Waspada, Ini Beban Ekonomi Dengue yang Mengintai Keluarga

Waspada, Ini Beban Ekonomi Dengue yang Mengintai Keluarga

ONLINEKINI.ID — Pemerintah menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030, tapi jalan menuju target itu tidak mulus. Studi terbaru Universitas Gadjah Mada menghitung beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai US$550,9 juta atau hampir Rp9 triliun sepanjang 2024, dengan lebih dari dua juta kunjungan rawat inap.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan pemerintah serius mengejar target Zero Dengue Deaths 2030. Kementerian Kesehatan tengah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026-2029 sebagai pedoman bersama.

Dokumen itu bakal memperkuat surveilans, pencegahan, deteksi dini, hingga tata laksana klinis. Kolaborasi lintas kementerian, lembaga, tenaga kesehatan, dan masyarakat jadi kunci.

"Pemerintah berkomitmen penuh mencapai Zero Dengue Deaths 2030 melalui penguatan upaya pengendalian dengue yang terintegrasi dan berkelanjutan," kata Benjamin dalam keterangan yang disampaikan KOBAR Lawan Dengue, Kamis (17/9).

Beban Ekonomi yang Sering Diabaikan

Studi Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (Pusat KPMAK) Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia menyentuh US$550,9 juta atau hampir Rp9 triliun pada 2024. Angka itu disertai estimasi lebih dari dua juta kunjungan rawat inap.

Pada pasien dengan jaminan JKN, biaya medis langsung diperkirakan sekitar Rp3 triliun. Tapi perlindungan JKN ternyata belum menghapus seluruh beban yang ditanggung keluarga.

Peneliti senior UGM Diah Ayu Puspandari menyebut pasien JKN masih mengeluarkan biaya mandiri rata-rata Rp1,09 juta hingga Rp1,33 juta per episode. Sementara pasien tanpa asuransi bisa mengeluarkan Rp4,27 juta hingga Rp5,60 juta per episode.

"Temuan kami menegaskan bahwa dengue menimbulkan beban ekonomi nasional yang besar, menyentuh sistem pembiayaan kesehatan sekaligus keuangan keluarga Indonesia," ujarnya.

Kenapa Kasus Dengue Masih Tinggi

WHO mencatat 2024 sebagai tahun dengan jumlah kasus dengue tertinggi yang pernah dilaporkan secara global. Sebagai negara tropis hiperendemis, Indonesia menghadapi risiko penularan sepanjang tahun.

Biaya di luar tagihan medis ikut membebani, mulai dari transportasi, konsumsi, akomodasi pendamping, hingga kehilangan pendapatan selama perawatan. Tekanan ini paling terasa pada keluarga berpenghasilan rendah.

Ketua KOBAR Lawan Dengue, Suir Syam, menilai dengue sebenarnya bisa dikendalikan asal semua pihak terlibat. "Dengue masih menjadi persoalan kesehatan yang serius karena setiap tahun masih merenggut nyawa, tetapi ini bukan penyakit yang tidak dapat dikendalikan," katanya.

Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus tetap jadi cara paling dasar memutus rantai penularan. Caranya: menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang yang berpotensi jadi tempat berkembangbiak nyamuk.

Pengendalian vektor juga bisa diperkuat dengan inovasi seperti teknologi Wolbachia. Penguatan surveilans, sistem peringatan dini, deteksi kasus, dan tata laksana pasien melengkapi strategi itu.

Vaksinasi dengue menjadi instrumen tambahan. Studi Center for Child Health (CCHPRO) UGM menunjukkan vaksinasi pada anak usia sekolah berpotensi jadi intervensi yang efektif dari sisi biaya.

Suir mengajak semua pihak membangun gerakan nasional melawan dengue lewat pencegahan, deteksi dini, pengendalian vektor, inovasi kesehatan, dan edukasi berkelanjutan. Pencegahan bukan sekadar menekan angka sakit, tapi juga menjaga dompet keluarga tetap aman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index