan Lini Produksi 4 yang dirancang untuk memproduksi varian sediaan farmasi berbeda.

Langkah ini diambil untuk memperluas variasi produk sekaligus membuka potensi pertumbuhan baru bagi perusahaan ke depan.

Sinta menambahkan, PYFA ke depan bakal berfokus pada penguatan portofolio produk farmasi berlisensi tinggi, pembenahan jaringan distribusi, ekspansi kapasitas produksi, serta pengembangan bisnis kesehatan terintegrasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index