Produksi Batu Bara Naik, Laba ABMM Tembus Rp714,17 Miliar

Jumat, 07 Agustus 2026 | 01:06:02 WIB
Jajaran direksi PT ABM Investama Tbk. (ABMM) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT ABM Investama Tbk. (ABMM) berhasil mempertahankan kinerja solid sepanjang semester I/2026 di tengah gejolak industri pertambangan dan melambungnya harga bahan bakar akibat dinamika geopolitik global.

Akselerasi produksi batu bara, utamanya dari area konsesi tambang di Aceh, tampil sebagai pendorong utama penguatan profitabilitas perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, perseroan berkode saham ABMM ini mengantongi pendapatan sebesar US$506,2 juta atau setara Rp9,06 triliun (mengacu kurs JISDOR Rp17.899 per dolar AS). Perolehan omzet tersebut turun tipis 0,1% jika dibandingkan posisi US$506,9 juta pada periode setara tahun lalu.

Kendati pergerakan pendapatan relatif datar, ABM sanggup membukukan laba bersih hingga US$39,9 juta atau sekitar Rp714,17 miliar, melesat 41,9% secara tahunan (*year on year*/YoY). Di sisi lain, EBITDA disesuaikan (LTM) terangkat 6,4% YoY menuju angka US$346,9 juta.

Direktur ABM Investama Hans Manoe menyampaikan bahwa penguatan profitabilitas pada paruh pertama tahun ini bersumber dari keberhasilan memacu volume produksi tambang batu bara serta stabilisasi operasional di sektor kontraktor pertambangan.

"Perseroan berhasil mencatatkan peningkatan profitabilitas pada periode ini yang didorong oleh keberhasilan peningkatan produksi operasi tambang batu bara dan stabilisasi bisnis kontraktor pertambangan," ujarnya dalam keterangan resminya yang dikutip, Jumat (7/8/2026).

Dia melanjutkan, walau peta industri masih dihantam pelbagai kendala, pergerakan harga batu bara yang relatif kondusif membuka peluang bagi perseroan untuk menangkap momentum lewat keunggulan operasional.

Selama paruh pertama tahun ini, volume coal getting perseroan tumbuh 14,2% YoY menjadi 17,9 juta ton, terutamanya ditopang oleh eskalasi produksi di salah satu area operasional Kalimantan Selatan. Sementara itu, volume overburden removal menyusut 12,6% YoY ke posisi 98,0 juta bcm pada 1H26.

"Operasi pertambangan batu bara perseroan di Aceh terus mengalami peningkatan produksi yang menghasilkan kenaikan volume penjualan secara kuartalan, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan profitabilitas di berbagai unit usaha dalam rantai nilai pertambangan," imbuhnya.

Di luar sektor pertambangan, divisi logistik juga menunjukkan capaian positif. Salah satu entitas anak ABM berhasil mengamankan kesepakatan kontrak jasa logistik jangka panjang dari konsumen kategori A-list, yang dinilai bakal memperkuat ketahanan operasional sekaligus memperluas diversifikasi pundi pendapatan perseroan.

Menyongsong semester II/2026, ABM memproyeksikan tren lonjakan produksi dari fasilitas tambang di Aceh akan terus berlanjut. Perseroan pun tengah merampungkan tahapan perizinan untuk aset tambang batu bara baru kepunyaan PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah yang ditargetkan tuntas pada penghujung tahun ini.

Ke depan, portofolio aset baru tersebut diharapkan mampu memperluas basis kapasitas produksi sekaligus memperkokoh ekosistem rantai nilai pertambangan terintegrasi milik perseroan.

Pada saat bersamaan, ABM konsisten menerapkan strategi diversifikasi secara selektif dengan mengembangkan lini bisnis non-batu bara yang relevan dengan bisnis inti, termasuk memperluas jangkauan portofolio jasa logistik.

"Kami tetap fokus memperkuat ekosistem bisnis melalui perolehan kontrak-kontrak strategis pada segmen logistik, dengan tetap memperhatikan kepatuhan terhadap dinamika regulasi dan menjalankan strategi secara disiplin guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan," terangnya.

Terkini