ONLINEKINI.ID — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjajaki kerja sama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal untuk melibatkan perguruan tinggi dalam pendampingan desa. Penjajakan itu mencakup skema pencocokan fakultas dan program studi dengan kebutuhan serta potensi tiap desa. Kedua kementerian akan mengeksplorasi bentuk kolaborasi lebih lanjut dalam waktu dekat.
Penjajakan tersebut disampaikan Brian dalam keterangan di Jakarta. Ia menekankan pendekatan yang digunakan adalah mencocokkan kampus dengan desa berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Skema Pendampingan Tematik Sesuai Potensi Desa
Kemdiktisaintek menyiapkan berbagai skema pendampingan perguruan tinggi yang disesuaikan dengan karakteristik desa. Pendampingan dilakukan secara tematik mengikuti potensi yang dikembangkan di tiap wilayah.
Bidang yang dicakup meliputi pertanian, peternakan, perikanan, ekonomi kreatif, hingga budaya. Dengan pendekatan itu, fakultas atau program studi yang memiliki keahlian di bidang terkait dapat terlibat langsung.
"Kita lakukan matching antara kampus dan desa, fakultas mana yang relevan untuk membantu desa. Ini kita sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa," kata Brian.
Desa Tematik Jadi Ruang Kolaborasi
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai ada peluang mempertemukan sumber daya perguruan tinggi dengan program pengembangan desa yang sudah berjalan.
Salah satu bentuk yang ditawarkan adalah pengembangan desa tematik. Program itu dinilai dapat menjadi ruang kolaborasi bagi kampus, baik dalam pendampingan maupun pengembangan pengetahuan dan inovasi.
"Program desa tematik yang sudah berjalan sangat bermanfaat, seperti desa ekspor, pendapatan masyarakat meningkat pesat," ujar Yandri.
Mahasiswa dan Dosen Terlibat Sesuai Kompetensi
Kolaborasi ini juga membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk memperkuat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Mahasiswa dan dosen dapat terlibat sesuai kompetensi masing-masing.
Desa berperan sebagai mitra dalam mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan setempat. Pengalaman pembelajaran dan penelitian pun berbasis persoalan serta potensi di lapangan.
Brian menilai kolaborasi itu diharapkan mempertemukan sumber daya dan keahlian perguruan tinggi dengan potensi desa secara lebih tepat sasaran.
Langkah Selanjutnya
Kedua kementerian akan mengeksplorasi lebih lanjut bentuk kolaborasi yang dapat mempertemukan program pengembangan desa dengan kapasitas perguruan tinggi. Sinergi tersebut diharapkan memberi manfaat bagi kedua pihak.
Selain itu, kolaborasi ini diproyeksikan memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berbasis potensi dan kebutuhan masyarakat di daerah.