Korea Selatan Tolak Kirim Militer ke Timur Tengah, Defy Tekanan Trump

Korea Selatan Tolak Kirim Militer ke Timur Tengah, Defy Tekanan Trump

ONLINEKINI.ID — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan negaranya tidak akan mengerahkan militer ke Timur Tengah dalam bentuk apa pun yang berpotensi menyeret Seoul ke dalam konflik dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan Lee di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menuntut dukungan militer untuk operasi Washington di kawasan tersebut.

"Tidak akan ada pengerahan yang melibatkan atau memasuki perang. Saya bisa katakan itu dengan sangat jelas," ujar Lee. "Kami tidak akan mengerahkan aset militer dalam bentuk apa pun untuk tujuan tersebut."

Pintu Diplomasi untuk Jalur Pelayaran Masih Terbuka

Meski menolak keterlibatan dalam perang, Lee menyatakan pemerintahannya sedang mengkaji kemungkinan memperbesar peran dalam menjaga keamanan navigasi di kawasan. Korea Selatan saat ini memelihara kehadiran angkatan laut di lepas pantai Somalia sebagai bagian dari misi anti-pembajakan.

"Sudah jelas juga bahwa kami harus melakukan hal minimal seperti negara lain untuk melindungi pelayaran komersial dan pengiriman minyak mentah kami, serta keselamatan warga kami," kata Lee.

Pernyataan itu muncul setelah pemerintah Korea Selatan meninjau kemungkinan pengerahan militer ke Selat Hormuz. Namun, wacana tersebut tidak populer di dalam negeri dan menuai penolakan dari berbagai kalangan domestik.

Kritik Trump dan Latihan Militer Gabungan yang Dipangkas

Trump sebelumnya mengkritik Seoul karena dinilai kurang memberikan dukungan dalam perang melawan Iran. Washington juga memangkas skala latihan militer gabungan kedua negara pada musim panas, langkah yang membuat sekutu AS di Asia Timur itu resah.

Keputusan pemangkasan latihan gabungan menandai ketegangan baru dalam aliansi Seoul-Washington. Korea Selatan selama ini mengandalkan kerja sama pertahanan dengan AS sebagai pilar utama keamanan regional, terutama menghadapi ancaman Korea Utara.

Paket Investasi USD 350 Miliar dan Tarif 15 Persen

Dalam konferensi pers yang sama, Lee menyinggung perundingan dengan AS soal komitmen investasi Korea Selatan di bawah kesepakatan dagang bilateral. Ia menyebut kekhawatiran atas kelayakan komersial paket investasi sebagai titik tersendat utama.

Lee mengakui ada elemen-elemen yang sulit diterima Seoul, tetapi kedua pihak disebut semakin mendekati kesepakatan. Korea Selatan tahun lalu berkomitmen menanamkan investasi USD 350 miliar di sektor manufaktur AS sebagai imbalan penurunan tarif impor Korea menjadi 15 persen.

Pekan ini, parlemen Korea Selatan menunda penjadwalan paparan soal rencana investasi tersebut. Paparan itu diharapkan berlangsung pekan depan.

Peluang Pertemuan Trump-Kim Jong-un dalam Beberapa Bulan

Lee juga menyatakan pertemuan antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Namun, ia menekankan banyak faktor yang harus selaras agar pertemuan itu terwujud.

"Yang jelas adalah Presiden Trump ingin melakukan pembicaraan, dan saya juga menginginkannya, dan kami terus melakukan koordinasi agar dialog antara Korea Utara dan AS dapat terjadi," ujar Lee.

Media negara Korea Utara sejauh ini belum banyak menanggapi seruan Trump untuk pertemuan tersebut. The Wall Street Journal melaporkan Trump mendorong para pembantunya agar pertemuan dengan Kim bisa terlaksana secepatnya pada musim gugur.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index