Uang Primer Tumbuh 17,1 Persen Menjadi Rp2.254,5 Triliun per Juli 2026

Jumat, 07 Agustus 2026 | 23:10:32 WIB
Ilustrasi Gedung Bank Indonesia.

JAKARTA - Bank Indonesia melaporkan posisi uang primer (M0) adjusted mencatatkan pertumbuhan sebesar 17,1 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada Juli 2026.

Berkat perkembangan positif tersebut, jumlah nominal uang primer di Tanah Air kini tercatat menyentuh angka Rp2.254,5 triliun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso memaparkan bahwa pertumbuhan 17,1 persen YoY ini terhitung lebih tinggi jika dibandingkan catatan bulan sebelumnya yang berada di level 13,8 persen YoY.

"Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,1% YoY dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,1% YoY," ungkap Denny dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).

Sementara jika ditinjau dari tren pergerakan sepanjang tahun ini, akumulasi uang primer yang disesuaikan tersebut sejatinya cenderung mengalami penyusutan.

Posisi modal ini tergerus dari semula berada di angka Rp2.367,8 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp2.254,5 triliun pada posisi Juli 2026.

Secara definisi, uang primer merupakan saldo uang kartal kertas maupun logam yang beredar di tengah masyarakat beserta simpanan giro milik bank umum di Bank Indonesia.

Adapun istilah uang primer adjusted merefleksikan dinamika uang primer yang telah mengeliminasi dampak penurunan giro bank di Bank Indonesia akibat skema insentif likuiditas.

Merujuk pada faktor penentunya, pertumbuhan uang primer adjusted telah memperhitungkan imbas dari insentif likuiditas maupun penyesuaian instrumen pengendalian moneter.

Pada kurun periode April 2026, susunan uang primer terdiri dari uang kartal senilai Rp1.301 triliun dan giro bank umum di BI adjusted yang berada pada angka Rp887,4 triliun.

Komponen tersebut juga mencakup giro sektor swasta di BI senilai Rp7,6 triliun, serta instrumen surat berharga terbitan BI yang dipegang pihak swasta sebesar Rp36 triliun.

Portofolio surat berharga ini melingkupi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), hingga Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) yang dimiliki oleh sektor swasta.

Terkini