Sering Melamun Lupa Waktu, Ini Penjelasan Psikolog Kapan Jadi Masalah

Jumat, 07 Agustus 2026 | 01:49:31 WIB
Ilustrasi Seorang Pria Sedang Melamun.

JAKARTA - Melamun merupakan aktivitas yang jamak dilakukan oleh banyak orang.

Ketika sedang menunggu, dilanda rasa bosan, atau jeda sejenak dari kesibukan harian, seseorang bisa saja membiarkan pikirannya berkelana serta membayangkan bermacam hal.

Dalam batas yang wajar, kebiasaan melamun bukan merupakan hal yang perlu dikhawatirkan.

Aktivitas ini bahkan sanggup menjadi bagian penting dari proses berpikir dan pengembangan imajinasi.

Namun, bagaimana bila seseorang justru terlalu terlarut dalam imajinasi hingga payah untuk kembali fokus pada kehidupan riil?

Fenomena inilah yang di dalam sederet studi medis dinamakan sebagai istilah maladaptive daydreaming.

Berbeda dari sekadar melamun biasa, kondisi ini ditandai oleh lamunan yang teramat menyerap konsentrasi, sulit dikontrol, serta berpotensi merusak dinamika kegiatan harian.

Ketika melamun mulai mengganggu.

Riset yang dipublikasikan oleh Amy Lucas beserta Alexandra Bone dari Middlesex University pada 2025 menggambarkan maladaptive daydreaming sebagai lingkaran keterlarutan yang kompulsif di dalam fantasi pikiran hingga memicu beban psikologis dan gangguan fungsi harian.

Dikutip dari Psychology Today, kajian tersebut menekankan bahwa titik masalahnya bukan semata-mata pada substansi khayalan seseorang.

Hal yang paling esensial adalah seberapa dominan aktivitas melamun tersebut mengambil alih irama kehidupan nyata sehari-hari.

Seseorang mungkin membayangkan realitas yang berbeda, jalinan hubungan yang ideal, capaian prestasi tertentu, atau figur dirinya yang dipandang lebih sempurna.

Dunia fantasi tersebut dapat menyuntikkan rasa nyaman, percaya diri, penerimaan, hingga kebahagiaan untuk sementara waktu.

Persoalan baru muncul sewaktu seseorang kian sering menjatuhkan pilihan untuk berdiam di dunia imajinasi dan kewalahan untuk kembali mengurusi aktivitas riil.

Sebagai contoh, alokasi waktu yang semestinya dipakai untuk belajar, bekerja, bersosialisasi, atau menuntaskan tanggung jawab justru habis terbuang demi melamun.

Tidak sama dengan sekadar suka berimajinasi.

Penting untuk memilah antara individu yang memiliki daya imajinasi aktif dengan kondisi tatkala lamunan telah merusak fungsionalitas harian.

Orang yang mengidap maladaptive daydreaming bakal merasakan kesulitan menghentikan lamunannya, sekalipun mereka menyadari bahwa kebiasaan tersebut membuat mereka membuang waktu atau tertinggal dalam kehidupan nyata.

Munculnya perasaan bersalah, malu, frustrasi, sampai ketidakpuasan pada alur hidup harian juga rentan membayangi.

Salah satu gambaran yang diulas dalam kajian riset tersebut yakni seseorang yang kerap membandingkan figur dirinya dengan gambaran ideal dirinya di dalam khayalan.

Fantasi menyuguhkan visualisasi kehidupan yang diidamkan, namun pada saat bersamaan sanggup membikin realitas nyata terasa kian mengecewakan.

Mengapa seseorang bisa larut dalam fantasi?

Lamunan yang begitu pekat juga dapat terikat dengan kondisi emosi serta situasi tertentu.

Dalam konsep rancangan Lucas dan Bone, sederet faktor pemicu mencakup penundaan pekerjaan, rasa cemas akan masa depan, krisis kepercayaan diri, dinamika interaksi sosial, hingga tabiat membandingkan diri dengan orang lain.

Dunia fantasi lantas hadir sebagai semacam ruang pelarian yang instan.

Di dalamnya, seseorang mampu merasakan sensasi penerimaan, keterikatan sosial, pencapaian, serta rasa percaya diri yang sulit direnggut dalam realitas harian.

Lantaran menyajikan kepuasan emosional yang menyenangkan, seseorang dapat terdorong untuk terus-menerus kembali masuk ke dalam alam fantasinya.

Kapan perlu mulai diperhatikan?

Tidak ada alasan untuk mencap setiap orang yang hobi melamun pasti mengidap maladaptive daydreaming.

Hal terpenting yang patut dicermati adalah kadar dampaknya terhadap ritme kehidupan harian.

Sederet poin yang dapat dijadikan bahan renungan pribadi antara lain: apakah seseorang lebih memilih melamun dibanding berinteraksi dengan sesama?

Apakah pengerjaan tugas atau agenda pekerjaan mendadak terbengkalai akibat terlalu larut dalam khayalan?

Apakah timbul sensasi tertekan ketika dipaksa kembali menyikapi kehidupan nyata?

Serta yang paling krusial, apakah seseorang merasa begitu kesulitan dalam mengendalikan kebiasaan melamun tersebut?

Bila aktivitas melamun terbukti sudah mendatangkan kendala nyata pada sektor pekerjaan, akademik, hubungan sosial, maupun aktivitas harian, ada baiknya kondisi tersebut segera dikonsultasikan bersama tenaga profesional kesehatan mental.

Terkini