Bitcoin Naik 0,67 Persen ke Rp1,34 Miliar, Investor Ritel Indonesia Diminta Cermati The Fed

Bitcoin Naik 0,67 Persen ke Rp1,34 Miliar, Investor Ritel Indonesia Diminta Cermati The Fed

ONLINEKINI.ID — Harga Bitcoin pada Rabu, 16 September 2026, menguat 0,67 persen atau sekitar Rp8,91 juta ke level Rp1.344.117.646 per koin. Kenaikan ini terjadi setelah BTC sempat tertekan 4 persen akibat kegagalan voting prosedural CLARITY Act di Senat Amerika Serikat, dan kini pasar menanti keputusan suku bunga Federal Reserve.

Harga Bitcoin pada Rabu, 16 September 2026, kembali menguat setelah sebelumnya tertekan aksi jual. Data tangkapan layar Google pukul 10.27 WIB menunjukkan 1 BTC dihargai Rp1.344.117.646, naik 0,67 persen atau setara Rp8,91 juta dibanding posisi sebelumnya.

Grafik per jam memperlihatkan BTC bergerak fluktuatif sepanjang pagi sebelum kembali mendekati level Rp1,345 miliar. Pergerakan ini terjadi di tengah pasar kripto global yang masih mencerna perkembangan regulasi Amerika Serikat.

Tekanan dari Senat AS

Reuters melaporkan Bitcoin sempat anjlok sekitar 4 persen pada 15 September 2026. Pemicunya adalah kegagalan Senat AS memajukan CLARITY Act, rancangan undang-undang yang mengatur kerangka regulasi aset kripto di Negeri Paman Sam.

Voting prosedural tersebut berakhir dengan 49 suara mendukung dan 50 menolak. CLARITY Act membutuhkan minimal 60 suara untuk bisa melanjutkan proses legislasi. Saat tekanan itu terjadi, BTC diperdagangkan di kisaran US$75.908.

Bagi investor Indonesia, regulasi AS bukan sekadar berita jauh. Kepastian hukum di pasar terbesar dunia itu kerap menentukan arah likuiditas global, termasuk aliran dana ke exchange lokal dan altcoin yang diperdagangkan di dalam negeri.

Bayang-Bayang Keputusan The Fed

Perhatian pasar kini beralih ke rapat Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026. Mengutip Reuters, pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga 25 basis poin dengan probabilitas sekitar 90 persen menjelang keputusan diumumkan.

Perubahan suku bunga AS berdampak berantai ke dolar, imbal hasil obligasi, saham, hingga aset berisiko seperti Bitcoin. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan minat investor terhadap aset spekulatif karena imbal hasil instrumen aman jadi lebih menarik.

Kurs rupiah menjadi faktor tambahan yang wajib dipantau investor dalam negeri. Pelemahan atau penguatan dolar AS terhadap rupiah langsung memengaruhi harga Bitcoin ketika dikonversi ke IDR, meski harga dalam dolar tidak bergerak.

Kenapa Harga di Google dan Exchange Bisa Beda

Angka Rp1,344 miliar yang tampil di Google adalah harga pada satu titik waktu tertentu. Harga BTC bisa berubah setiap menit, sehingga nilai yang tertera di bursa kripto bisa berbeda dengan Google atau platform lain.

Perbedaan itu wajar. Setiap platform memakai sumber data, waktu pembaruan, tingkat likuiditas, dan mekanisme perdagangan yang tidak sama. Investor sebaiknya membandingkan beberapa sumber sebelum menyimpulkan arah harga.

Selain harga harian, ada sejumlah variabel lain yang layak dicermati: harga BTC dalam dolar AS, kurs USD/IDR, arah kebijakan The Fed, perkembangan regulasi kripto AS, volume perdagangan, serta tren Bitcoin dalam beberapa periode terakhir.

Volatilitas Bitcoin memang tinggi. Harga dapat bergerak tajam dalam hitungan jam, sehingga keputusan membeli atau menjual sepenuhnya bergantung pada toleransi risiko masing-masing investor.

Yang jelas, kombinasi gagalnya CLARITY Act dan ketidakpastian suku bunga The Fed membuat pasar kripto berpotensi tetap bergerak liar dalam beberapa hari ke depan. Investor ritel Indonesia yang ingin masuk perlu memahami bahwa kenaikan 0,67 persen hari ini belum tentu berlanjut esok hari.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index