Zuckerberg Tolak Seruan Perlambatan AI, Sebut Perusahaan Bisa Jaga Diri

Zuckerberg Tolak Seruan Perlambatan AI, Sebut Perusahaan Bisa Jaga Diri

ONLINEKINI.ID — CEO Meta Mark Zuckerberg menegaskan perusahaan AI tidak perlu memperlambat pengembangan teknologi secara terkoordinasi. Ia menilai persaingan pasar dan potensi tanggung jawab hukum sudah menjadi insentif cukup bagi tiap laboratorium untuk menjaga keamanan sistem masing-masing. Pernyataan ini muncul di tengah perbedaan sikap para petinggi industri AI soal cara merespons kekhawatiran risiko teknologi.

Pernyataan itu disampaikan lewat unggahan di X pada Selasa (15/9). Sikap Zuckerberg menunjukkan perbedaan pandangan di antara para petinggi industri AI soal cara merespons kekhawatiran perkembangan teknologi yang bergerak lebih cepat dibanding kemampuan perusahaan mengendalikannya.

Mengapa Zuckerberg Menolak Perlambatan Terkoordinasi

Zuckerberg menilai setiap laboratorium AI punya tanggung jawab dan insentif sendiri untuk menentukan kecepatan pengembangan agar model mereka tetap aman. Ia juga menegaskan masing-masing perusahaan mampu mengambil langkah pengamanan tanpa menunggu koordinasi industri secara luas.

Menurutnya, perusahaan AI memiliki insentif kuat mencegah model menimbulkan bahaya. Jika gagal, mereka bisa menghadapi tanggung jawab hukum yang signifikan.

Ia mencontohkan keputusan Meta menunda peluncuran agen AI Muse pada awal tahun ini untuk memperkuat keamanannya. "Kami tidak meminta semua orang melakukan hal yang sama sebelum kami melakukannya. Kami hanya melakukannya sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari karena jelas itu hal yang tepat bagi orang-orang dan bagi kami," ujarnya.

Kepercayaan dan Alignment Jadi Pembeda Model AI

Zuckerberg menilai kemampuan membangun kepercayaan dan alignment akan menjadi faktor penting yang membedakan model dan agen AI ke depan. "Kepercayaan dan alignment dengan cepat menjadi kemampuan paling penting yang akan membedakan agen dan model," kata Zuckerberg, dikutip dari Reuters.

"Laboratorium mana pun yang tidak fokus pada alignment akan tertinggal," lanjutnya.

Ia juga menyinggung usulan penggunaan evaluator independen untuk menguji sistem AI. Meta Superintelligence Labs disebutnya sudah memakai evaluator independen di beberapa area, dan praktik itu dinilainya sebagai industry best practice.

Menurut Zuckerberg, perusahaan AI lain bisa menerapkan langkah serupa tanpa menunggu kesepakatan industri.

Beda Sikap dengan Amodei, Altman, dan Musk

Pernyataan Zuckerberg muncul tiga hari setelah CEO Anthropic Dario Amodei meminta perusahaan AI memperlambat peningkatan kemampuan model. Seruan itu muncul setelah sejumlah peneliti memperingatkan risiko eksistensial dari perkembangan AI.

CEO OpenAI Sam Altman dan pemilik xAI Elon Musk kemudian secara terbuka mendukung seruan Amodei. Perbedaan utama antara Zuckerberg dan Amodei terletak pada gagasan perlambatan terkoordinasi.

Amodei sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan kemampuan recursive self-improvement, yakni kemampuan AI meningkatkan kemampuannya sendiri. Zuckerberg menyatakan Meta sudah mengalokasikan sebagian besar daya komputasinya untuk membuat produk yang melayani kebutuhan pengguna saat ini, bukan mengejar sistem AI yang dapat memperbaiki dirinya sendiri secara terus-menerus.

Pandangan Regulasi di Amerika Serikat

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengecilkan kekhawatiran terhadap potensi bahaya AI, bahkan menyebutnya sebagai hoaks. Trump mengatakan AS sudah memiliki sejumlah guardrails untuk teknologi tersebut.

Ia juga memperingatkan bahwa keraguan terhadap pengembangan AI justru bisa menguntungkan China. Pandangan bahwa regulasi berlebihan dapat menghambat daya saing perusahaan AS juga disampaikan sejumlah eksekutif teknologi, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang.

Perdebatan ini menjadi sinyal bagi pelaku industri AI global, termasuk di Indonesia, soal arah kebijakan pengembangan AI ke depan. Pilihan antara memperlambat demi keamanan atau mempercepat demi daya saing masih menjadi tarik-menarik utama di antara para pemain besar teknologi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index